Arsip Kategori: Trip Report

Jambore Nasional BisMania Community 2018

Lampung, 10 Maret 2018

Acara akbar Jambore Nasional BisMania Community merupakan acara rutin tahunan yang diadakan oleh BisMania sebagai ajang berkumpul bersilaturahmi bersama berbagai dulur dan kawan penggemar bus dari berbagai korwil dan daerah. Acara yang sudah kesembilan kalinya diadakan ini memang selalu menarik perhatian para penggemar bus. Banyak rangkaian acara yang seru dan asik, mulai dari konvoi, parade bus, pengenalan bus-bus keren, koleksi miniatur, dan tentunya hiburan malam berupa orkes dangdut.

Dalam setiap tahunnya acara Jamnas juga diadakan sebagai bentuk perayaan ulang tahun BisMania Community. Dan di 23 Maret tahun ini BisMania Community sudah menginjak usianya yang ke-10 tahun. Usia yang dimana bisa dikatakan tidak muda lagi. Dan BisMania selaku wadah para penggemar transportasi umum khususnya bus. Tak henti-hentinya menggalakkan gerakan kesadaran naik angkutan umum dengan jargon “Ayo Naik Bus”.

Ditahun ini pertama kalinya acara Jamnas diadakan diluar pulau Jawa. Korda Sumatera selaku tuan rumah, mengambil tempat di Pantai Sari Ringgung sebagai tempat venue acara.

Seperti ditahun-tahun sebelumnya. Aku berkesempatan hadir bersama rombongan Korda Jakarta Raya. PO Primadona, Adi Buzz, dan PO Hariyanto adalah beberapa PO yang berpartisipasi mengantarkan kami ke tempat acara.

Parkiran UKI Cawang, menjadi tempat kami berkumpul sebelum berangkat. Disini, para peserta dari berbagai korwil dibawah naungan korda Jakarta juga ada kawan dari korwil lain didata sebelum masuk ke busnya masing-masing. Pembagian kaos dan pemasangan banner juga dilakukan disini.

Pukul 22:35. Rombongan kami bertolak menuju RM. Jokowi Merak sebagai tempat meeting point.

PO Hariyanto berkode MD02 masih berjalan santai di jalanan tol dalam kota meski 2 temannya sudah didepan. Dalam perjalanan selepas UKI Cawang kebetulan yang bertugas dibalik kemudi adalah mandor Hendro yang nampaknya penasaran dengan mesin OF917 menggantikan sementara mandor Pollo, driver sebenarnya.

Mercedes-Benz OF917 “Kecil namun bernyali”

Pak Mandor dibalik kemudi

Pukul 00:20, rombongan kami singgah sebentar untuk istirahat di rest area KM 68 Serang. Sambil sesekali mencari kabar rombongan lain.

Saat istirahat di KM 68

Setelah hampir satu jam, rombongan kami kembali berangkat menuju RM. Dharma Raya Merak untuk istirahat sarapan pagi.

Sesampainya di rumah makan, panitia kami membagikan servis sarapan pagi. Sambil istirahat, beberapa dari kami gunakan waktu untuk ngopi dan sarapan.

Setelah dari RM. Dharma Raya. Rombongan kami segera menuju meeting point Jamnas untuk berkumpul bersama rombongan korwil dan korda lain. Tempat meeting point ini berada di RM. Jokowi, letaknya tidak begitu jauh dari tempat istirahat kami sebelumnya.

Berkumpul bersama sedulur lain

Dari RM. Jokowi ini semua rombongan bus peserta Jamnas nantinya akan dikoordinir untuk menuju Pelabuhan Bakauheni secara beriringan. Begitu pula saat masuk kapal dan menuju lokasi Jamnas.

Foto bersama BMC Korda Jakarta Raya

Penyeberangan kami lalui selama 2 jam menggunakan kapal. Fasilitas orkes dangdut menjadi hiburan utama kami diatas kapal pagi itu. Sangat menghibur. Banyak dari kami yang ikut berjoget bersama para biduan. Ramai sekali. Seperti kapal ini hanya diisi oleh rombongan kami saja.

Aku dan beberapa kawanku lebih memilih berada di dek atas kapal yang terbuka. Menikmati semilir angin laut.

Perjalanan selama 3 jam diatas kapal terasa sangat cepat. Tau-tau kami sudah harus kembali ke bus, karena kapal akan segera bersandar.

Dan akhirnya. Sampai juga aku ditanah Sumatera. Pertama kalinya diriku menginjakan kaki disini.

Rombongan bus kami langsung membuat barisan untuk iring-iringan. Dipimpin langsung oleh patwal dan para panitia Jamnas. Bus kami berjajar membuat barisan yang panjang sekali. Ada sekitar 20an bus waktu itu. Inilah momen yang paling seru menurutku.

Konvoi menuju lokasi Jamnas

Bus yang kunaiki memang yang terkecil diantara puluhan bus peserta Jamnas lainnya. Tapi jangan salah. Walau kecil begini, sering membuat rusak barisan Jamnas. Aksi seset kanan-kiri, membuat rombongan lain harus mengalah.

Menjelang dzuhur. Rombongan kami menepi di masjid Kalianda. Untuk makan siang dan memberi jeda bagi yang ingin mandi dan ke air. Disini, rombongan dari Lampung, Riau juga ikut bergabung. Disini pula kami sempat berfoto bersama para polisi yang mengawal acara kami, sebagai bentuk dukungan akan keselamatan berlalu lintas dijalan raya.

Setelah hampir satu jam. Rombongan kami kembali berangkat menuju pantai Sari Ringgung, tempat acara berlangsung.

Demi cepat sampai lokasi acara. Rombongan kami tidak melewati kota Lampung. Tetapi mengambil lintas barat via Tarahan – Telukbetung demi menyingkat waktu perjalanan.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya rombongan kami sampai di pantai Sari Ringgung. Tempat acara sudah ramai oleh berbagai stand, panggung, dan rombongan jamnas lain yang sudah lebih dulu sampai. Kedatangan kami langsung disambut kemeriahan dari tuan rumah.

Beberapa dari kami turun sementara bus-bus diparkir menghadap pantai.

Lokasi fotogenik pantai Sari Ringgung

Panggung acara Jamnas

Pantai berpasir putih dengan laut dangkal berwarna biru bening. Indah sekali. Namun, permukaan pantainya cukup banyak batu berkarang yang cukup bikin kaki kesakitan.

View lokasi Jamnas

Ada banyak stand jajanan maupun merchandise yang berdiri.

Menjelang sore, para peserta rombongan melakukan sesi foto bersama. Ada juga model berpakaian khas Lampung yang sengaja dihadirkan.

Model Jamnas 2018

Kegembiraan para peserta rombongan cukup terasa. Bagaimana rasanya bertemu dengan sedulur satu hobi yang terpisah dengan jarak. Momen perkumpulan seperti ini menjadi saat yang tak bisa dilewati begitu saja. Ajang tahunan ini bagai wadah bagi siapapun untuk silaturahmi antar anggota.

Namun, ketika maghrib menjelang. Cuaca tiba-tiba berubah menjadi hujan deras. Angin kencang disertai petir menggelegar membuyarkan acara. Seluruh rangkaian acara langsung berantakan. Stand-stand berkibaran. Panggung utama pun diturunkan.

Pukul 19:30. Akhirnya diputuskan perayaan simbolis ulang tahun BMC dirayakan di bawah tenda sederhana dengan penerangan seadanya. Doa dan harapan bagi kebaikan komunitas ini tentunya selalu dipanjatkan. Rombongan pun diarahkan kembali ke pelabuhan Bakauheni setelahnya.

Tepat pukul 20:30 rombongan kami bergerak meninggalkan kawasan pantai Sari Ringgung. Beriringan seperti saat pertama datang kesini.

Kami, dan rombongan lain akhirnya saling berpisah di pantai Sari Ringgung. Menuju tujuannya masing-masing. Semoga setelah ini kami bisa kembali berjumpa.

BMC Korda Jakarta Raya – Korwil Guci – Korwil Bekasi

Memang benar kata pepatah, tak perlu sedarah untuk menganggap orang lain saudara.

Salam sejatinipun seduluran.


Kemalangan menuju Malang (1/2)

[Bus Trip] Jakarta – Solo – Surabaya – Malang

Berawal dr keinginanku untuk menghadiri acara haul akbar di pondok pesanten Darul Hadist Malang, jawa timur. Kebetulan acara yang diadakan di penghujung Maret itu bertepatan dengan libur panjang hari raya Nyepi. Akupun menyiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari demi acara itu, termasuk transportasi, penginapan dan tentunya surat izin cuti selama 3 hari dari kantor tempatku bekerja. Aku memang berniat untuk datang kesana sejak lama, selain niat bertabaruk mengambil berkah sekaligus juga ingin bersilaturahmi dengan para Ulama dan guru disana. Sebenarnya ada banyak armada transportasi yang langsung menuju Malang dari Jakarta. Tapi rasanya tidak seru jika langsung sampai ketempat tujuan. Akhirnya kuputuskan untuk memakai moda transportasi berbeda alias estafet sampai Solo, dengan perhitungan harus sampai di Malang sore hari—karena rangkaian acara pertama dimulai ba’da Ashar—. Tapi ternyata semuanya tidak berjalan mulus.

Jumat, 24 maret 2017

Sore itu sekitar jam 4, setelah urusan kantor selesai aku langsung menuju terminal Pulogebang menggunakan ojek online. Dengan hitung-hitungan rencana yang sudah kubuat sebelumnya, aku memilih menggunakan bus sampai Solo lalu disambung dengan kereta api sampai Malang. Semua tiket sudah kupesan jauh hari. Dan aku kembali memilih PO. Raya untuk mengantarku ke Solo. Kebetulan bus yang kunaiki berangkat pukul 17:30. Seharusnya masih sangat keburu jika aku berangkat pukul 4 sore, tapi ternyata jalanan sore itu sangat tidak bersahabat. Kemacetan yang terjadi dibeberapa ruas jalan memaksaku telat sampai di terminal Pulogebang. Aku langsung bergegas menuju agen untuk konfirmasi, dan ternyata bus baru jalan 10 menit lalu. Ahh kecewa rasanya, rasa takut akan gagalnya semua rencanaku kini menghantui perasaanku. Akhirnya oleh sang agen aku dioper ke bus yang berangkat pukul 18:30 dengan kelas yang sama. “Masih ada harapan” pikirku.

Memang salah besar sih berpergian disaat libur panjang seperti ini, apalagi jika mengandalkan waktu segalanya menjadi tidak jelas. Beruntung aku bertemu seorang teman sesama penggemar bus yang juga akan berangkat ke Solo menggunakan bus yang sama.

Setelah menunggu agak lama ditengah kegelisahan karena tertinggal armada. Akhirnya bus kami datang. Dan sepertinya ini armada bantuan, berbodi Jetbus rombakan. Masih cukup nyaman menurutku dengan kelas 28 seat. Kuamankan seat tengah sambil mengamati suasana terminal yang masih saja ramai, kulihat jalan bebas hambatan sepertinya agak renggang tidak seperti sore tadi. Semoga ini pertanda baik. Kulihat jam digital mulai bergerak ke angka 20 dan bus belum juga jalan. Sedikit terdengar masih ada beberapa penumpang ternyata belum sampai. Hmm, kuabaikan kekacauan itu dan kuambil handpone dari saku jaket berharap ada berita baik yang akan menghiburku.

Bus pun akhirnya diberangkatkan pukul 20:10, tidak lama setelah kelas Super Top berangkat. Dengan okupansi penumpang rata bangku sepertinya ini menjadi bus Raya terakhir yang dipersiapkan berangkat. Dan huawala, kemacetan langsung menghadang kami begitu memasuki ruas Tol Cikampek. Kuajak saja penumpang disebelahku ngobrol berharap kemacetan cepat berlalu. 

Akhirnya pukul 10.05 pagi sampailah aku di terminal Tirtonadi. Senang dan kesal mengaduk perasaanku. Dan resiko yang terjadi adalah aku kembali tertinggal kereta menuju malang. Hanya beda 15 menit padahal dari jadwal keberangkatan. Dan akhirnya aku langsung mencari moda transportasi lain yang sebisa mungkin sampai di Malang sesuai rencanaku. Kulihat diwebsite jadwal kereta ke Malang baru ada lagi nanti malam, tidak mungkin aku menunggu selama itu disini. Akhirnya Kuberanikan diri menuju stasiun menggunakan becak berharap ada pilihan kereta lain, tidak apa-apa estafet lagi yang penting bisa secepatnya sampai Malang.

“mba, kereta yang ke Malang adanya jam berapa ya ?” tanyaku pada petugas loket stasiun Solo Balapan.

“sebentar saya cek dulu ya… udah ngga ada mas yang ke Malang, ada juga jam 1 malam nanti ?”

“yahh, yang sore atau siang gitu ngga ada mba ?”

“ngga ada, kalo mau transit aja mas, ikut ke Surabaya dulu, dari sana baru naik kereta lokal”

“ jam berapa tuh mba sama harganya berapa ?”

“yang terdekat ada Ranggajati jam 1 untuk kelas excekutif 275 ribu kalo yang bisnis 205”

“hmm gitu ya.. (setelah agak lama mikir) ..yaudah yang exenya aja deh”

“berapa orang ?”

“1 aja mba”

Dilema sebenarnya. Aku harus cepat memilih di situasi seperti itu. Walaupun konsekuensinya tidak sampai sana sesuai planning dan tidak mengikuti acara dari pertama. Tapi disatu sisi ada kesenangan tersendiri juga. Aku jadi bisa lebih mengeksplorasi tempat-tempat baru, pengalaman baru serta mengamati bagaimana kondisi lingkungan sekitar. Ada banyak hal yang kudapat.

Pengeras suara berbunyi menyuruh kami untuk bersiap di peron. Kereta itu sudah tampak penuh ketika aku masuk ke dalam gerbong eksekutif 3. Ku duduk di seat 8D tepat disamping kaca. Tampak seorang perempuan paruh baya sudah sedari awal mungkin duduk di kursi sampingku. “Jember”, begitu jawabnya ketika kutanya kemana  ia hendak pergi.

Kereta melaju tepat pukul 13:00. Pergi meninggalkan kota Solo ini menuju tujuannya. Kunikmati perjalanan sambil kusantap sekotak Chicken Teriyaki seharga Rp 30.000. Dan ini aku baru makan nasi lagi semenjak service makan di RM Indorasa 2.

Setelah melalui perjalanan kereta yang monoton, Pukul 17:35 tiba juga di stasiun Surabaya Gubeng. Aku bergerak cepat karena harus mengejar kereta lokal Penataran Doho yang berangkat pukul 17:50. Tapi, bentuk stasiun yang berbeda sisi antara kereta lokal dan kereta jarak jauh membuatku kembali tertinggal kereta. Aku harus berjalan memutar keluar stasiun sejauh 200 meter hanya untuk berpindah peron. Entah kenapa tidak dibuat jalur khusus untuk penumpang yang ingin berganti kereta tanpa harus keluar stasiun.

Terpaksa aku harus menunggu kereta lokal terakhir yang berangkat pukul 20:45. Sungguh keterlaluan namanya kalau ini sampai ketinggalan juga. Kuputuskan duduk di depan minimarket pinggir jalan stasiun Gubeng sambil mengamati orang-orang. Rintik hujan yang turun seperti menangisi keadaanku. Payah sekali memang. Aku pun bagai tak percaya pada diriku sendiri. Bagaimana bisa berturut-turut tertinggal seperti itu. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga masih tertimpa genteng juga. Seharusnya mungkin saat ini aku sudah sampai dan sedang menghadiri acara tanpa masih bersusah payah disini.

Waktu mulai mendekati jam kedatangan kereta, aku masuk ke dalam sisi stasiun yang masih kokoh dengan gaya arsitek kolonial. Hanya Rp 10.000 perjalanan dari stasiun Surabaya Gubeng ini menuju stasiun Malang. Dan lagi-lagi, ternyata kereta terlambat datang dari waktu semula. Membuatku makin larut saja sampai di Malang. Dan kembali kuajak diri ini untuk tenang, walau sebenarnya ingin segera cepat-cepat berbaring di kasur karena badan rasanya mau rontok.

Akhirnya pukul 21:35 kereta datang. Telat 1 jam. Langsung kucari bangku dekat pintu bordes, berharap bisa leluasa keluar masuk karena sebenarnya aku mendapat tiket berdiri. 20 menit kemudian kereta berjalan. Berhenti di tiap-tiap stasiun yang dilewatinya. Kuamati keadaan diluar dari pintu gerbong yang gelap itu. Dari pantulan kaca itu kulihat diriku nampak berdiri lesu didalam kereta yang melaju dijalur Surabaya Malang. Oh Malang, aku datang. Perjalanan 35 jam itu hampir menemui ujungnya.

Dan akhirnya pukul 23:40 sampailah juga aku di stasiun Malang kota lama. Raut kegembiraan tergambar di mukaku. Bagai merayakan diri sendiri, yang bersusah sampai kesini. Patung singo edan tampak menyelamati kedatanganku. Kota itu tampak dingin dan sepi saat aku berjalan menuju tempat penginapan. Dan akupun bersiap diri untuk hari esok.

====================================

Jakarta – Solo

  • PO Raya
  • Executive 28
  • 28 seat (2-2) + Toilet
  • Start : 20:05 (Terminal Pulogebang)
  • Finish : 10:10 (Tirtonadi Solo)
  • Tarif : Rp 215.000 termasuk service makan + snack

Solo – Surabaya

  • KA Ranggajati
  • Cirebon – Jember 
  • Start : 12:25 (Solo Balapan)
  • Finish : 17:40 (Surabaya Gubeng)
  • Tarif : Rp 275.000

Surabaya – Malang

  • KA Penataran Doho
  • Surabaya – Malang – Blitar
  • Start : 21:50 (Surabaya)
  • Finish : 11:50 (Malang)
  • Tarif : Rp 10.000

Yogya In Love

Family Gathering BisMania Community Korda Jakarta Raya

Yogyakarta, 3-5 Februari 2017

Sore itu, selepas maghrib. Kami dan kawan-kawan lainnya berkumpul di lapangan parkir di daerah UKI Cawang. Sambil mengobrol satu sama lain sembari menunggu kawan lain yang belum datang.

Malam ini kami akan berangkat ke Yogya. Bukan untuk acara apa, tapi hanya rekreasi rutin bersama para penggemar bus.

Pukul 19:20. Setelah sekiranya telah berkumpul semua, bus pun dijalankan. Menggunakan bus Laks bernomor 408 G, berchassis Mercedes-benz OH 1626, yang akan mengantar kami pulang dan pergi.

PO Laks 408 G

Menyusuri jalanan Tol Jakarta – Cikampek yang selalu padat seperti biasanya, dan baru lancar ketika melewati GT Cikarang Utama. Beberapa kali sempat bertemu bus Cirebonan, Sinar Jaya dan Gunung Mulia. Tapi yang paling menarik adalah, ketika bus kami tiba-tiba saja diblong oleh Karunia Bakti. Bus tujuan Singaparna ini seperti dikejar waktu. Blong kanan-kiri, melewati berbagai kendaraan di depannya dengan lihai. Seperti tak mau kalah, kamipun mencoba mengejar. Gengsi dong masa chassis 1626 dikalahkan oleh Hino AK (mesin depan). Apalagi sepertinya si supir Karunia Bakti tersebut tahu siapa orang-orang yang ada di dalam bus ini setelah melihat banner kami di belakang. Sempat berduel selama beberapa menit, tapi sepertinya supir kami kalah skill dibanding si Karunia Bakti itu, atau supir kami kurang saweran ? hahaha.

Setelah melalui jalan Tol yang panjang. Pukul 23:00, kami singgah di RM Menara Kudus Gringsing, Jawa Tengah untuk makan malam. Rumah makan yang tidak asing bagi pengguna bus karena merupakan milik PO Haryanto. Pertama kali juga bagiku menikmati makan disini walau belum pernah mencoba busnya, hehe.

Suasana RM Menara Kudus

Kurang lebih 45 menit kami berhenti, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali. Merasa tak ada yang menarik di jalanan, aku putuskan tidur. Tersadar karena jalanan yang berkelok ala kontur pegunungan, ternyata sedang berada di daerah Temanggung. Di jalur yang sering dilewati Handoyo dan OBL menuju Yogya. Ah, Andai perjalanan dilakukan siang hari pasti lebih indah.

Paginya di waktu Subuh, kami berhenti di sebuah masjid di daerah Ngadirejo-masih Temanggung-untuk melaksanakan kewajiban. Namanya masjid Wali Limbung. Konon, ini merupakan masjid bersejarah di Temanggung, peninggalan seorang Ulama penyebar Islam di Temanggung.

Berhenti di Masjid Wali Limbung

Setelah kurang lebih 1 jam kami berhenti disini, perjalananpun dilanjutkan. Sambil diiringi mentari fajar yang tampak malu-malu dibalik awan, dan gunung Sindoro yang gagah berdiri seolah-olah mengawasi kami. Hari itu cerah, jadi sangat asyik menikmati pemandangan.

Selamat pagi Yogya.

Sekitar pukul 7:30 kami memasuki Yogya. Ah, seperti rindu yang terbalaskan saat kembali kesini.

Sampai akhirnya, sang supir bus menyeret kami ke suatu tempat. Oh, rumah makan nampaknya. Kami pun bergegas menikmati service makan kedua alias sarapan. RM Ambarketawang, begitulah tulisan yang terdapat disebuah billboard tepat didepan bangunan rumah makan. Yang di sampingnya terdapat pom bensin yang memungkinkan para pengunjung rumah makan mengisi makan kendaraannya juga disini.

RM Ambarketawang, Yogya

Setelah makan, sekitar pukul 9:00 pagi bus kembali dijalankan menuju tempat wisata pertama yaitu Goa Pindul yang terletak di Gunung Kidul. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Ambarketawang. Perjalanan selama itu terasa menyenangkan, karena dipandu oleh tour guide cantik yang sangat lugas memberikan informasi tentang Yogyakarta.

Ketika menuju Gunung Kidul. Kita akan melewati Bukit Bintang. Dari sini kita bisa melihat kota Yogyakarta secara keseluruhan dari atas bukit.

Tidak jauh darisana. Terdapat ikon tulisan Gunung Kidul yang dipercantik dengan taman yang asri.

Sumber : Google Images

Sekitar pukul 10:30 kami tiba di kawasan Gunung Kidul. Langsung kami bersiap-siap mengganti pakaian karena sudah tidak sabar bermain air.

Saat memasuki kawasan. Kita akan lebih dulu diarahkan dilokasi tunggu. Disini kita akan dibagikan pelampung dan ban besar sebagai penopang badan kita saat nanti mengapung. Disini juga bisa melakukan pendaftaran bagi yang ingin memasuki Goa, dan juga terdapat tempat penitipan bagi para pengunjung yang ingin menitipkan barang bawaannya. Karena selama di dalam Goa tidak diperkenankan membawa kamera atau yang sejenisnya demi keamanan. Untuk harga masuk sendiri aku tidak tahu, karena begitu sampai sana biaya masuk sudah ditanggung panitia. Dan lokasi Goanya sendiri masih berjarak sekitar 100 m dari tempat tunggu itu.

“Ramee bagettt !!”

Ujar salah satu kawan kami.

Aku juga merasa demikian. Mungkin dikarenakan sedang weekend jadi antusiasme wisatawan yang datang kesini juga meningkat. Bagaimana dihari libur panjang, mungkin akan lebih banyak pengunjung dari sekarang.  Tidak bisa dibayangkan penuhnya Goa oleh badan-badan manusia.

Goa Pindul

Cara masuk ke Goa ini harus menggunakan ban sebagai pelampung yang kita dapat sebelumnya, dan saling berpegangan satu sama lain, untuk nanti akan ditarik oleh pemandu yang sudah disiagakan dibeberapa titik Goa.

Suasana di dalam Goa sangat sejuk, udaranya pun segar. Ditiang-tiang atas Goa bersarang kelelawar yang sedang tidur. Panjang Goa Pindul sendiri sekitar 350 m. Selama perjalanan itu kita akan melewati 3 sesi. Yaitu, remang-remang, gelap, dan terang. Dan didalam juga kita akan melewati sebuah jalur yang hanya akan bisa dilewati oleh 1 orang saja. Seru lho.

Dan sebelum menuju pintu keluar Goa, kita akan disuguhi pemandangan cahaya yang menyelinap masuk ke dalam Goa. Sangat indah sekali.

Sumber : Google Images

Kami pun keluar Goa dengan tawa riang. Merasa puas dengan perjalanan di Goa tadi.

Setelah di Goa Pindul. Siangnya kami langsung bergerak menuju pantai. Tapi kami tidak langsung kesana karena harus makan siang dulu.

RM Griyo Wono, tempat kami makan siang

Pukul 14:30 kami menuju pantai. Sepanjang namanya. Kenapa tidak ke Indrayanti, kami tahu disana pasti ramai. Makanya kami memutuskan pergi ke pantai ini karena tidak terlalu ramai, dan letaknya juga tidak terlalu jauh dari Indrayanti.

Begitu kesini tempatnya memang masih sepi, akses menuju pantainya juga agak kepelosok. Tapi terbayar begitu ke area pantai. Laut biru dan pasir putih seperti menyapa kami yang baru pertama kali kesana.

Foto session di Pantai Sepanjang

Disana kami cuma 1 jam saja. Karena terbatas waktu untuk nantinya kami harus ke lokasi terakhir yaitu Malioboro. Kami memang harus kesini. Nggak ke Yogya katanya kalo nggak mampir ke Malioboro.

Sebelum ke Malioboro. Kami sepakat untuk ke tempat oleh-oleh yang menjual makanan khas Yogya yaitu Bakpia. Terletak tidak jauh dari bandara Adisutjipto, toko ini menamakan dirinya Bakpia 25. Tempatnya memang ramai, bahkan parkirannya juga muat beberapa bus. Konon, pabrik pembuatannya pun masih satu atap dengan tokonya. Makanya kita akan mendapati beberapa kotak Bakpia masih terasa hangat. Tetapi tidak hanya Bakpia, panganan lain khas Yogya pun tersedia disini. Membuat kami sedikit kebingungan memilih yang mana sesuai isi kantong kami.

Tempat oleh-oleh Bakpia

Setelah semua dirasa cukup. Perjalanan kembali dilanjut dan pada pukul 19:30 kami sampai di parkiran Abu Bakar Ali (ABA). Sebuah parkiran bertingkat yang memang telah dibuat khusus untuk para wisatawan yang ingin menitipkan kendaraannya. Letaknya sangat strategis, tepat di sebelah utara jalan Malioboro dan sebelah timur stasiun Yogya. Jadi hanya dengan menyebrang jalan dari parkiran ABA anda sudah sampai di Malioboro. Kami diberi waktu sampai pukul 22:00 untuk bebas menikmati kawasan Malioboro malam itu. Dan ternyata disana kami juga disambut oleh dulur-dulur dari BMC Yogya.

Oh Yogya. Aku benar-benar merasakan suasana Yogya yang indah malam itu.

Aku, bersama 4 kawanku yang lain memutuskan pergi ke tugu. Ya, tugu Yogya. Tidak jauh, cukup berjalan kaki sejauh ± 300 meter ke utara dari parkiran bus tadi.

Begitu disana, sudah banyak muda-mudi yang sengaja berkunjung juga kesana. Karena lokasinya yang berada tepat di tengah-tengah perempatan jalan. Membuat lokasi ini sangat ramai.

Berfoto di depan Tugu Yogyakarta

Setelah puas dari sana, kami pun kembali ke parkiran bus tadi mengingat waktu sudah mendekati pukul 22:00. Saat dijalan kembali, kami sempatkan membeli beberapa makanan di sebuah angkringan. Sekedar untuk mengganjal perut. Tentu tidak makan disini, melainkan dibus.

Saat sudah di parkiran ABA, ternyata bus kami sudah pindah ke depan karena terdorong oleh bus lain yang baru masuk parkiran. Memang begitulah sistem parkiran ini.

Sampai di depan kami sempatkan sowan kepada dulur Korwil Yogya lalu dilanjutkan dengan foto session. Walaupun sebelumnya banyak yang belum kenal, tapi setidaknya dari pertemuan ini membuat kami menjadi dekat. Hanya waktu yang akhirnya memisahkan kami kembali. Terimakasih dulur Korwil Yogya semoga bertemu di event lain.

BMC Jakarta Raya Yogya In Love

Sekitar pukul 22:35 rombongan kami mulai keluar parkiran ABA dan meninggalkan Yogya. Sama seperti aku bilang sebelumnya, Yogya masih tampak ramai malam itu. Seperti tak pernah tidur.

Ketika jalan pulang, aku tak begitu ingat lewat mana, apa lewat jalur yang sama saat berangkat atau tidak. Karena aku lebih memilih istirahat, bukan hanya aku, tapi yang lain juga.

Ketika ku tulis tulisan ini. Yang ku ingat saat pagi itu kami mampir ke Cirebon untuk sarapan. Kami berhenti di sebuah ruko berlantai 2 yang terletak persis di seberang Mall Cirebon bertuliskan nasi Jamblang. Makanan khas asli Cirebon ini menjadi menu pengisi perut kami pagi itu.

Saat berhenti di Cirebon

Ketika masuk, suasana didalam ternyata sudah ramai padahal masih cukup pagi. Kami pun harus mengantri untuk memilih menu secara prasmanan. Terdapat lauk yang banyak tersedia, jadi kita tinggal pilih maunya apa. Tak perlu takut tak bisa bayar, karena harga disini sangat terjangkau. Untuk menikmati 2 bungkus nasi Jamblang + perkedel 2 + sayuran + teh hangat hanya merogoh kocek Rp. 9000. Rasanya ?yang pasti sangat khas terasa dan bikin ketagihan.

Setelah puas berkenyang-kenyang. Kami lanjutkan kembali perjalanan. Menyusuri sedikit jalanan kota Cirebon yang cerah lalu menuju Tol Cipali untuk kembali pulang. Perjalanan bisa dibilang lebih santai dan menikmati. Sambil dibumbui oleh keisengan teman kami yang membuat kami harus menutup hidung selama perjalanan. Asem!.

Akhirnya, jam 12 tengah hari kami sampai di Jakarta, tepatnya parkiran UKI tempat kami memulai start perjalanan ini sebelumnya. Aku dan beberapa yang lain memilih sampai Pool saja karena akan lebih dekat ke rumah.

Sambil tak lupa mengucapkan terimakasih kepada para kru yang mengantar kami pergi dan pulang dengan selamat. Akhirnya kami pamit pulang ke rumah masing-masing.

Terimakasih teman-teman semua atas partisipasinya. Membuat kami semakin dekat dan kompak. Semoga dipertemukan kembali dalam event lain.

Salam Sejatinipun Seduluran.