Tektok Bandara

[Bus Trip] Gambir – Soetta – Depok

Jum’at, 27 Januari 2017

Libur loong weekend menjadi sesuatu yang dinanti banyak orang. Selain bisa berkumpul dengan keluarga, sebagian orang memanfaatkan waktu tersebut untuk pergi keluar kota. Tapi bagaimana jadinya jika liburan tersebut harus bentrok dengan kegiatan lain ?. Itulah yang terjadi padaku. Niat untuk pergi touring keluar kota menjajal bus-bus yang belum pernah kunaiki, terpaksa harus kutunda. Keinginan dalam hati sudah menggebu-gebu sebenarnya. Tapi yasudah lah, memang belum waktunya mungkin.

Demi menghibur diriku yang galau ini. Ku buat ide untuk touring tipis-tipis saja. Touring jarak dekat sebelum aku pulang ke rumahku di daerah Cimanggis, Depok. Sempat aku berpikir armada apa yang kunaiki menuju ke sana. Apalagi hari sudah malam begini, pasti pilihannya tidak sebanyak di siang hari. Sempat terpikir sebuah ide untuk mencoba bus bandara. Menurut ku menarik sepertinya. Apalagi sekarang pilihannya makin beragam.

Mungkin terdengar konyol bagi sebagian orang. Jauh-jauh pergi ke bandara lalu balik lagi hanya mau mencoba busnya. Tapi inilah hobi, bagiku tidak ada yang sia-sia selama itu masih positif. Bukan tentang uang, tapi pengalaman yang akan kita dapatkan mungkin akan lebih berharga daripada uang.

Pukul 19:00 waktu itu. Saat kubawa diri ini pergi melangkah meninggalkan kosan di daerah Grogol, Jakarta Barat. Sambil diiringi rintik hujan, langkahku terhenti disebuah gerobak soto tepat dipinggir halte RS. Sumber Waras untuk menunaikan makan malam. Rp 15.000 saja kutukar uang dengan semangkuk soto dan sepiring nasi.

Setelah urusan makan malam selesai. Aku langsung menuju halte busway Sumber Waras sebelum nantinya transit di halte Harmoni dan mengakhiri perjalanan di halte Gambir dengan menaiki busway jurusan Pulogadung.

Hiruk pikuk keramaian para penglaju kereta api menyambut kedatanganku ketika sampai di stasiun Gambir. Ah, rasanya ingin sekali menjadi bagian dari mereka.

Ku teruskan langkahku menuju parkiran bus Damri tepat di sisi barat stasiun. Sebelumnya karena pertama kali, sempat dibingungkan dengan sistem pembayarannya. Tapi setelah bertanya pada salah satu kru ternyata pembayarannya semua dilakukan “on the bus”, kecuali untuk Damri AKAP tujuan Lampung yang memang harus pesan tiket dulu di loket.

Pukul 20:30 bus dijalankan. Hanya berisi sekitar 7 orang penumpang termasuk aku. Duduk di baris ke 5 kursi berkonfigurasi 2-2 itu ku sandarkan tubuh ini.

“Pesawatnya apa mas ?” Ujar si kondektur sembari memberi tiket.

“Terminal 3 mas”

“Owh pesawat Garuda ya ?”

“Iya”

Sebenarnya aku menjawab begitu hanya gimmick saja biar diturunkan di terminal tujuanku. Aku juga tidak tau ada pesawat Garuda Indonesia di terminal 3. Padahal mah jangankan ke bandara, naik pesawat saja belum pernah.

Pembawaan sang driver yang mosak-masik. Membuat perjalanan terasa cepat. Tak terasa pukul 21:16 sudah sampai di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta. Terminal bandara yang baru saja direnovasi, dan digadang-gadang menjadi yang terbesar di Asean.

Aku tidak ingin berlama-lama disini. Takut kemalaman sampai rumah. Akupun mencari halte bus bandara untuk perjalanan pulang. Ternyata letaknya persis ada di lantai bawah dari tempat turun tadi. Harus menggunakan lift untuk sampai ke sana.

Kulihat sudah banyak orang berkumpul dibawah. Tujuan mereka semua sama. Yaitu pulang. Aku membaur bersama mereka. Menunggu bus menuju Depok itu disana. Bus bandara dari sini masih akan terus ada sampai pukul 00:00 dinihari. Dengan tujuan beragam ke berbagai tempat di Jabodetabek & Serang.

Tampak Damri Ultiman

Setelah 15 menit menunggu. Yang dinanti pun datang. Bus berbody SHD (Super High Deck) berinisial Hiba Utama itu datang dengan muatan yang tampaknya penuh. Tapi kucoba naik sambil berharap dapat tempat duduk. Syukur masih dapat. Dan letaknya tidak terlalu tengah. 2C nomor bangku itu. Bangku bermerek Aldilla yang empuk untuk diduduki.

Hiba Utama APM bandara

Ternyata perjalanan pulang tak sesuai ekspetasi seperti perjalanan berangkat tadi. Kami harus berkutat dengan kemacetan yang menghadang semenjak memasuki gerbang tol Kapuk. Keadaan libur panjang seperti ini membuat para pengguna jalan harus bersabar sedikit. Untungnya kenyaman di dalam kabin bus ini membuat kami bisa menikmati perjalanan.

Alhasil, pukul 23:55 sampailah aku di exit tol Cijago. Tujuan terakhirku. Aku turun dari sini bersama beberapa penumpang lain.

Saksi bisu perjalanan

==================================

Gambir – Soetta

  • Damri Bandara
  • Executive (2-2) Toilet
  • 42 Seat + Smooking Room
  • Tarif : Rp 40.000
  • Start : 20:30
  • Finish : 21:16
  • GT Karoseri Morodadi Prima
  • Mercedes-Benz OH 1526 / OM

Soetta – Depok

  • Hiba Utama APM
  • Executive Class (2-2) Toilet
  • Tarif : Rp 60.000
  • Start : 22:10
  • Finish : 23:55 (Gasalam)
  • New Setra Jetbus SHD Karoseri Adiputro
  • Hino RK R260

Murah, tapi tidak murahan

[Bus Trip] Yogya – Bogor

11 September, 2016

Hari masih pagi ketika aku menjejakan kaki di Yogya. Ini pertama kalinya aku kesini. Kota yang selalu menjadi perbincangan orang dengan sejuta budaya dan keramahan orang-orangnya.

Sebelumnya kami melakukan perjalanan ke Kudus dari Jakarta menggunakan Po. New Shantika, lalu disambung bus Patas Nusantara menuju Yogya paginya. Perjalanan sekitar 3 jam dari Kudus itu akhirnya mengantarkan kami sampai diterminal Jombor. Kami pikir akan melanjutkan dengan Trans Jogja menuju terminal Giwangan, tapi ternyata PO Nusantara ini menyiapkan Shuttle jika ingin melanjutkan perjalanan ke sana.

Pukul 9:10

Sampailah kami di terminal Giwangan. Tidak sampai 1 jam perjalanan dari terminal Jombor tadi. Disini, kami langsung menuju agen Putera Mulya yang terletak di lantai 2 untuk mengambil tiket pulang menuju Bogor nanti sore.

Kami sebenarnya harap-harap cemas disini. Masih menebak armada apa yang nanti akan mengantar kami. Takut jika kembali mendapat bus tidak sesuai dengan keinginan kami seperti awal berangkat dari Lebakbulus. Beberapa kali sempat mencari info di grup Facebook dan bertanya-tanya, hanya memastikan bahwa bukan armada zonk yang kami dapat.

Agen Putera Mulya terminal Giwangan

Setelah urusan transaksi selesai, kami berkeliling sebentar di terminal Giwangan ini sekedar melihat-lihat bis yang lalu lalang pagi itu.

Karena hari masih cukup pagi dan waktu berangkat pun masih lama. Kami sempatkan berkeliling di Malioboro. Sekedar memanfaatkan waktu mumpung masih di kota ini.

Kami juga sempat bertemu dengan Bayu rekan BisMania Jakarta Raya yang juga kebetulan touring hari itu, kami hanya berbincang sebentar karena ia harus melanjutkan perjalanannya menuju Solo.

Pukul 13:00

Singkat cerita, setelah puas berkeliling Malioboro kami kembali ke terminal Giwangan. Karena bus akan berangkat pukul 14:30 nanti.

Setelah sampai sana, kami sempatkan istirahat di ruang tunggu dan makan siang di kantin terminal yang terletak di lantai bawah. Ada cukup banyak warung makan yang tersedia termasuk tempat oleh-oleh.

Pukul 14:00

Terdengar arahan dari petugas agen untuk segera berkumpul di bawah, karena bus sebentar lagi akan datang.

Tak lama, datanglah benda besar berkelir merah memasuki terminal. Itulah bus yang kami naiki. Putera Mulya berbody Maxibus XHD dengan chassis O500R yang terlihat menawan. Kami bersorak kegirangan. Akhirnya bisa mendapatkan armada sesuai harapan.

Pukul 14:35

Bus diberangkatkan, ada sekitar 8 orang kalau tidak salah yang naik dari sini termasuk kami. Dengan driver pinggir mas Rofiq.

Pertama kali masuk ke dalam kabin bus ini, entah kenapa aku langsung suka dengan view di kaca depan. Tanpa adanya penghalang “ala-ala” bando kekinian itu membuat pandangan sangat luas. Apalagi didukung juga dengan chassis premium Mercedes-benz O500R 1836 bersuspensi menambah kenyamanan perjalanan kali ini. Di bus ini juga tersedia USB Charger pada setiap baris tempat duduk, yang memudahkan penumpang mencharger gadgetnya selama perjalanan. Untuk interiornya sendiri, bus ini terdiri dari 40 seat Aldilla + 5 seat di Smooking area dengan pijakan kaki serta selimut dan bantal. Toilet juga tersedia di bus ini. Cocok dengan harga Rp 135.000.

Selama perjalanan menuju Bogor bus ini melewati jalur selatan via Cipali. Sempat beberapa kali singgah ke agen dan terminal untuk menaikan penumpang. Kontur jalur selatan yang sedikit meliuk-liuk seakan mengingatkanku dengan kampung halaman. Suasanannya tidak jauh berbeda. Sawah, rumah, jalanan, bahkan bahasa komunikasi juga masih sama. Berharap sebenarnya semoga bus ini melewati kampungku. Sekedar pengobat rasa rindu ini.

Melewati Garasi bus Sumber Alam Kutoarjo

Waktu mulai maghrib ketika kami memasuki terminal kebumen. Hmm, lama juga ya perjalanan yogya-kebumen ini. Tak seperti ku duga sebelumnya.

Bicara soal Kebumen. Terakhir kali kesini mungkin sekitar 13 tahun lalu. Saat itu menjadi perjalanan terjauhku naik bus. Tidak sendiri sih, waktu itu bersama keluarga untuk menghadiri acara salah satu pesantren. Tapi masih jelas teringat bagaimana perjalanan waktu itu. Terutama naik busnya. Walaupun sekarang sudah bisa kemana-mana sendiri, tapi kenangannya tak pernah hilang.

Pukul 20:00

Bus ku berhenti disebuah rumah makan. Penanda bagi kami semua untuk istirahat. Aku turun. Untuk kelas patas ini memang tidak dapat makan. Jadi kami pesan semangkuk bakso saja sebagai pengganjal perut agar tidak berteriak. Murah cuma Rp 5.000 saja per mangkuk.

Suara gema takbir berkumandang diluar. Membuat damai ditelinga.Besok hari raya kurban. Ah, aku kembali teringat kampungku. Suasanannya benar-benar membuat aku ingin pulang kampung.

Keluar rumah makan. Dan menghirup udara dingin sekitar. Membuatku tenang sejenak. Ku lihat gps, ternyata masih di daerah Wangon. Tinggal lurus sedikit ke utara menuju Tegal, lalu masuk tol maka sampailah di Jakarta. Tapi perjalanan tidak secepat yang kubayangkan. Aku masih ingin berlama-lama disini. Kalaupun boleh, menginap semalam saja disini lalu besok pagi dilanjutkan kembali perjalanan. Andai boleh, tapi pasti banyak yang protes. Karena penumpangnya bukan aku saja. Busnya juga bukan punyaku.

Bus kembali dijalankan 30 menit setelah pengeras suara berbunyi menyuruh kami masuk ke dalam bus untuk bersiap. Setelah rumah makan kontur jalan lebih berkelok dari sebelumnya. Kami dapati banyak sekali berpapasan dengan bus sinar jaya, murni jaya, dan pemain selatan lain yang agak lupa namanya ku ingat.

Jalanan cukup ramai malam itu walau sedikit gelap. Terkadang sebentar-sebentar juga macet karena perlintasan kereta api. Momen takbiran membuat banyak masyarakat juga anak-anak keluar malam itu, sekedar menghidupkan malam takbir. Gema takbir juga masih kudengar dari dalam bus. Terasa seperti suasana mudik lebaran.

Sekitar pukul 22:00 malam. Bus sudah memasuki Tegal tinggal sedikit lagi akan memasuki tol Pejagan. Tapi aku tertidur disini. Efek kelelahan karena setengah hari berkeliling Yogya. Andai aku terjga, mungkin aku bisa menyaksikan power si o500R ini berlari menyusuri jalan bebas hambatan.

Aku terbangun ketika sudah di tol Bekasi arah Jakarta. Hmm lama juga tidurku. Mungkin karena terbuai nikmat si O500R ini. Bus dibelokan kekiri keluar Jatiwarna karena ada penumpang yang turun. Singgasana driver kembali dipegang oleh mas Rofiq. Nah, hal lucu terjadi disini. Mungkin karena baru bangun. Mas Rofiq kebingungan karena tidak tahu dimana saat ini ia berada. Akibatnya bus kami nyasar ke pondok gede. Beruntung ada salah satu penumpang yang hafal daerah sini, akhirnya memberi pengarahan kepada mas Rofiq untuk diteruskan saja ke arah Pinang Ranti biar nanti keluar di pasar induk Kramat Jati.

Kami akhirnya turun ketika bus memasuki Pasar Rebo. Pukul 3.00 dini hari waktu itu. Sebenarnya tujuanku di Cimanggis dan masih agak jauh. Tapi karena harus mengantar kawanku yang akan melanjutkan perjalanannya ke Serang dari sini maka akupun turun untuk mengantar. Aku yakin sudah banyak bus menuju sana di pagi ini.

Kami akhirnya berpamitan, setelah bus Primajasa tujuan Merak datang menghampiri kami. Lalu kami pun berpisah menuju tujuannya masing-masing.

==================================

PO Putera Mulya

  • AD 1709 AF
  • P11 (Esslingen)
  • Klaten – Yogyakarta – Bogor (Bubulak)
  • Patas (2-2) Toilet
  • + Smooking Room
  • Tarif : Rp 135.000 non service makan
  • Start : 14:40 (Yogyakarta)
  • Istirahat : 20:30
  • Finish : 3:45 (Ps. rebo)
  • Maxibus XHD Karoseri Laksana
  • Mercedes-Benz O500R 1836 Air Suspension

Kenikmatan Kasur Berjalan

[Bus Trip] Jakarta – Solo

Berawal dari obrolan singkat di WhatsApp. Tentang sebuah rencana perjalanan di akhir tahun. Sebuah perjalanan spesial bisa dibilang, karena kami menggunakan bus tingkat dari PO Putera Mulya. Bus tingkat pertama di pulau Jawa yang digunakan sebagai armada AKAP. Sebuah kemajuan dalam transportasi Indonesia, karena berani membuat gebrakan seperti ini. Walaupun sebenarnya agak tertinggal dari daerah lain di Indonesia yang jauh lebih dulu menggunakan bus tingkat sebagai armada jarak jauh.

Nah, kehadiran bus tingkat ini membuat kami penasaran untuk mencobanya. Setelah melewati diskusi kusut, kami sepakat menaiki bus ini dari Wonogiri menuju Jakarta. Adapun untuk armada berangkat, aku dan temanku yang lain memutuskan untuk naik armada yang berbeda. Dikarenakan pekerjaan kantor yang tak bisa membuat aku berangkat bareng mereka.

Aku akhirnya memilih PO Raya menuju Solo untuk armada berangkat. Mengapa sampai Solo ? karena disanalah kami janjian akan bertemu. Lagipula di Solo kami bisa memilih Terminal Tirtonadi yang nyaman sebagai tempat Istirahat sejenak.

Sabtu, 31 Desember 2016 

Hari terakhir di 2016. Untung pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak, jadi bisa simpan tenaga untuk nanti malam.

Pukul 15:40 aku berangkat dari kantor menuju terminal Pulogebang. Jalanan mulai ramai oleh orang yang akan bersiap tahun baruan. Tepat pukul 17:00 sampailah aku di terminal, bukan agen yang langsung kutuju tapi kantin. Rupanya, urusan perut lebih penting dari segalanya.

Aku iseng menanyakan temanku yang 2 jam lebih dulu berangkat dari terminal ini juga, dengan naik bus tingkat Putera Mulya. Tadinya mereka mau naik kelas Big Top dari PO Putera Mulya. Kelas yang juga diluncurkan bersamaan dengan bus tingkatnya minggu lalu. Tapi ternyata jadwalnya sedang dari timur, jadinya mereka naik bus tingkat saja ke Solo.

Selesai makan. Aku langsung menuju tempat pemberangkatan bus di lantai 3. Bagi yang pertama kali kesini mungkin akan sedikit bingung dengan lokasinya yang luas. Namun beberapa rambu penunjuk yang terpasang cukup memberikan arahan kepada calon penumpang.

Sampai di tempat pemberangkatan, sudah terparkir beberapa bus yang akan berangkat sore itu, rata-rata jurusan Jawa Tengah. Aku langsung menuju ke jalur dimana bus ku berada. Bus berbody Nucleus dari Laksana dengan model kaca belah dan berchassis OH 1521, seolah membuat nostalgia. Bagaimana tidak, terakhir naik bus seperti ini mungkin 13 tahun lalu. Salut kepada PO. Raya yang masih mempertahankan body lawas ditengah persaingan model kekinian.

Bus sempat molor 30 menit dari jadwal karena sempat sedikit kurang komunikasi dengan penumpang. Setelah semua selesai. Bus dijalankan keluar dari jalur dan meninggalkan terminal. Tepat pukul 19:00.

Aku akui perawatan dari bus Raya ini sangat baik. Terbukti walaupun bermesin tua, namun minim sekali bunyi “kriyet-kriyet” seperti bus lawas kebanyakan. Suara kabin pun senyap, tak terdengar bunyi gemlodak di bodynya. Sangat asik mendengar bunyi deru mesin khas cooler yang halus dari dalam.

Suasana langsung disambut hujan deras begitu masuk Cipali. Suasana seperti ini yang membuat syahdu. Wiper depan yang terlihat bergerak berlawanan. Menyapu hujan membelah kaca. Kabin yang senyap sebenarnya akan bagus bila dipakai tidur. Tapi menurutku sayang jika dilewatkan begitu saja.

Ketika berada di tol Cipali daerah Sumedang, bus diarahkan keluar tol. Aku kira akan melewati Pantura lama menuju Subang Cirebon. Ternyata menuju rumah makan. Pertanda service makan pertama. Bertempat di RM Indorasa 2. Tempat dimana bua Handoyo juga menyediakan service makannya disini.
Tempatnya teratur juga nyaman. Seperti belum lama dibangun. Sebanding dengan rasa masakan yang disajikan.

Menu service makan RM Indorasa 2

Setengah jam disini. Bus akhirnya dijalankan kembali. Menyusuri jalannan yang sama saat tadi keluar tol. Cuaca juga masih hujan saat itu. Tapi tidak sederas tadi.

Aku tak tahu persis jam berapa keluar Pejagan. Karena tertidur. Bangun sudah di daerah Pekalongan kalau tidak salah ingat. Tidak ada yang menarik dijalan. Lawan juga tidak ada.

Akhirnya pukul 2 malam bus kembali istirahat. Di rumah makan daerah Kendal. Hanya berhenti istirahat saja. Menjadi momen bagi sang driver untuk mengisi kembali tenaganya. Maklum beliau membawa bus ini seorang diri dan hanya ditemani kondektur.

Istirahat kedua di RM Gemar Ikan Kendal

Pukul 2:40 bus dijalankan. Karena kantuk yang masih tanggung. Aku kembali melanjutkan tidur. Terbangun ketika memasuki Semarang. Bus dibelokan ke kanan menuju tol Bawen. Disini hanya ditemani Pahala Kencana dan sebuah bus pariwisata. Bus ku berjalan santai sehingga membuat kedua bus tersebut jauh menghilang beriringan di depan.

Sepanjang perjalan ini sebelum sampai Solo. Aku hanya mengamati jalan. Menerka dan mengamati keadaan pagi buta itu. Beberapa penumpang turun ketika memasuki terminal Boyolali. Sampai akhirnya subuh hari menyambutku di Solo, Terminal Tirtonadi. Aku turun disini bersama sisa penumpang.

Wahai Raya. Terima kasih atas kursi empuknya, membuat aku cukup puas tertidur selama dijalan. Sungguh, jika ada kesempatan harus naik kamu lagi.

==================================

Jakarta – Solo

  • PO Raya
  • AD 1630 BG
  • Seri R
  • Exe 24
  • Jakarta (Pulogebang) – Solo (Tirtonadi)
  • Executive Class (2-2) Toilet
  • 24 Seat (ex Garuda Indonesia Trijet)
  • Tarif : Rp 235.000 termasuk service makan + snack
  • Start : 18:55 (Jakarta)
  • Service makan : 21:05 (RM Indorasa 2 Subang)
  • Istirahat : 2:30 (RM Gemar Ikan Kendal)
  • Finish : 5:00 (Solo)
  • Nucleus 3 Karoseri Laksana
  • Mercedes-Benz OH 1521 / OM 366 LA II

Budiman Best In Class, armada premium termurah di kelasnya.

[Bus Trip] Tasikmalaya – Jakarta

Budiman BT02 (Best In Class)

Minggu, 9 Oktober 2016

Pagi itu, setelah dari Banjar (sebelumnya kami melakukan perjalanan dari Jakarta ke Banjar menggunakan bus Budiman) kami langsung menuju Pool PO. Budiman yang berada di Tasikmalaya, Jawa Barat. Karena pada pagi itu juga, kami akan kembali ke Jakarta dengan PO yang sama. Tapi ada yang berbeda, karena kami memesan kelas tertinggi yang dimiliki PO Budiman yaitu Best In Class.

Beberapa bis terutama BCB terlihat memasuki area terminal seperti jurusan Sukabumi, Depok, Bandung, dan Jakarta.

Kami awalnya berniat melakukan perjalanan ke pool Tasikmalaya dengan salah satu bus tersebut namun mengingat kalau harus bayar full agak sayang, padahal saya sangat tergoda dengan kuler dan stir tampah khas dari BCB jurusan Sukabumi. Namun apadaya, kami beralih ke bus 3/4 jurusan Tasikmalaya.

Pukul 6:40. Bus 3/4—yang saya lupa namanya—berangkat dengan jumlah penumpang sekitar 15 orang. Ini pertama kalinya saya naik bus ukuran 3/4 melewati jalur Banjar – Ciamis – Tasikmalaya karena sebelumnya selalu dengan Big Bus. Indahnya pemandangan sekitar digabungkan dengan laju bus yang banter, cepat nan mosak-masik membuat perjalalanan ini menghibur.

Memasuki daerah Ciamis, BCB kuler yang sebelumnya ingin kami naiki melaju dengan gagahnya lalu meninggalkan bus kami (agak sedih sebenernya). Sekitar 1 jam 35 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di Pool Tasikmalaya.

Saat tiba di Pool, kami bergegas bersih-bersih dan sarapan di depan Pool. Cukup bervariasi menu dagangan yang dijual disana. Harganya pun terjangkau untuk ukuran kantong penumpang seperti kami.

Selesai sarapan, kami mencoba mengelilingi sebagian sisi pool untuk mendokumentasikan beberapa armada yang sedang bersiap-siap untuk berangkat maupun perpal. Tapi kami tidak berhasil memasuki area dalam pool karena dikhawatirkan menggangu kru dan karyawan PT. HS Budiman. Walau tidak berhasil mendokumentasikan bagian dalam pool seperti tempat cuci bus dsb, karena tujuan utama kami adalah onboard Budiman ‘Best in Class’ jadi tidak terlalu kami prioritaskan.

Setelah puas berfoto ria, kami pun mendatangi loket pembayaran yang terdapat di lantai 2 menyatu dengan kedai yang belum lama ini selesai di bangun. Kami membayar sejumlah Rp. 440.000,- untuk 4 orang. Sambil menunggu kedatangan bus, kami istirahat sambil NG4 (Ngemil, Ngopi, Ngobrol, Ngecharge) hahay.

Walau harga menu yang di tawarkan di kedai ini bisa di bilang cukup mahal, tapi kedai ini menawarkan beberapa menu yang biasa di sajikan salah satu Branded Coffee Spot asal US yaitu White Coffee Flat, kopi yang white cream dan bagian kopi nya terpisah di dalam 1 wadah namun sensasi kopinya benar” terasa dan menyatu dengan white creamnya. Dengan harga Rp. 15.000,- anda sudah bisa mencoba White Coffee Flat ini.

Selain menunya yang menarik. Hal yang menarik lain diatas kedai baru ini adalah kalian bisa melihat aktifitas bus Budiman yang bersiap di jalur pemberangkatan, ditambah pemandangan indah gunung Galunggung yang terlihat jelas dari atas. Cocok deh, sambil menikmati White Coffee Flat sekaligus dapat pemandangan bagus.

Sekitar pukul 9:30, terlihat BT02 mulai memasuki area keberangkatan dan di sambut oleh beberapa klakson telolet dari armada BCB di sebelahnya.

Kami pun bersiap-siap dan mengecek perlengkapan kami seperti HP, dompet, tas sebelum turun ke ruang tunggu dan masuk ke dalam bus.

Bersama armada BT02

Kali ini seperti biasa, Kang Dalung akan menjadi orang di balik kemudi BT02. Untungnya kami semua dapat duduk di seat bagian depan, karena sebelumnya kami sudah memesan jauh-jauh hari via telepon.

Tampak Interior BT02

Kondektur pun mengecek jumlah penumpang beserta tiket. 19 kursi yang ada alhamdulillah terisi. Diawali dengan Bismillah dan bunyi klakson BT02, armada pun di berangkatkan pukul 10.35.

Tampak view kedepan dari seat 2A

Seperti sudah menjadi ritual, yang aku perhatikan setiap armada bus Budiman yang keluar Pool pasti menyempatkan mengisi bahan bakarnya di sebuah SPBU yang letaknya tidak begitu jauh dari Pool, entah milik sendiri atau bukan, tapi cukup banyak juga armada bus Budiman yang terparkir disini.

Cukup lama mengisi solar karena bergantian. Setelah itu kami pun memasuki terminal Indihiang Tasikmalaya. Bus dibawa masuk mengitari terminal, kami pun memperhatikan bus-bus yang ada saat itu. Tampak bus 3/4, Doa Ibu ekonomi, M jurusan Purwokerto – Surabaya, dan Budiman jurusan Jakarta.

Indahnya pemandangan Tasikmalaya membuat perjalanan ini sangat menghibur, lintasan kereta api yang di kelilingi perkebunan dan sejuknya udara (ini kan bus AC ya sejuk lah 😂) ditambah suspensi 1836 yang sangat empuk plus bawaan Pak Dalung yang cepat namun tetap seesss. Beberapa puluh menit setelahnya, kami terjebak macet selama 20 menit dan tidak tahu penyebabnya.

Bus pun terlihat memasuki jalan yang agak sempit dan ternyata masuk ke Terminal Rajapolah. Disinilah driver BCB dan bus-bus diuji melewati jalan yang cukup sempit setelah Terminal Rajapolah. Bus kembali ke jalan raya besar dan Pak Dalung kembali menunjukan keahliannya membawa unit O500R ini melintasi kawasan perbukitan dan pasar tumpah di sekitaran jalan raya ini.

Pukul 13:06. Memasuki RM Pananjung, ishoma selama 30 menit. Sambil memandang beberapa armada BCB baik yang sudah ada maupun baru tiba disini.

BT02 pun melanjutkan perjalanan melintasi kawasan limbangan – nagrek. Di daerah nagrek pun kami disuguhkan kembali pemandangan indah nan asri khas priangan timur. Tiba di sekitaran rancaekek pun terlihat bus-bus asal bandung dan arah Jakarta dan ramainya warga Bandung baik yang sedang berlibur maupun bekerja.

Sekitar pukul 14:30. Bus baru memasuki kawasan tol Cileunyi. Kendaraan pun mulai terlihat padat setelah entrance Pasir Koja. Setelah itu, kondisi hujan lebat dan dinginnya berrrr. Saya pun memejamkan mata akibat terlalu nyamannya karena buaian seat elektronik Aldilla dan bawaan Pak Dalung yang nyaman, mosak-masik dan joss.

Terlihat salah satu armada BCB trouble di area tol Cipularang KM entah berapa saya lupa. Tapi sepertinya sudah dioper sebagian besar ke armada BCB lainya dan tersisa 7 penumpang dan 2 kru. Disinilah kekompakan kru BCB terlihat jelas, Kang Dalung memberhentikan bus selama 10 menit dan 5 orang penumpang yang tersisa ikut BT02 dan 2 lainnya tidak. Sayang seat yang tersisa hanya 2 kursi dan 3 penumpang lainnya terpaksa duduk di bagian ‘kandang macan’ dan di depan bus sebelah kru.

Setelah itu kami terlelap lagi sepanjang Cipularang. Memasuki kawasan tol Cikampek, kepadatan arus kendaraan ke arah Jakarta kembali terjadi hingga gerbang tol Cikarang Utama, setelah itu kendaraan baru kembali normal sampai gerbang Tol Cikunir. Sepanjang perjalanan kami saling ngobrol sambil memperhatikan beberapa armada yang menuju ke Timur seperti Muriaan dan Solo Raya di arus sebaliknya.

Pukul 17:55. Bus melewati tol Cikunir. Kendaraan melaju dengan joss dan mosak-masik handal tenan pokoknya di balut hujan deras, cocok dengan karakter O500R.

Setelah melewati lampu merah Taman Mini dan Fly Over Jagorawi. pukul 18.25 tibalah akhirnya kami di terminal Kampung Rambutan, Jakarta.

==================================
Banjar – Tasik (Pool Budiman)

  • Patas medium 3/4
  • Start : 6:50 (Banjar)
  • Finish : 8:00 (Tasik)
  • Tarif : Rp 10.000

Tasikmalaya – Jakarta

  • PO Budiman
  • Z 7989 HC
  • BT 02
  • Tasikmalaya – Jakarta
  • Best In Class (2-1)
  • 20 Seat + Toilet
  • Tarif : Rp 110.000 (free mineral wather)
  • Start : 9:30 (Pool Tasik)
  • Istirahat : 13:30 (RM Pananjung)
  • Finish : 18:15 (Kp. Rambutan)
  • New Royal Travego JetbusHD Karoseri Adiputro
  • Mercedes-Benz O500R 1836 BlueTech Air Suspension

Si hijau bertenaga besar

[Bus Trip] Jakarta – Surabaya

Gunung Harta (GH90)

Sabtu, 10 Desember 2016

Akhirnya, bisa merasakan juga si “tronton” OC500RF 2542 yang dimiliki oleh PO Gunung Harta dengan nomor lambung GH90.

Melayani rute Bogor – Malang, sempat menjadi primadona bagi para penggemar bus untuk merasakan kenyamanannya.

Dengan menebus tiket seharga Rp 300.000,- penumpang sudah mendapat fasilitas snack + makan 1x. Ditambah fasilitas dari bus itu sendiri yang sudah tersedia AVOD (Audio Video On Demand) pada setiap seat, artinya penumpang bebas memutar video dan mendengarkan musik.

Fasilitas entertainment menambah kenyamanan selama perjalanan

Berangkat sekitar pukul 14:30 dari pool Ps. Rebo langsung dihadang kemacetan di tol lingkar timur, dan kemacetan baru terurai saat akan memasuki GT Cikarang Utama.

Akibatnya, pukul 17:58 baru memasuki RM Taman Sari Cipali untuk service makan. Bisa lebih cepat sebenarnya andai perjalanan normal.

Menu service makan di RM Taman Sari

Selepas RM Taman Sari, power dari 2542 ini baru terasa. Bukan hal yang sulit menaikan akselerasinya. Terbukti dengan dicentangnya beberapa armada yang ditemui malam itu. Goyangan suspensinya pun bekerja baik, minim sekali goncangan. Suara mesinnya pun terdengar sangat halus.

Pukul 20:58 keluar GT Brebes Timur lalu memasuki Brebes untuk menaikan beberapa paket.

Pukul 00:05 masuk RM Sari Rasa Kendal untuk check.

Pukul 00:46 memasuki Semarang lalu Kudus, beberapa penumpang mulai turun disini.

Pukul 5:10 masuk Lamongan. Sampai akhirnya pukul 6:15 sampai juga di tujuan akhir yaitu terminal Purabaya Bungurasih Surabaya. Aku pun turun disini, sebelum nantinya bus melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Malang.

==================================

PO Gunung Harta

  • N 7395 UA
  • GH-90
  • Bogor – Surabaya – Malang
  • Executive Class (2-2)
  • 38 Seat with AVOD
  • Toilet + Smooking room
  • Tarif : Rp 330.000 termasuk service makan + Snack
  • Start : 14:25 (Pool Ps. Rebo)
  • Service makan : 17:50 (RM Taman Sari Cipali)
  • Finish : 6:30 (Surabaya)
  • Jetbus SHD Karoseri Adiputro
  • Mercedes-Benz OC500RF 2542 / OM 457 LA Air Suspension


Naik bus tingkat antar kota pertama di Jawa.

[Bus Trip] Wonogiri – Jakarta

Putera Mulya DD02 (Double Decker)

Dengan tagline “1st intercity double decker bus in java”. Memberi rasa penasaran kami untuk mencoba bus ini. Yap, bus tingkat pertama di pulau Jawa yang digunakan untuk rute antar kota milik Po. Putera Mulya ini, sempat menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

Minggu, 1 Januari 2016

Pagi itu di terminal Tirtonadi. Aku dan teman-temanku bertemu (sebut saja Bayu dan Aji) tapi disini juga kami bertemu rekan-rekan yang tadi menaiki Putera Mulya dari Jakarta. Disebuah kios kami saling bertukar cerita tentang perjalanan tadi. Sambil ditemani secangkir kopi, mengingat masih banyak waktu sebelum nanti melanjutkan perjalanan. Bukan tanpa alasan kami memilih bertemu disini. Suasana terminal yang sangat nyaman membuat kami betah berlama-lama. Dengan segala fasilitas yang tersedia, digadang-gadang sebagai salah satu terminal terbaik di pulau Jawa.

Pukul 8:00 setelah mandi dan sarapan, kami memutuskan menuju Wonogiri. Karena dari sana lah nanti kami akan naik bus tingkat Putera Mulya.

Menggunakan bus bumel (ekonomi) Solo-Wonogiri dengan tarif Rp. 15.000/orang, kami diantar. Hanya 1,5 jam saja dari Solo.

PO. Timbul Jaya (Solo-Wonogiri-Praci)

Setelah sampai terminal Krisak. Kami langsung menuju agen bus yang ada di dalam. Hmm, sudah cukup ramai ternyata padahal masih pagi. Karena bingung mau ngapain, kami hanya ngobrol santai saja, sambil menunggu bus-bus yang akan menuju Jakarta. Biasanya masuk sini jam 11-12 siang.

Oh ya, sebenarnya kami naik dari agen Pak Sugeng terminal Sukoharjo, karena sebelumnya kami pesan tiketnya disana. Tapi supaya bisa hunting (karena spotnya enak), kami naik dari terminal Krisak ini.

Terminal GAP “Krisak” Wonogiri

Setelah puas hunting, pukul 14:00 bus kami pun datang dan langsung menyita perhatian banyak orang saat itu. Banyak yang berfoto dengan bus ini. Termasuk kami.

Bus yang akan membawa kami ini adalah bus yang sama saat dinaiki teman kami tadi dari Jakarta. Bernomor lambung P02 (Södertälje). Dengan masing-masing kru Pak Tri dan Pak Slamet sebagai pengemudi, dan mas Saipul sebagai kernet. Tentunya hal ini menjadi rekor tersendiri bagi kedua teman ini, touring dengan bus yang sama dalam sekali PP.

Setelah makan siang. Kami pun menuju bus untuk menaruh barang bawaan kami. Sempat berbincang sebentar dengan kru yang bertugas. Mereka cukup ramah, dan sangat terbuka apabila ada masukan dari para penumpangnya. Mengingat PO ini terbilang baru, saran positif akan diterima demi kemajuan PO ini.

Pukul 14:35 bus diberangkatkan dari terminal krisak. Karena kami bertiga duduk dibangku paling depan. Hanya beberapa saja yang naik dari sini, sehingga beberapa bangku masih kosong. Membuat kami lebih leluasa untuk mengexplore segala sisi bus ini. Mulai dari smooking area, toilet, dan termasuk seat SE (Super Eksekutif) di deck bawah.

Sangat nyaman kami rasa, dan tidak limbung seperti yang disangka beberapa orang. Beberapa fasilitas pun cukup bekerja baik meski ada beberapa yang belum sempurna memang.

Duduk di deck atas terutama seat depan akan sangat terasa sensasi bus tingkat ini. Apalagi view yang sangat luas membuat kita leluasa menikmati perjalanan. Melihat pun membuat kendaraan lain serasa kecil sekali dari atas. Oh ya, deck atas ini terdiri dari 36 tempat duduk yang masing-masing telah tersedia AVOD dan legrest. Ditengah, tepat disamping tangga terdapat dispenser yang boleh kita pakai gratis. Lalu, dibelakang terdapat kotak kaca tempat smooking room yang muat 2 orang. Cukup dengan Rp 235.000 kita bisa menebus satu seat untuk sekali jalan dengan kelas eksekutif di deck atas.

Di deck bawah, tersedia 6 buah kursi elektrik yang sangat cocok untuk anda penikmat kenyamanan. Dengan harga Rp 335.000 anda bisa merasakan kenyamanan disetiap kursi yang telah tersedia AVOD (Audio Video on Demand) dan USB Charger. Namun yang membedakan adalah bentuk kursi ini memiliki cangkang yang biasa ada di kursi pesawat. Terasa lebih personal. Sandaran kaki dan punggung juga bisa diatur secara elektronik hampir 45°. Saat aku coba duduk disini, memang terasa kenyamanannya. Walau pernah mencoba kursi yang mirip seperti ini pada bus lain. Tapi ketika mencoba di bus ini, bisa dibilang lebih mirip seperti naik Alphard. Karena memang posisinya yang setara dengan mobil biasa. Satu lagi enaknya di deck bawah yaitu akses yang dekat dengan toilet. Ya, di bus ini walaupun bentuknya tingkat toilet hanya ada satu di deck bawah. Bentuk toiletnya sama seperti kebanyakan produk Adiputro lain. Ini tak seperti ekpektasiku yang berpikir bahwa toilet di bus tingkat ini akan lebih lega. Di deck bawah pula, tepatnya disamping toilet ada meja mini yang menyediakan air panas bagi anda yang ingin membuat minuman panas. Menambah nilai plus tersendiri bagi bus ini.

Ketika saking asiknya di deck bawah. Tak terasa bus sudah mendekati terminal krisak. Dari sini bus menaikan penumpang lebih banyak. Kami yang sedari tadi bisa pindah-pindah tempat duduk kayanya harus ke tempat duduk masing-masing karena pemilik bangku sebenarnya sudah naik. Disini kami berhenti agak lama hampir 30 menitan. Daripada bosan menunggu diatas, kami iseng turun. Sekedar ingin menginjakan kaki di terminal ini dan beli minuman sebenarnya. Terlihat para warga dan penumpang lain tampak sangat antusias saat bus kami datang. Beberapa dari mereka sempat berfoto mengabadikan momen bertemu bus bongsor ini.

Pukul 15:40 bus kami berangkat. Berjalan pelan keluar terminal sambil diiringi pandangan oleh banyak orang. Keadaan seperti ini terus terjadi sepanjang perjalanan. Banyak warga yang antusias dan takjub dengan adanya bus tingkat ini. Mulai dari gerombolan anak-anak yang meneriaki “om telolet om” sambil mengejar-ngejar bus kami, bahkan ada yang dari dalam mobil pun sempat-sempatnya ambil foto haha. Sungguh, perjalanan yang sangat mengesankan.

Ketika sampai di semarang. Pukul 19:30 waktu itu. Bertepatan dengan jam keberangkatan bus dari pasukan Muria—wilayah Jepara, Kudus dan sekitarnya—. Kami sempat berpapasan dengan Haryanto HR114 (Hurricane) yang melaju cepat di depan kami. Kami masih berjalan santai saat itu. Hingga bus kami dipacu agak cepat, sampai akhirnya bisa mengejar HR114 ini. Disusul pula Rosalia Indah (armada Malang), Langsung Jaya, dan Jaya (ponorogo) saling susul-menyusul. Duel panas pun tak terelakan terjadi. Beberapa kali kami mencoba melewati HR114 ini namun seperti tak rela HR114 ini malah menghalangi. Begitu terus keadaannya sampai kami memasuki Kendal dan ternyata bus Jaya sudah menghilang jauh di depan. Sempat 1-2, kali kami berhasil melewati si HR114, tapi tetap selalu berhasil menyusul. Edan!. Beberapa kali dipertontonkan pertunjukan sengit itu, membuat kami yang ada di dalam bus—terutama barisan depan deck atas—berteriak-teriak. Seolah-olah meneriaki sang pengemudi agar melajukan busnya dengan cepat (walau hal itu sia-sia karena pasti tak akan terdengar). Padahal jika ditilik lebih lanjut, HR114 itu hanya bermesin mercedes O500R bertenaga 360 hp. Lebih kecil dibanding bus kami yang 410 hp. Begitulah jalanan, selalu skill yang banyak berbicara. Hampir setengah jam kami berduel dengan HR114 ini, hingga akhirnya HR114 itu mengalah, memberi jalur untuk kami lewati dari kanan. “Bye Hurricane, kapan-kapan cobain kamu ya hehe”..

Setelah tak ada pertunjukan lagi. Pukul 9 malam, kami sampai di RM. Raos Eco. Tempat kami menikmati service makan malam kami. Teman kami sampai menyerbut ruah makan ini seperti terminal khusus bus Laju Prima. Karena hampir setengah sisi terminal hanya diisi bus ini.

Ruang makan untuk bus Putera Mulya memang terpisah sendiri. Tapi kami kira akan terpisah juga untuk masing-masing kelas, ternyata tidak. Satu masukan lagi untuk PO ini kedepannya. Tapi Untuk rasa dari menunya sendiri cukup enak aku rasa.

45 menit kemudian bus kami kembali berjalan. Menyusuri Alas Roban baru kemudian memasuki Pekalongan sampai akhirnya masuk tol Brebes. Semenjak keluar rumah makan tak ada hal menarik di jalan. Kami hanya saling bercerita saja satu sama lain. Efek kenyang ditambah ayunan empuk suspensi Scania ini membuat kami mengantuk. Kurebahkan sandaran punggung sedikit ke belakang, kunaiki sandaran kaki, lalu kutarik selimut aku pun tertidur. Yang lain juga tidur. Sesekali aku terbangun karena suara dan sorotan lampu. Hingga memasuki Cikarang Utama aku baru benar-benar bangun. Kulihat jam masih pukul 4.00 pagi. Iseng tak ada mainan kucoba mendengarkan musik dari AVOD. Ko ngga bersuara ?. aku coba nyalakan di bangku temanku baru mau bersuara. Hmm, eror ternyata punyaku. Padahal bus baru seminggu. Dan ini kembali menjadi masukan untuk pihak karoseri.

Sampai sini kebanyakan dari kami itu tidur. Iyalah, seat empuk, bus nyaman, ditambah kenyang membuat kami ngantuk. Saat di tol kami benar tidak tahu ada kejadian menarik apa karena masih tertidur. Sampai bangun-bangun kami sudah ada di bekasi timur. Menurunkan beberapa penumpang disini. Lalau bablas tol dalam kota menuju perhentian terakhir di terminal pondok pinang. Kami yang sebelumnya turun di terminal pulogebang, memutuskan untuk ikut sampai pondok pinang hanya ingin menyaksikan bus itu perpal.

Pukul 5:30 bus kami sampai di pondok pinang. Artinya semua penumpang turun disini untuk kemudian menuju ke tujuannya masing-masing. Tapi kami justru berlama-lama di terminal ini sampai hari benar-benar siang. Saling bercerita tentang perjalanan semalam sekaligus menyaksikan pemandangan angkatan pagi muriaan.

Kalau kalian mau merasakan sensasi sekaligus pelayanan terbaik naik bus, maka naik lah bus ini (bukan promosi yah,.. hehe 😂😂)

==================================

Solo – Wonogiri

  • PO Timbul Jaya
  • AD 1510 FG
  • Patas Ekonomi 2-3
  • Solo – Wonogiri – Pracimantoro
  • Start : 8:00 (Solo)
  • Finish : 10:00 (Wonogiri)

Wonogiri – Solo

  • PO Putera Mulya
  • AD 1402 F
  • DD02 (Södertälje)
  • Wonogiri (Ngadirojo) – Jakarta (Pondok Pinang)
  • Eksekutif Class (2-2)
  • Double Decker (Deck Atas)
  • 36 Seat with AVOD + Smooking room (2)
  • Tarif : Rp 225.000 termasuk service makan + Snack
  • Start : 14:10 (Wonogiri)
  • Service makan : 21:00 (RM Raos Eco)
  • Finish : 5:30 (Pondok Pinang)
  • New setra Jetbus SDD (non selendang) Karoseri Adiputro
  • Scania K410iB Air Suspension

Perdana ke timur Jawa (3/3)

[Bus Trip] Kudus – Depok

Bejeu B39 (Scudetto)

Sabtu, 2 Januari 2016

Ketika memasuki terminal Kudus. Hiruk pikuk kegiatan para penglaju sudah ramai disini. Para calo yang tak henti-hentinya berteriak menawarkan angkutan, dan beberapa penumpang yang menunggu busnya sambil bosan.

Memang beginilah suasana terminal Kudus, yang hanya ramai saat sore hari. Karena memang rata-rata bus malam dari Jepara, Pati dan sekitarnya-disebut bus Muriaan-bertemu disini. Ini juga yang menjadi daya tarik para penggemar bus untuk datang hunting disini.

Bus Muriaan memang selalu mengundang perhatian. Selain karena busnya yang bagus, para PO (Perusahaan Otobus) disini juga seperti berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik kepada penumpangnya. Bisa dibilang, kelas terendah sampai termewah ada disini.

Sibuk mengamati suasana terminal sore hari. Aku pun ikut memfoto-foto bus yang ada sore itu. Sampai akhirnya akan tiba waktu keberangkatanku. Pukul 19:00 sesuai tiket. Tapi jam masih menunjuk pukul 18:00, masih sejam, lumayan buat makan dulu.

PO. Haryanto, salah satu bus di sore itu

Untuk perjalanan pulang kali ini. Aku menggunakan armada PO Bejeu. Si hitam dari Jepara yang terkenal akan pelayanannya yang nyaman. Jika diperhatikan, rata-rata bus Bejeu menggunakan karoseri dari Tentrem. Entah apa alasannya, tp itu membuat penekanan, bahwa bus dengan body Tentrem dan berwarna hitam orang pasti teringat Bejeu.

Pukul 18:42. Setelah menunggu agak lama, busku pun datang. Berbody Sorpion King dengan livery blackgold, dan benomor lambung B39 yang berjuluk “Scudetto”. Dikaca depannya tertempel nomor BE04 yang merupakan kode trayek Jepara – Cileungsi.

Bejeu B39 (Scudetto)

Ketika memasuki bus, dan menuju tempat dudukku, di seat 1D, sudah ditempati penumpang lain yang merupakan perempuan bersama anak kecilnya. Merasa tak enak, akhirnya aku duduk di seat 1C.

Tampak seat depan Bejeu B39

Pukul 18:55. Bus berjalan meninggalkan terminal Kudus. Sambil menaiki beberapa penumpang di agen sepanjang jalan menuju Semarang.

Setelah dikira penuh, sang supir langsung menarik gasnya dalam-dalam. Sempat beberapa kali beriringan bersama bus muriaan lain. Tak lama, snack pun dibagikan. Terdiri dari air mineral, popmie, dan roti. Yang cukup lumayan mengganjal perut.

Service makan bus Bejeu ini jika dari timur ada di RM Barokah Indah, Gringsing. Tepat berseberangan dengan RM Menara Kudus milik PO Haryanto. Bukan hanya Bejeu, bus muriaan lain seperti New Shantika, Muji Jaya juga disini service makannya.

Setelah service makan, aku tertidur sampai akhirnya entah di daerah mana aku terbangun karena merasa bus berhenti. Dan benar saja, ternyata sedang ada trouble pada bus Bejeu lain. Sebagai bentuk kesetiakawanan, bus Bejeu yang lain juga banyak yang berhenti. Cukup lama berhenti disini, sekitar 1 jam 30 menit. Karena aku sempat tertidur ketika bus berhenti, dan terbangun kembali saat bus akan berjalan. Alhasil, beberapa bus Bejeu pun berjalan beriringan. Seperti jalanan punya sendiri.

Aku tertidur cukup lama, sampai terbangun sudah memasuki SPBU area 234 Cikarang. Beberapa bus Bejeu yang lain pun isi solar disini. Karena sudah subuh, aku pun menuju sebuah Mushola untuk menunaikan kewajiban.

Sekitar 15 menit bus ini mengisi solar. Cukup lama memang, karena konsumsi bahan bakarnya juga besar.

Bus kembali dijalankan memasuki jalan Tol Cikampek. Belum terlalu ramai karena masih pagi. Sebenarnya, jika bus tidak berhenti tadi saat ada trouble, seharusnya saat ini sudah sampai rumah. Tapi, tidak apa karena masih tebilang wajar masuk Jakarta tidak terlalu kesiangan.

Melewati Garuda Taman Mini. Beberapa penumpang satu-persatu mulai turun. Sampai meyusuri Jalan Raya Bogor, akupun mulai bersiap, termasuk penumpang disampingku ini. Ternyata dia juga turun ditempat yang sama. Aku tahu begitu setelah mengobrol dengannya sebelum berangkat.

Menyusuri Jalan Raya Bogor Ciracas

Akhirnya, tepat pukul 6:00 pagi. Sampailah aku pada tujuan terakhirku. Ya, Cisalak. Sebelah selatan dari Pal Depok, tempat aku memulai perjalananku ini.

Dengan begini, berakhirlah perjalanku, dan berakhir pula tulisanku yang berjudul Perdana ke Jawa Timur. Dengan rute : 

Depok – Surabaya – Solo – Semarang – Kudus – Depok

Saksi bisu perjalanan

Menggunakan bus, dengan 5 PO bus yang berbeda aku jalani semua dalam 3 hari tektok. Tepatnya 1-3 Januari 2016.

Semoga menginspirasi.

==================================

PO. Bejeu

  • K 1474 AL
  • B39 (Scudetto)
  • BE04
  • Jepara – Bogor (Ciawi)
  • Executive Class (2-2)
  • 32 Seat + Toilet
  • 2x Wifi Hotspot + Coffe Marker
  • Tarif : Rp 220.000 termasuk service makan & snack
  • Start : 19:00 (Kudus)
  • Service makan : 21:10 (RM
  • Finish : 6:00 (Depok)
  • Scorpion King Karoseri Tentrem
  • Hino RK R260 Air Suspension

Yogya In Love

Family Gathering BisMania Community Korda Jakarta Raya

Yogyakarta, 3-5 Februari 2017

Sore itu, selepas maghrib. Kami dan kawan-kawan lainnya berkumpul di lapangan parkir di daerah UKI Cawang. Sambil mengobrol satu sama lain sembari menunggu kawan lain yang belum datang.

Malam ini kami akan berangkat ke Yogya. Bukan untuk acara apa, tapi hanya rekreasi rutin bersama para penggemar bus.

Pukul 19:20. Setelah sekiranya telah berkumpul semua, bus pun dijalankan. Menggunakan bus Laks bernomor 408 G, berchassis Mercedes-benz OH 1626, yang akan mengantar kami pulang dan pergi.

PO Laks 408 G

Menyusuri jalanan Tol Jakarta – Cikampek yang selalu padat seperti biasanya, dan baru lancar ketika melewati GT Cikarang Utama. Beberapa kali sempat bertemu bus Cirebonan, Sinar Jaya dan Gunung Mulia. Tapi yang paling menarik adalah, ketika bus kami tiba-tiba saja diblong oleh Karunia Bakti. Bus tujuan Singaparna ini seperti dikejar waktu. Blong kanan-kiri, melewati berbagai kendaraan di depannya dengan lihai. Seperti tak mau kalah, kamipun mencoba mengejar. Gengsi dong masa chassis 1626 dikalahkan oleh Hino AK (mesin depan). Apalagi sepertinya si supir Karunia Bakti tersebut tahu siapa orang-orang yang ada di dalam bus ini setelah melihat banner kami di belakang. Sempat berduel selama beberapa menit, tapi sepertinya supir kami kalah skill dibanding si Karunia Bakti itu, atau supir kami kurang saweran ? hahaha.

Setelah melalui jalan Tol yang panjang. Pukul 23:00, kami singgah di RM Menara Kudus Gringsing, Jawa Tengah untuk makan malam. Rumah makan yang tidak asing bagi pengguna bus karena merupakan milik PO Haryanto. Pertama kali juga bagiku menikmati makan disini walau belum pernah mencoba busnya, hehe.

Suasana RM Menara Kudus

Kurang lebih 45 menit kami berhenti, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali. Merasa tak ada yang menarik di jalanan, aku putuskan tidur. Tersadar karena jalanan yang berkelok ala kontur pegunungan, ternyata sedang berada di daerah Temanggung. Di jalur yang sering dilewati Handoyo dan OBL menuju Yogya. Ah, Andai perjalanan dilakukan siang hari pasti lebih indah.

Paginya di waktu Subuh, kami berhenti di sebuah masjid di daerah Ngadirejo-masih Temanggung-untuk melaksanakan kewajiban. Namanya masjid Wali Limbung. Konon, ini merupakan masjid bersejarah di Temanggung, peninggalan seorang Ulama penyebar Islam di Temanggung.

Berhenti di Masjid Wali Limbung

Setelah kurang lebih 1 jam kami berhenti disini, perjalananpun dilanjutkan. Sambil diiringi mentari fajar yang tampak malu-malu dibalik awan, dan gunung Sindoro yang gagah berdiri seolah-olah mengawasi kami. Hari itu cerah, jadi sangat asyik menikmati pemandangan.

Selamat pagi Yogya.

Sekitar pukul 7:30 kami memasuki Yogya. Ah, seperti rindu yang terbalaskan saat kembali kesini.

Sampai akhirnya, sang supir bus menyeret kami ke suatu tempat. Oh, rumah makan nampaknya. Kami pun bergegas menikmati service makan kedua alias sarapan. RM Ambarketawang, begitulah tulisan yang terdapat disebuah billboard tepat didepan bangunan rumah makan. Yang di sampingnya terdapat pom bensin yang memungkinkan para pengunjung rumah makan mengisi makan kendaraannya juga disini.

RM Ambarketawang, Yogya

Setelah makan, sekitar pukul 9:00 pagi bus kembali dijalankan menuju tempat wisata pertama yaitu Goa Pindul yang terletak di Gunung Kidul. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Ambarketawang. Perjalanan selama itu terasa menyenangkan, karena dipandu oleh tour guide cantik yang sangat lugas memberikan informasi tentang Yogyakarta.

Ketika menuju Gunung Kidul. Kita akan melewati Bukit Bintang. Dari sini kita bisa melihat kota Yogyakarta secara keseluruhan dari atas bukit.

Tidak jauh darisana. Terdapat ikon tulisan Gunung Kidul yang dipercantik dengan taman yang asri.

Sumber : Google Images

Sekitar pukul 10:30 kami tiba di kawasan Gunung Kidul. Langsung kami bersiap-siap mengganti pakaian karena sudah tidak sabar bermain air.

Saat memasuki kawasan. Kita akan lebih dulu diarahkan dilokasi tunggu. Disini kita akan dibagikan pelampung dan ban besar sebagai penopang badan kita saat nanti mengapung. Disini juga bisa melakukan pendaftaran bagi yang ingin memasuki Goa, dan juga terdapat tempat penitipan bagi para pengunjung yang ingin menitipkan barang bawaannya. Karena selama di dalam Goa tidak diperkenankan membawa kamera atau yang sejenisnya demi keamanan. Untuk harga masuk sendiri aku tidak tahu, karena begitu sampai sana biaya masuk sudah ditanggung panitia. Dan lokasi Goanya sendiri masih berjarak sekitar 100 m dari tempat tunggu itu.

“Ramee bagettt !!”

Ujar salah satu kawan kami.

Aku juga merasa demikian. Mungkin dikarenakan sedang weekend jadi antusiasme wisatawan yang datang kesini juga meningkat. Bagaimana dihari libur panjang, mungkin akan lebih banyak pengunjung dari sekarang.  Tidak bisa dibayangkan penuhnya Goa oleh badan-badan manusia.

Goa Pindul

Cara masuk ke Goa ini harus menggunakan ban sebagai pelampung yang kita dapat sebelumnya, dan saling berpegangan satu sama lain, untuk nanti akan ditarik oleh pemandu yang sudah disiagakan dibeberapa titik Goa.

Suasana di dalam Goa sangat sejuk, udaranya pun segar. Ditiang-tiang atas Goa bersarang kelelawar yang sedang tidur. Panjang Goa Pindul sendiri sekitar 350 m. Selama perjalanan itu kita akan melewati 3 sesi. Yaitu, remang-remang, gelap, dan terang. Dan didalam juga kita akan melewati sebuah jalur yang hanya akan bisa dilewati oleh 1 orang saja. Seru lho.

Dan sebelum menuju pintu keluar Goa, kita akan disuguhi pemandangan cahaya yang menyelinap masuk ke dalam Goa. Sangat indah sekali.

Sumber : Google Images

Kami pun keluar Goa dengan tawa riang. Merasa puas dengan perjalanan di Goa tadi.

Setelah di Goa Pindul. Siangnya kami langsung bergerak menuju pantai. Tapi kami tidak langsung kesana karena harus makan siang dulu.

RM Griyo Wono, tempat kami makan siang

Pukul 14:30 kami menuju pantai. Sepanjang namanya. Kenapa tidak ke Indrayanti, kami tahu disana pasti ramai. Makanya kami memutuskan pergi ke pantai ini karena tidak terlalu ramai, dan letaknya juga tidak terlalu jauh dari Indrayanti.

Begitu kesini tempatnya memang masih sepi, akses menuju pantainya juga agak kepelosok. Tapi terbayar begitu ke area pantai. Laut biru dan pasir putih seperti menyapa kami yang baru pertama kali kesana.

Foto session di Pantai Sepanjang

Disana kami cuma 1 jam saja. Karena terbatas waktu untuk nantinya kami harus ke lokasi terakhir yaitu Malioboro. Kami memang harus kesini. Nggak ke Yogya katanya kalo nggak mampir ke Malioboro.

Sebelum ke Malioboro. Kami sepakat untuk ke tempat oleh-oleh yang menjual makanan khas Yogya yaitu Bakpia. Terletak tidak jauh dari bandara Adisutjipto, toko ini menamakan dirinya Bakpia 25. Tempatnya memang ramai, bahkan parkirannya juga muat beberapa bus. Konon, pabrik pembuatannya pun masih satu atap dengan tokonya. Makanya kita akan mendapati beberapa kotak Bakpia masih terasa hangat. Tetapi tidak hanya Bakpia, panganan lain khas Yogya pun tersedia disini. Membuat kami sedikit kebingungan memilih yang mana sesuai isi kantong kami.

Tempat oleh-oleh Bakpia

Setelah semua dirasa cukup. Perjalanan kembali dilanjut dan pada pukul 19:30 kami sampai di parkiran Abu Bakar Ali (ABA). Sebuah parkiran bertingkat yang memang telah dibuat khusus untuk para wisatawan yang ingin menitipkan kendaraannya. Letaknya sangat strategis, tepat di sebelah utara jalan Malioboro dan sebelah timur stasiun Yogya. Jadi hanya dengan menyebrang jalan dari parkiran ABA anda sudah sampai di Malioboro. Kami diberi waktu sampai pukul 22:00 untuk bebas menikmati kawasan Malioboro malam itu. Dan ternyata disana kami juga disambut oleh dulur-dulur dari BMC Yogya.

Oh Yogya. Aku benar-benar merasakan suasana Yogya yang indah malam itu.

Aku, bersama 4 kawanku yang lain memutuskan pergi ke tugu. Ya, tugu Yogya. Tidak jauh, cukup berjalan kaki sejauh ± 300 meter ke utara dari parkiran bus tadi.

Begitu disana, sudah banyak muda-mudi yang sengaja berkunjung juga kesana. Karena lokasinya yang berada tepat di tengah-tengah perempatan jalan. Membuat lokasi ini sangat ramai.

Berfoto di depan Tugu Yogyakarta

Setelah puas dari sana, kami pun kembali ke parkiran bus tadi mengingat waktu sudah mendekati pukul 22:00. Saat dijalan kembali, kami sempatkan membeli beberapa makanan di sebuah angkringan. Sekedar untuk mengganjal perut. Tentu tidak makan disini, melainkan dibus.

Saat sudah di parkiran ABA, ternyata bus kami sudah pindah ke depan karena terdorong oleh bus lain yang baru masuk parkiran. Memang begitulah sistem parkiran ini.

Sampai di depan kami sempatkan sowan kepada dulur Korwil Yogya lalu dilanjutkan dengan foto session. Walaupun sebelumnya banyak yang belum kenal, tapi setidaknya dari pertemuan ini membuat kami menjadi dekat. Hanya waktu yang akhirnya memisahkan kami kembali. Terimakasih dulur Korwil Yogya semoga bertemu di event lain.

BMC Jakarta Raya Yogya In Love

Sekitar pukul 22:35 rombongan kami mulai keluar parkiran ABA dan meninggalkan Yogya. Sama seperti aku bilang sebelumnya, Yogya masih tampak ramai malam itu. Seperti tak pernah tidur.

Ketika jalan pulang, aku tak begitu ingat lewat mana, apa lewat jalur yang sama saat berangkat atau tidak. Karena aku lebih memilih istirahat, bukan hanya aku, tapi yang lain juga.

Ketika ku tulis tulisan ini. Yang ku ingat saat pagi itu kami mampir ke Cirebon untuk sarapan. Kami berhenti di sebuah ruko berlantai 2 yang terletak persis di seberang Mall Cirebon bertuliskan nasi Jamblang. Makanan khas asli Cirebon ini menjadi menu pengisi perut kami pagi itu.

Saat berhenti di Cirebon

Ketika masuk, suasana didalam ternyata sudah ramai padahal masih cukup pagi. Kami pun harus mengantri untuk memilih menu secara prasmanan. Terdapat lauk yang banyak tersedia, jadi kita tinggal pilih maunya apa. Tak perlu takut tak bisa bayar, karena harga disini sangat terjangkau. Untuk menikmati 2 bungkus nasi Jamblang + perkedel 2 + sayuran + teh hangat hanya merogoh kocek Rp. 9000. Rasanya ?yang pasti sangat khas terasa dan bikin ketagihan.

Setelah puas berkenyang-kenyang. Kami lanjutkan kembali perjalanan. Menyusuri sedikit jalanan kota Cirebon yang cerah lalu menuju Tol Cipali untuk kembali pulang. Perjalanan bisa dibilang lebih santai dan menikmati. Sambil dibumbui oleh keisengan teman kami yang membuat kami harus menutup hidung selama perjalanan. Asem!.

Akhirnya, jam 12 tengah hari kami sampai di Jakarta, tepatnya parkiran UKI tempat kami memulai start perjalanan ini sebelumnya. Aku dan beberapa yang lain memilih sampai Pool saja karena akan lebih dekat ke rumah.

Sambil tak lupa mengucapkan terimakasih kepada para kru yang mengantar kami pergi dan pulang dengan selamat. Akhirnya kami pamit pulang ke rumah masing-masing.

Terimakasih teman-teman semua atas partisipasinya. Membuat kami semakin dekat dan kompak. Semoga dipertemukan kembali dalam event lain.

Salam Sejatinipun Seduluran.

Perdana ke timur Jawa (2/3)

[Bus Trip] Surabaya – Solo – Semarang – Kudus

2 Januari 2016

Sampai di terminal Bungurasih, aku menyempatkan diri untuk bersih-bersih, makan, dan sholat disini. Walau tak lapar dan masih sangat pagi sebenarnya dari waktu sarapan. Tak apalah daripada tidak bertemu tempat makan lagi nantinya.

Pertama kali kesini, Aku langsung suka pada terminal ini. Jujur, ini mungkin terminal ternyaman yang pernah kudatangi. Berbeda jauh dari beberapa terminal di Jakarta.

Saat turun dari bis, kita akan langsung dihadapkan pada lorong yang dimana ada banyak tempat makan dan jajanan disini. Seperti layaknya tempat oleh-oleh. Musholah dan toilet juga mudah dijumpai. Selepas itu kita menuju sebuah aula yang cukup besar, nah disitulah tempat tunggu penumpang. Banyak dari mereka yang menginap disini atau sekedar istirahat. Disini juga kita bisa lihat bis yang akan berangkat sesuai tujuannya, karena di setiap koridor sudah terpampang tujuan masing-masing. Arahan dan papan petunjuk juga cukup jelas disini, jadi tak perlu takut kebingungan.

Terminal Bungurasih pagi itu

“Kudus.. kudus, Banyuwangi.. ”

Begitulah kiranya sahut-sahutan calo pada pagi itu. Ramai sekali. Para calo hanya menawarkan tujuan dari bisnya masing-masing tanpa paksaan kepada penumpang.

Pukul 5:40 sebenarnya belum tahu harus kemana lagi aku ini.

Beberapa armada Indonesia dan Jaya Utama berbodi ScorpionX tujuan Kudus sudah berdiri menanti. Ahh menggoda batinku untuk naik.

Karena tiket untuk pulang ke Jakarta sudah kupesan dari Kudus, tapi jika harus ke Kudus sepagi ini tentu tidak mungkin. Kecuali ada teman / saudaraku disana.

Terlintas dipikiranku untuk mencoba ke Semarang saja, menjajal bis-bis disini. Sembari mengulur waktu keberangkatanku sore nanti. Pasti seru.

“Ini ke Semarang ngga pak ?” Tanyaku pada salah satu kru Eka.

“Ngga mas, ini ke Magelang, klo Semarang nanti jam 9”

Waduhh bisa sampai Kudus jam berapa pikirku.

“Kalo mau, ikut ini aja sampe Solo, nanti nyambung ke Semarang banyak dari sana..” tambahnya

Baiklah, aku pun mengiyakan dan naik armada itu. Langsung kuamankan seat depan karena masih sangat kosong saat itu.

Pukul 6:15 bis dijalankan.

Pagi hari di jalanan Sidoarjo

Bertenagakan Hino RK berjalan agak cepat menyusuri jalanan Sidoarjo pagi itu. Tak ada yang menarik selama perjalanan. Hanya pemandangan kehidupan rutin warga pribumi. Sesekali disuguhkan hijaunya bukit dan persawahan.

Seru menurutku, bagi aku yang pertama kali melewati jalur ini. Semakin menambah pengetahuanku tentang bumi Jawa Timur.

Tidak lama kemudian kernet berkeliling untuk menarik ongkos kepada penumpang. Cukup Rp 74.000 saja sampai solo dan itu sudah termasuk service makan nantinya.

Bis berjalan standar sampai akhirnya pukul 8:30 sudah sampai Sragen. Agak cepat memang, semoga sampai Solo tidak terlalu siang harapku.

Memasuki Sragen

Selama perjalanan beberapa kali di blong oleh rivalnya yaitu Sugeng Rahayu. Namun beberapa kali juga sukses mencentang bahkan teman setimnya sendiri.

Pukul 10:15 memasuki RM. Duta Caruban untuk service makan. Oh ya, disini bukan menu prasmanan seperti biasanya melainkan kita memilih menu yang disediakan di tiket untuk nanti ditukarkan di rumah makan. Aku memilih nasi soto ayam waktu itu. Sayangnya dihidangkan dengan nasi dan sotonya sudah bercampur, membuat rasanya jadi kurang nendang.

Pukul 10:35 bis kembali berangkat, karena waktunya sangat sebentar jadi kehilangan momen untuk mengabadikan bis yang ku naiki.

Pukul 12:10 akhirnya sampai juga di Solo.

Lagi-lagi pertama kali juga aku ke Solo, dan pertama kali juga menginjakan kaki di Tirtonadi. Salah satu terminal terbaik di Jawa Tengah.

Langsung aku manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk jamak Sholat, tidak makan karena sudah tadi di Caruban. Jujur saat itu aku tidak tahu akan naik bis apa ke Semarang. Tapi sepertinya cukup banyak juga pilihan dari sini.

Akhirnya aku naik bus Royal Taruna, PO yang masih satu grup dengan Blue Star. Berbody Travego Smile dari Adiputro dan berchassis Hino RG. Karena kulihat hanya bis ini yang akan segera berangkat, kalau menunggu bis lain bisa sebenarnya tapi aku tak mau mengulur waktu terlalu lama. Melihat kondisi jalan yang belum aku ketahui.

Bus Royal Taruna menunggu berangkat

Aku pun naik ke dalam. Di baris ke 4 kududuk waktu itu. Tidak butuh waktu lama untuk membuat bis penuh. Sampai akhirnya pukul 13:00 bis berangkat meninggalkan terminal Tirtonadi.

Interior bus Royal Taruna

Sepanjang keluar terminal tadi sampai Jl. Raya Solo – Surakarta bis berjalan lambat sambil sesekali menaikan penumpang walau sudah penuh, alhasil banyak penumpang yang berdiri.

Aku memilih tidur waktu itu. Karena sudah sangat lelah dan tidak ada yang menarik dijalan.

Terbangun sudah di Tol Semarang. Pukul 15:20 saat itu. Agak lega karena akan sampai secepat ini. Tidak lama sampai juga di terminal Terboyo Semarang. Aku turun di depan jalan masuk terminal. Karena banyak bis yang ngetem ke Kudus dari sini.

Langsung saja kunaik patas Nusantara Semarang – Lasem dari sana. Bis berangkat tidak lama setelah kunaik dan hanya Rp 15.000 saja ongkosnya.

Ah, lambat banget bis ini jalannya. Lebih lambat dari Royal Taruna tadi. Aku pun waswas sepanjang perjalanan. Geram, ingin rasanya aku yang bergantian memegang kemudi dan ku kebut sampai Kudus.

Ternyata cuma 1 jam perjalanan Semarang – Kudus. Hmm kalo tau begini mending tidak usah panik dari tadi.

Aku pun turun dan menyebrang untuk masuk terminal Jati Kudus. Tempat aku memulai etape selanjutnya.

Jika dihitung perjalananku dari Surabaya – Solo sampai Kudus ini memakan waktu hampir 11 jam sudah termasuk istirahat di Solo 30 menit.

==================================

Surabaya – Solo

  • PO. Eka
  • Surabaya – Solo – Magelang
  • Patas Executive (2-2) non Toilet
  • Start : 6:00 (Surabaya)
  • Service makan : 9:20 (RM Duta Ngawi)
  • Finish : 12:30 (Solo)
  • Tarif : Rp 75.000 termasuk service makan

Solo – Semarang

  • PO. Taruna
  • Solo – Semarang
  • Patas (2-2) non Toilet
  • Start : 13:10 (Solo)
  • Finish : 15:30 (Semarang)
  • Tarif : Rp 25.000

Semarang – Kudus

  • PO. Nusantara
  • Semarang – Kudus – Lasem
  • Patas (2-3) non Toilet
  • Start : 16:20 (Semarang)
  • Finish : 17:15 (Kudus)
  • Tarif : Rp 15.000

Perdana ke Timur Jawa (1/3)

[Bus Trip] Depok – Surabaya

Gunung Harta (GH 120)

1 Januari 2016

dscn19391

Gunung Harta, salah satu PO asal Bali yang belakangan ini melakukan berbagai gebrakan di dunia perbisan Indonesia. Salah satunya adalah diluncurkannya produk SHD dari adiputro dengan memakai Chassis Mercedes-Benz O500R 1836 untuk memanjakan penumpangnya.

Rute yang dipilihnya adalah Bogor–Surabaya–Malang. Strategi yang tepat menurutku karena blm adanya pesaing yang berani memakai armada premium untuk rute sejauh ini.

Aku pun tertarik mencobanya, selain karena ingin “nyobain” armada premium ini, hal ini juga sebagai pembalasanku atas gagalnya touring Muriaan akhir Desember lalu.

Setelah memutuskan tanggal dan hal lainnya, aku pun memesan tiket Gunung Harta untuk pemberangkatan tanggal 1 Januari 2016. Didapatlah seat 1A seharga 350 ribu, masih harga liburan katanya. Kebetulan agen yang aku pesan tidak begitu jauh dari rumah, agen Pall tepatnya.

Harga segitu sudah termasuk makan 1x dan snack, tentunya dengan armada mewah mercedes-benz O500R 1836 berbodi terbaru SHD yang kece. Interiornya pun tak kalah nyaman, dengan 34 seat dengan legrest (sandaran kaki), 2 seat di smooking area dan toilet.

Oh ya, dalam touring kali ini aku memilih sampai Surabaya saja, karena begitu sampai sana aku harus ke Kudus sore harinya untuk pulang ke Jakarta. Terkesan tektok memang, karena aku tak punya banyak waktu untuk touring seperti ini.

Hari H tiba, setelah sholat Jum’at aku bergegas pergi ke agen untuk lapor. Sampai sana belum tahu armada apa yang mengantarku ke Solo. Kata teman-teman sih SHD, semoga saja benar.

20 menit menunggu, yang dinantipun tiba. Yess, GH 120 yang masih kinyis-kinyis teman perjalananku hari itu. Wangi dan bersih begitu masuk ke dalam kabin, ditambah kru yang ramah menambah nilai plus bagi bus ini. Saat duduk, sudah ada penumpang disampingku yang menjadi teman ngobrolku saat itu. Beliau lumayan sering bulak-balik Bogor–Malang, sebelumnya sering menggunakan armada P***** K******. Begitu tahu Gunung Harta meluncurkan armada terbarunya, Beliau pun pindah hati pada bus ini.

Pukul 13:40 bus diberangkatkan dari Pall Depok, sambil menaikan beberapa penumpang di Jalan Raya Bogor, sampai akhirnya tiba di agen Ps.Rebo untuk menaikan snack yang nanti akan dibagikan. Disini SHD lain ternyata berangkat menuju Malang dengan nomor lambung GH 119.

Pukul 14:00 sampai di Ps. Rebo, tidak lama disini, bus pun langsung digiring masuk tol. Benar-benar halus mesin dari mercy ini, suspensinya pun lembut, minim sekali goncangan. Tapi yang disayangkan dari bodynya hanya pilar melintang yang membelah kaca didepan, sungguh menghalangi pemandangan. Tentu mengganggu bagi anda yang senang melihat opera van tura.

Sebagai BisMania ternyata aku tidak sendiri melakukan touring ini, ada beberapa teman juga yang melakukan perjalanan hari ini. Aku tahu begitu setelah memposting perjalananku ini di facebook. Tapi tidak satu bus, dia naik GH 119 SHD, bus yang berjalan bersama ku dari Ps. Rebo tadi. Semoga bisa ketemu nanti di Taman Sari.

Bis berjalan santai tapi cepat, terbukti dengan dicentangnya beberapa armada siang itu. Harapan Jaya, Rosalia Indah, Luragung, dll. Lalu lintas sore itupun tak begitu ramai, beda dengan liburan Natal kemarin yang ramai dengan para pelancong yang ingin menghabiskan liburan diluar kota.

Pukul 15:20 tak terasa sudah masuk di RM. Taman Sari Cipali, rekor yang luar biasa menurutku bisa sampai secepat ini. Dan pertama kali juga bagiku singgah di RM ini. Ternyata sudah ada GH 119 yang lebih dulu sampai. Beberapa armada lain juga berhenti di RM ini, seperti Agra Mas, Maju Lancar, Harapan Jaya, dsb.

Suasana RM Taman Sari sore itu

Aku langsung tak menyia-nyiakan waktu yang ada, begitu turun langsung kucari kamar mandi dan mushola. Setelah itu barulah antri makan, cukup ramai penumpang sore itu sampai-sampai petugas RM pun kewalahan. Disini nasi bebas mengambil, namun lauk dan sayur dijatah. Aku hanya mengambil sayur dan bihun, karena tak suka daging ditambah teh tawar hangat sebagai minumannya. Rasanya tak begitu istimewa, namun cocok lah untuk sekedar mengganjal perut.

Setelah makan, seperti kebiasaan BisMania yang lain yaitu hunting, karena cukup banyak bus yang mampir disini. Terutama mengabadikan armada yang kunaiki. Bukan aku saja yang berfoto dengan SHD ini, banyak dari penumpang lain pun mengabadikan momen yang sama, tak sedikit pula yang berdecak kagum.

Gunung Harta GH.119

Busku ada disebelahnya sama seperti ini, bus ini yang dinaiki teïmanku tadi, tapi disini aku tak berjumpa dengannya. 

Pukul 16:15 bus kembali diberangkatkan, sambil diiringi mendung, dan benar saja tak lama hujan deras mengguyur Cipali sore itu. Menambah suasana syahdu. Suasana seperti inilah yang aku sukai saat naik bus.

Hujan di Tol Cipali

Pukul 18:00 bus keluar GT. Pejagan, gerbang tol terakhir yang kulalui. Ditemani OBL Denpasaran yang tertatih-tatih berjalan, menggambarkan beratnya jarak yang harus ia tempuh dengan usia yang tak lagi muda. Disini pun ada Tungggal Daya berbody Revobus yang mengawal langkahku semenjak keluar gerbang tol tadi. Gesit juga rupanya, beberapa kali coba untuk mengejar namun ternyata masih kalah cepat. Sampai akhirnya si Revobus pun mengalah.

Setelah itu, aku pun tertidur. Tanpa sadar bangun sudah di daerah Pemalang, sebenarnya sayang jika melewatkan momen seperti ini dengan tidur, banyak hal yang dilewati pasti, namun apa daya godaan mata tak bisa dihindari.

Pukul 21:00, terlihat bus-bus Muriaan mulai datang menginvasi ke arah barat. New Shantika, Nusantara, Bejeu, Haryanto, ahh.. ingin sekali mencicipi semua armada itu.

Rasa lapar tiba-tiba saja datang, ternyata begini akibat makan malam yang kesiangan. Kutahan saja sambil tidur sampai nanti berhenti lagi. Pukul 21:35 masuk RM. Sari Rasa Kendal, tapi berhenti hanya untuk check saja. Ternyata berhenti ketika sampai di sebuah SPBU tidak jauh dari RM. tadi. Karena lama, penumpang di izin kan untuk istirahat. Langsung lah aku menuju mushola dan menunaikan Shalat, setelah itu mampir ke warung untuk mengisi perut yang sudah berontak dari tadi. Untung ada warung pikirku, kalau tidak.. mustahil menahan lapar sampai Surabaya.

Sekitar pukul 22:20 bus kembali berangkat, masuk Semarang, kemudian Rembang. Ada beberapa penumpang yang mulai turun. Sampai akhirnya masuk daerah perbatasan Jawa Timur, ini pertama bagiku memasuki daerah ini. Sangat unik, disini kita bisa melihat laut yang terhampar tepat di sisi jalan, bahkan ada beberapa aktifitas nelayan juga yang terlihat. Akan lebih indah jika disiang hari bayangku.

Sepanjang perjalanan tak ada rival yang berarti, hanya Pahala Kencana dan Sindoro Satriamas yang kutemui. Selebihnya tidak ada.

Memasuki Lamongan, hujan kembali turun lumayan deras. Sampai memasuki GT Surabaya masih hujan, tapi perlahan reda ketika memasuki kawasan Bungurasih. Tidak terasa sudah sampai pada tujuan akhirku, Terminal Bungurasih. Disinilah aku turun, tak lupa kuucap terima kasih kepada Driver dan kru. Yang telah mengantarku dengan selamat sampai sini, semoga lain kali bisa kembali menaiki Gunung Harta ini.

Masih lumayan pagi, sekitar jam 4 subuh waktu itu. Alhamdulillah diluar ekspektasiku, tidak terlalu kesiangan sampai sini. Masih banyak waktu bersiap untuk perjalanan berikutnya.

==================================

PO. Gunung Harta

  • N 7294 UA
  • GH 120
  • Bogor – Surabaya – Malang
  • Executive Class (2-2) Toilet
  • 34 Seat (+ 2 Smooking Area)
  • Tarif : Rp 350.000 termasuk Service makan & Snack
  • Start : 14:00 (Depok)
  • Service makan : 15:40 (RM Taman Sari Cipali)
  • Istirahat : 21:30 (SPBU Kendal)
  • Finish : 4:00 (Surabaya)
  • New Setra Jetbus SHD Karoseri Adiputro
  • Mercedes-Benz O500R 1836 Air Suspension