Semua tulisan dari Fery Hidayat

Trip Report Budiman Yogya – Tasik

[Bus Trip] Yogya – Tasik

Sabtu, 17 Februari 2018

Setelah berembuk dan diskusi alot. Kami akhirnya memutuskan menggunakan jasa PO Budiman untuk mengantar kami ke Tasik.

Tadinya, plan kami dari Jogja ini adalah ingin naik Efisiensi sampai Buntu, lalu disambung Sugeng Rahayu (SR) sampai Tasik atau Bandung. Namun, faktor tidak ingin repot dan menghindari ketidak jelasan armada, kami memilih cari aman.

Lagipula, Budiman IL239 sudah menggoda kami untuk segera naik ke dalam singgasananya. Mencicipi cooler di jalur selatan seperti ini pasti memberikan sensasi tersendiri.

Budiman menuju Tasik yang sudah siap di jalur

Pukul 17:30 tepat, bus kami diberangkatkan. Menjadi angkatan terakhir Budiman yang diberangkatkan dari terminal Giwangan ini. Ada sekitar 2/3 penumpang yang naik dari total kapasitas bangku.

Diberangkatkan dari terminal Giwangan

Jalan ring road timur cukup lancar sore itu. Memang, ada beberapa lampu merah yang agak banyak disini. Sampai akhirnya, bus kami berhenti di agen Budiman Imogiri. Menaikan sekitar 5 penumpang dan beberapa karung paket. Aku turun, sekedar mengabadikan armada.

Bersama Budiman IL239

Setelah 20 menitan berhenti, bus kembali diberangkatkan.

Senja mulai datang, bersama malam yang menjelang. Lampu-lampu kota dinyalakan. Warga lokal bersembunyi dibalik pintu.

Alunan kriyet suspensi dan bunyi rem udara tampak indah bersahutan. Berkolaborasi membentuk irama khas. Bus tampak fasih melahap berbagai liukan di depan dengan lembut.

Hingga pada akhirnya sekitar pukul 20:20 malam. Bus diberhentikan di agen kontrolan daerah Purworejo. Kondektur turun, mempersilahkan para penumpangnya istirahat dan ke toilet. Agen kontrolan ini menyatu dengan warung, jadi para penumpang bisa sekalian membeli panganan sekadar untuk mengganjal perut. Walaupun nanti juga akan berhenti lagi untuk servis makan.

Saat berhenti kontrolan di agen Purworejo

Sekitar 15 menit berhenti. Bus kembali diberangkatkan.

Jalur sepanjang Purworejo ini tampak sepi. Keramaian terlihat hanya di pusat-pusat kota. Kami juga tidak menemukan sesama bus lain kecuali rombongan pariwisata.

Sang driver masih setia dibalik kemudinya. Memacu kendaraannya dengan gaya mengemudi yang tak berubah sejak awal berangkat. Tetap nyaman dan sukses menina bobokan penumpang. Aku rasa kebanyakan driver Budiman memiliki ke-khas-an tersendiri setiap mengemudi. Inilah mungkin kenapa bus ini dijuluki Rajanya jalur selatan.

Sekitar pukul 22:00. Kami akhirnya berhenti di rumah makan Taman Sari Rasa didaerah Sampang Cilacap untuk servis makan. Begitu melihat namanya, aku langsung teringat dengan dua tempat servis makan bus-bus malam di Pantura yaitu RM. Taman Sari Cipali dan RM. Sari Rasa Kendal. Mungkin nama rumah makan ini terinspirasi dari dua nama tempat makan tersebut ya. Mungkin saja.

Saat servis makan di RM Taman Sari Rasa

RM. Taman Sari Rasa ini cukup luas. Terdapat dua lapangan parkir yang cukup luas di depan jalan dan didalam area rumah makan, yang dipisahkan oleh bangunan ruang makan. Dibagian belakang ternyata terdapat area kolam renang. Rumah makan ini biasa menjadi tempat bagi bus-bus Budiman tujuan Wonosobo, Yogya, Solo, untuk servis makan.

Menunya cukup standar servis makan bus malam. Sepiring nasi diisi sayur, daging/telur, kerupuk dan teh tawar. Dan rasanya cukup enak menurutku.

30 menitan berhenti. Bus kami kembali berangkat. Karena faktor kenyang dan nyamannya ayunan chassis cooler. Sehabis rumah makan aku sukses tertidur. Dan yang ku ingat, bangun-bangun sudah masuk pool Tasikmalaya. Segera bergegas aku turun, sambil memperhatikan barang bawaan takut tertinggal. Saat kulihat jam, ah baru jam 3 ternyata. Kami pun akhirnya memilih beristirahat di pool Tasik ini sambil menunggu bus angkatan pertama menuju Jakarta paginya.


PO Budiman

  • Bisnis AC
  • 49 Seats (2-2)
  • Non Toilet
  • Start : 17:30 (Terminal Giwangan)
  • Control : 20:35 (Agen Purworejo)
  • Break : 22:05 (RM Taman Sari Rasa)
  • Finish : 2:30 (Pool Tasik)
  • Mercedes-Benz OH 1521 Intercooler
  • JetbusHD Karoseri Adiputro

Semut Banter yang mencuri hati

[Bus Trip] Kudus – Jakarta

Sabtu, 2 September 2017

Akhirnya, kami meminta beberapa nomor agen terminal Kudus kepada teman kami yang lain, berharap masih mendapat bus untuk pulang ke Jakarta. Dan, Alhamdulillah sepasang hotseat dari armada berkelir merah masih bisa kami dapatkan dalam kondisi go show seperti ini. Ya, AgraMas, rezeki memang.

Apalagi, PO ini merupakan pemain baru yang mencoba peruntungannya di kancah Muriaan dengan rute jabodetabek menuju Bojonegoro. Tapi kendati begitu, PO ini seperti memberi magnet tersendiri bagi siapapun yang penasaran karenanya. Seperti filosofi semut “ngga dimana-mana rame”, itulah mengapa kebanyakan orang menjuluki PO ini semut merah.

Setelah mendapatkan tiket, kami sempatkan membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga dan teman. Setelah itu kami kembali ke terminal untuk istirahat sebentar, karena bus baru akan berangkat setelah maghrib.

Semakin sore, kondisi terminal semakin ramai. Kondisi seperti ini memang sudah biasa terjadi, karena bus-bus dari arah Kudus, Bojonegoro, Pati ataupun Rembang baru akan berangkat menuju Jakarta di sore sampai malam hari. Itulah mengapa banyak mania/penggemar bus yang datang kesini saat sore hari untuk hunting atau sekedar main.

Masih kinyis-kinyis

Pukul 17:40, bus yang akan kami naiki akhirnya datang. Berchassis Mercedes-Benz OH 1626 NG dengan body terbaru JetbusHDD rakitan kuda jingkrak Malang dengan nomor lambung BM91. Tampak masih gress begitu kami pandangi. Menurut orang agen, bus ini belum lama datang dari Karoseri.

Bentuk tiket yang simple

Bus yang kami naiki, memiliki rute Bojonegoro – Pulogebang – Kp. Rambutan – Cileungsi. Dengan tarif sebesar Rp 200.000 saja, sudah termasuk snack dan prasmanan 1x. Jika dari arah timur, bus akan berhenti service makan di RM. Kendil Mas Gringsing, sedangkan jika dari arah barat, bus akan berhenti service makan di RM. Taman Sari Cipali.

Armada pelari Bojonegoro sore itu

Pukul 18:30 bus diberangkatkan dari terminal Kudus. Naluri pelari sudah terasa begitu keluar terminal. Sayangnya, tidak menemukan lawan sepadan malam itu.

Menggunakan chassis OH 1626 NG

Service makan di RM Kendil Mas

Pukul 21:40, bus memasuki RM. Kendil Mas Gringsing untuk service makan. Kita tidak akan menemukan PO lain disini selain AgraMas.

Menu service makan

Menu service makan yang cukup enak, lokasinya pun sangat luas, apalagi kamar mandinya. Tapi saat kami berhenti disini terbilang sangat sebentar, membuat kami tidak bisa leluasa beristirahat.

Bed cover yang sangat tebal

Selepas rumah makan kami tertidur. Karena tidak menemukan hal menarik sepanjang perjalanan. Dan akhirnya aku berpisah dengan temanku, karena dia turun di terminal Pulogebang. Akupun turun juga, begitu sampai di depan terminal Kp. Rambutan.

====================================

Kudus – Jakarta

  • PO Agra
  • B 7325 VGA
  • BM 091
  • Executive Class
  • 36 Seat (2-2) + Toilet & Front Smooking area
  • Tarif : Rp 200.000
  • Start : 18:20 (Terminal Kudus)
  • Service : 21:40 (RM Kendil Mas)
  • Finish : 2:04 (Terminal Kp Rambutan)
  • JetbusHDD Karoseri Adiputro
  • Mercedes-Benz OH 1626 Air Suspension

Etape 3 Kota Selatan – Utara (3/3)

[Bus Trip] Yogya – Kudus

Sabtu, 2 September 2017

Gema adzan subuh membangunkan kami dan para penglaju lainnya. Kami pun bergegas segera melaksanakan shalat subuh.

Selesai sholat, kami memutuskan untuk sarapan di kantin terminal. Sepiring nasi rames lengkap dengan sayur krecek mejadi menu pembuka kami hari itu. Sayangnya hanya itu yang bisa kami lahap, mengingat tak banyak waktu untuk sekedar menjelajah kuliner, karena memang bukan hal itu tujuan kami.

Setelah sarapan, kami menuju jalur pemberangkatan bus-bus tujuan Solo dan Semarang. Karena menurut info yang kami dapat, untuk dapat naik bus Patas Hariyanto dari jalur ini. Tiba-tiba seorang pemuda dengan kemeja salah satu PO datang menghampiri kami.

“Mau naik Hariyanto mas ?”

Rupa-rupanya pemuda ini tau benar maksud kami.

“Owh iya mas, jalan jam berapa ya mas ?”

“Nanti setengah 7, ditunggu saja disini jangan kemana”

Sebuah tiket sampul dengan mahar Rp 70.000 pun akhirnya mengakhiri transaksi kami.

Patas 05 yang siap berangkat pagi itu

Sambil menunggu, kami sempatkan membersihkan badan dahulu di toilet agen Efisiensi. Kami juga sempat sesekali berfoto mengabadikan terminal Giwangan yang mulai ramai dengan hiruk-pikuk kendaraan dan manusia.
Ketika bus mulai masuk jalur, kami bergegas menuju bus. Ternyata saat itu bus yang kami naiki merupakan pemberangkatan pertama menuju Kudus dan Pati. Dengan jumlah penumpang yang hampir rata kanan, kamipun mulai berangkat.

Interior Patas Hariyanto 05

Bus ini memiliki total 50 seats dengan konfigurasi 2-2. Seperti kebanyakan Patas pada umumnya, bus ini tidak memiliki sandaran kaki ataupun toilet, tapi keunggulannya bus ini menyediakan wifi gratis.

Menggunakan chassis OH 1626 membuat perjalanan semakin nyaman

Menggunakan chassis Mercedes-Benz OH 1626 menjadikan perjalanan sangat nyaman. Apalagi ditambah dengan driver yang suoos tenan, yang mana merupakan mantan driver HR malam. Baru keluar Giwangan saja sudah berani ngajak lari.

Bertemu Om Khalik, siapa yang tak kenal beliau hehe

Di terminal Tidar Magelang, ternyata kami bertemu dengan salah satu driver PO Hariyanto yang cukup banyak dikenal mania. Yaitu om Galih, driver New Tatto 505. Rupanya beliau baru pulang ke rumahnya dan akan kembali bertugas malam itu.

Melintas Demak

Selepas terminal Tidar kami tertidur. Dan bangun-bangun hampir melintas Demak. Sebenarnya kami sudah booking tiket untuk perjalanan pulang ke Jakarta menggunakan armada PO Hariyanto juga dengan kelas SE (Super Executive), tapi karena kelalaian agen terminal Kudus yang tidak mencatat nama kami, akhirnya kesempatan untuk menjajal kasta tertinggi dari PO ini pun pupus.

====================================

Yogya – Kudus

  • PO Hariyanto
  • K 1423 CB
  • Patas 05
  • 50 Seats (2-2)
  • Start : 6:40 (Terminal Giwangan)
  • Finish : 13:00 (Terminal Kudus)
  • Tarif : Rp 60.000
  • Adiputro Karoseri JetbusHD
  • Mercedes-Benz OH 1626 Air Suspension

    Etape 3 Kota Selatan – Utara (2/3)

    [Bus Trip] Tasik – Yogya

    Jum’at, 1 September 2017

    Sempat was-was selama perjalanan, tapi akhirnya perasaan itu hilang setelah sang agen (Pak Soleh) mau menunggu kami. 30 menit telat dari jadwal seharusnya bisa menjadi masalah cukup serius, mengingat armada ini harus sampai ditujuan selanjutnya dengan tepat waktu juga. Beruntung pak Soleh memaklumi keadaan kami.

    Diberikannya kami 2 carik kertas sebagai tanda transaksi dengan mahar sebesar Rp 100.000 untuk perjalanan Tasik – Yogya. Belum terlalu banyak penumpang ketika kami naik ke dalam. Hanya 5/6 penumpang kalau tidak salah ingat. Kami berdua memilih bangku deret kiri paling belakang. Alasannya supaya bisa rebahan full tanpa mengganggu penumpang belakangnya.

    Bus kemudian dijalankan, tidak lama setelah kami duduk manis. Pertanda bahwa bus ini berhenti memang hanya untuk menunggu kami berdua.

    17:10 Terminal Banjar

    Pembawaan yang mosak-masik cukup membuat kami sumringah, sebelumnya kami mengira driver Jawa Timuran belum terbiasa di trek selatan seperti ini. Tapi ternyata, sang driver masih orang Jawa Baratan yang pernah menahkodai salah satu PO abu-abu asli priangan timur. Itupun kutahu setelah berbincang sedikit dengannya kala berhenti di terminal Banjar. Beliau bertugas membawa bus ini ketika awal perjalanan dari Tasikmalaya sampai Yogya, begitu Yogya sampai perhentian terakhir Surabaya akan berganti dengan driver lain. Ditambah satu lagi kru yang bertugas memintakan karcis.

    Bentuk tiketnya

    Ketika di agen, kita hanya diberikan secarik karcis sebagai tanda transaksi. Begitu diatas bus karcis dari agen baru akan ditukar dengan tiker sungguhan. Lengkap dengan rute tujuan kita dan service makan.

    Istirahat RM Lestari Kebumen

    Selama perjalanan Bandung–Surabaya maupun sebaliknya bus akan berhenti 2x, dengan masing-masing perhentian hanya untuk istirahat dan service makan. Seperti saat kunaiki dari barat, bus akann berhenti di RM. Lestari Kebumen hanya untuk istirahat, perhentian kedua selanjutnya di RM. Duta Ngawi barulah tersedia service makan.

    Dasboard depan, menggunakan chassis Hino RK

    Walaupun masih berchassis RK Leaft Spring (per daun) tapi menurutku masih cukup nyaman selama perjalanan Tasik-Yogya. Tidak ada bunyi kreket khas RK yang timbul. Hanya memang gemblodak masih terasa ketika melewati jalan kurang rata. Tapi kukira untuk ukuran kelas Patas, SR ini sudah cukup nyaman, belum lagi fasilitas yang disediakan seperti air mineral, selimut dan service makan. Menambah opsi baru bagi yang ingin bepergian dari Bandung menu Surabaya maupun sebaliknya.

    Interior Sugeng Rahayu

    Memiliki jumlah kursi sebanyak 42 buah, dibalut dengan selimut hangat membuat perjalanan menjadi nyaman. Walaupun hanya sekelas Patas, tapi pelayanan yang diberikan setara kelas Eksekutif.

    Finish Terminal Giwangan pukul 1:40

    Sesampainya kami di terminal Giwangan, pukul 1:40 waktu itu, kami duduk sebentar di pelataran koridor tempat penurunan penumpang, sambil kami amati bus-bus yang baru tiba, sedangkan bus SR yang telah kami naiki itu melanjutkan perjalanannya. Hari masih sangat pagi buta untuk melanjutkan perjalanan, kami putuskan istirahat sebentar di masjid dekat pintu masuk, sembari menunggu adzan subuh tiba.

    ====================================

    Tasik – Yogya

    • PO Sugeng Rahayu
    • W 1759 UZ “Mojang Priangan”
    • Bandung – Yogya – Surabaya
    • Patas Executive
    • 42 Seat (2-2) + Toilet
    • Start : 16:35 (Rancabango)
    • Break : 22:10 (RM Lestari)
    • Finish : 1:40 (Terminal Giwangan)
    • Tarif : Rp 100.000
    • Lakasana Karoseri Legacy SR2 SHD
    • Hino RK8 R260

    Etape 3 Kota Selatan – Utara (1/3)

    ​[Bus Trip] Jakarta – Tasikmalaya

    Jum’at, 1 September 2017

    Pagi itu, setelah melaksanakan Sholat ‘Ied aku memacu motorku menuju salah satu terminal di sudut timur Jakarta, tepatnya di terminal Kp. Rambutan. Jalan yang sepi membuatku lebih cepat sampai sini. Kutitipkan kendaraanku pada tempat penitipan resmi yang terletak di sebelah kiri pintu masuk untuk 2 hari kedepan. Cukup membayar Rp 20.000 untuk 2 hari, dan tersedia juga penitipan helm dengan biaya Rp 3.000. Setelah urusan parkir selesai, kuhubungi temanku yang sedari tadi sudah lebuh dulu ada di dalam terminal untuk menanyakan posisi.

    Suasana sudah ramai dengan calon penumpang ketika kami bertemu. Beberapa tampak lesu di ujung jalur menunggu armadanya yang tak kunjung datang. Pemandangan yang selalu lazim ditemui kala libur panjang datang.
    Pagi itu juga, aku berdua temanku berencana ingin menjajal bus Sugeng Rahayu rute terbaru Bandung – Surabaya. Untuk jadwal pemberangkatannya sendiri sekarang yaitu pukul 6:30 dan 14:00 dari terminal Cicaheum Bandung. Karena waktu itu masih belum memungkinkan, maka sementara jadwal pemberangkatan hanya satu kali dari Bandung yaitu pukul 6:30, dan bus hanya berangkat dari Tasik untuk pemberangkatan siang yaitu pukul 16:00. Oleh karena itu, untuk menuju ke Tasik kami berencana naik bus Budiman.

    SE murah meriah

    Berangkat pada pukul 10:30 dengan muatan penuh menggunakan bus berkode BT11, angkatan kedua yang berangkat pagi itu. Kami termasuk beruntung masih bisa mendapat seat padahal hanya ada 2 bus Budiman saat itu, bahkan dari penumpang yang naik bersama kami beberapa bahkan baru mendapatkan bus padahal sudah semalam berada di terminal.

    Budiman BT11

    Selama perjalanan justru aku terus berdoa semoga dihindarkan dari macet yang membuatku terlambat sampai Tasik dan mengacaukan rencanaku. Bisa dibilang, didalam bus yang nyaman itu walaupun sudah pakai Air Suspensi tetap belum bisa membuat nyaman isi kepala. Dan macetpun menjebak kami di tol Cikampek.  Proses pengerjaan proyek LRT dan tol Cikampek lantai 2 membuat lajur semakin sempit memaksa kendaraan harus saling bersabar. Tapi kuacungi jempol atas inisiatif driver budiman ini, 2 kali keluar masuk tol demi menghindari macet. Walaupun akhirnya tetap terkena macet juga, setidaknya dapat memangkas waktu belasan menit lebih cepat.

    Pukul 12:15 keluar tol Cileunyi. Beruntung lagi lalu lintas di Cileunyi tak sepadat biasanya. Pembawaan driver bisa dibilang cukup suoooss sekalipun membawa chassis panjang O500R seperti ini tapi mampu melalui berbagai kelokan dengan lihai. Beberapa driver Budiman memang terkenal lihai di jalur selatan. Oleh sebab itulah bus Budiman dijuluki rajanya jalur selatan.

    Melintas daerah Garut

    Pukul 14:20 tiba waktu kami untuk istirahat di RM Pananjung 2. Sekitar 20 menitan kami berhenti disini. Sebelum kembali berangkat pukul 14:45. Aku mencoba mengabari agen bus Sugeng sekedar memberi tahu posisi dan akan agak telat sampai terminal Tasik. Ternyata benar saja, pukul 16:20 aku baru turun dari bus Budiman. Sang agen menyuruhku untuk turun di Rancabango karena bus Sugeng sudah keluar terminal pada pukul 16:00 tepat. Langsung saja kami berlari ketika kulihat bus Sugeng berkelir merah sudah terparkir gagah diseberang. Aku pun meminta maaf pada agen dan kru yang sudah kubuat lama menunggu. Bus Jawa Timuran memang terkenal dengan ketepatan waktunya, jadi aku merasa tak enak jika membuat waktu berangkat menjadi molor. Tapi untung saja sang agen dan kru masih mau menunggu penumpangnya yang telat. Ini yang aku salutkan.

    ====================================

    Tasik – Jakarta

    • PO. Budiman
    • BT11
    • Super Executive
    • 42 Seat (2-2) + Toilet
    • Tarif : Rp 90.000 (Free Mineral Wather)
    • Start : 10:25 (Terminal Kp. Rambutan)
    • Break : 14:35 (RM. Pananjung 2)
    • Finish : 16:20 (Rancabango)
    • Jetbus HD Karoseri Adiputro
    • Mercedes-Benz OC500RF 1836

    Kemalangan menuju Malang (2/2)

    [Bus Trip] Blitar – Depok

    ​Setelah 2 malam berada di Malang, kini saatnya aku harus pulang. Pagi itu sekitar pukul 5:30 aku checkout dari penginapanku di sekitar Jl. Patimura dan langsung menuju Kepanjen menggunakan angkot bernomor 04. Hal yang sama kulakukan seperti ketika berangkat, saat pulang pun aku tidak langsung berangkat dari Malang, melainkan dari blitar menggunakan bus Harapan Jaya yang telah kupesan jauh-jauh hari. Untuk menuju blitar,  aku menaiki bus bagong yang melayani rute malang – Trenggalek via blitar. Cukup Rp 20.000 saja dengan estimasi perjalanan ± 2 jam.  Pemandangan yang indah selama membuatku sangat menikmati perjalanan.

    Sesampainya di terminal Patria Blitar (pukul 9:00 waktu itu) langkahku langsung tertuju pada sebuah warung nasi rames yang terletak di ujung terminal. Urusan perut memang menjadi hal yang tidak boleh diabaikan dalam agenda touringku. Sepiring nasi rames dan segelas teh tawar hangat dengan citarasa lokal itupun dihargai hanya Rp 10.000 saja. Perjalanan kembali dilanjut sambil kuamati setiap sisi terminal Patria yang tampak sepi itu. Hanya ada beberapa bus-bus kecil yang sebentar masuk lalu pergi lagi. Aku langsung menuju pool bus Harapan Jaya yang terletak sekitar 100 meter diluar terminal. Kususuri jalanan raya Blitar-Tulungagung itu sambil sesekali berpapasan dengan warga lokal.

    Begitu sampai di pool, langsung kudatangi meja agen yang telah ramai dengan beberapa calon penumpang.

    Plang Agen Harapan Jaya Blitar

    “mau ngambil tiket mas, kemarin sudah pesan via telpon”

    “atas nama siapa ?”

    “fery hidayat”

    “executive tujuan depok ?”

    “ya betul”

    “sebentar ya” (sang agenpun menyiapkan tiket sambil diisinya sendiri)

    “270 mas”

    Aku pun  menyodorkan 3 lembar uang bergambar Ir. Soekarno lalu diberikannya uang kembalian dan sebuah amplop besar berisi tiket. 

    “terima kasih mas” ucapku yang menandakan selesainya urusan transaksi.

    Baru sebentar mengamati isi pool, si agen yang tadi meneriakan beberapa nama-nama calon penumpang untuk naik ke mobil shuttle, termasuk namaku. Ada 7 penumpang yang berangkat menggunakan shuttle waktu itu. Ini merupakan salah satu fasilitas yang diberikan oleh PO Harapan Jaya. Dimana para penumpang yang akan menuju Jabodetabek dari Blitar akan diantar menuju pusat pool di Tulungagung untuk kemudian nantinya bisa menaiki busnya dari sana.

    Penumpang diantar Elf menuju pool pusat

    Sesampainya di pool Tulungagung, aku langsung mengecek bus yang akan kunaiki sesuai nomor bus yang tertera di tiket. Bus bernomor 15 yang melayani rute Blitar-Ciawi ternyata belum datang. Seketika pandanganku teralihkan pada gerobak bakso yang berdiri di gerbang pool. Rupanya perjalanan Blitar – Tulungagung itu sukses menguras isi perutku. Jadilah kupesan semangkuk bakso seharga Rp 8.000 itu kusantap bersama beberapa penumpang lain. Setelah urusan dengan bakso selesai, tak lama bus yang akan kunaiki datang juga. Berbodi Scorpion-X hasil rakitan Laksana dan ditopang chassis negeri Bavaria bertenaga 380 hp. Aku langsung masuk kedalam bus sekedar menaruh barang bawaanku di kursi 1A, lalu lanjut berfoto mengabadikan keadaan sekitar.

    Ini dia yang menemani malamku

    Pukul 11:10 bus diberangkatkan. Hampir setengah kapasitas kursi telah terisi, tapi pasti akan bertambah karena bus masih harus melewati beberapa agen yang dilaluinya. Salah satu hal yang paling kusuka dari bodi Scor-X ini adalah bentuk pembatas penumpang yang bentuknya agak pendek, membuat siapapun yang duduk di kursi baris depan akan lebih leluasa untuk melihat ke depan. Apalagi ayunan suspensi O500R dan kursi yang nyaman rakitan Rimba Kencana ini membuat perjalanan terasa sess.

    Melintas jalanan Kediri

    Dari pool tulungagung tadi. Bus diarahkan menuju kota Kediri. Suasana cukup ramai sore itu. Sampai akhirnya bus berhenti di pool Maospati sekitar pukul 15:00. Karena hanya menaikan penumpang, jadi berhenti disini pun tidak lama, aku manfaatkan untuk ke toilet sebentar. Walaupun di dalam bus juga ada toilet, tapi rasanya tidak enak melewati beberapa baris penumpang.


    Tiba di pool Maospati

    Hujan mulai turun ketika bus memasuki Ngawi, dan semakin deras saat melewati terminal Kertonegoro. Saking derasnya, sebagian terminal terlihat terendam banjir. Hujan diluar ditambah buaian suspensi O500R ini menambah syahdu perjalanan. Hingga akhirnya pukul 17:45 bus diarahkan masuk ke RM. Duta 2 untuk menikmati service makan. 

    Service makan prasmanan seperti biasa. Namun disini kita bebas mengambil nasi dan lauk sepuasnya. Rasanya pun cukup enak menurutku. Ini kedua kalinya aku makan disini, setelah sebelumnya kesini saat menaiki bus Eka. Walaupun tempatnya berbeda dengan service makan khusus bus Eka.

    Armada Super Luxury juga ikut makan bareng

    30 menit setelah menikmati service makan, pengeras suara menyuruh kami untuk masuk kedalam bus. Ternyata snack dan selimut sudah dibagikan saat diatas bus. Bus kemudian melaju menyusuri jalanan yang mulai gelap. Kondisi jalanan juga agak sepi sehingga tidak bertemu dengan bus-bus lain dari kedua arah. Style drive yang santai nan sess membuatku tersihir ke alam mimpi, apalagi perut kenyang sehabis makan tadi.

    Terbang rendah di malam hari

    Akhirnya pukul 6:00 sampai ditujuan akhirku yaitu Cimanggis. Karena peraturan baru dari Dishub membuat bus ini tidak melewati Ps. Rebo melainkan keluar di tol Cijago, maka aku turun di Gassalam bersama beberapa penumpang lain. 19 jam didalam bus bagiku bukan masalah jika senyaman ini, mungkin akan kucoba kembali dilain waktu.

    ====================================

    Malang – Blitar

    • PO Bagong
    • AC Ekonomi Medium 3/4
    • Start : 6:30 
    • Finish : 9:00 (Terminal Patria Blitar)
    • Tarif : Rp. 20.000

    Blitar – Depok

    • PO Harapan Jaya
    • AG 7053 US “You’re Style the One”
    • BUS 15
    • Blitar – Tulungagung – Ciawi
    • Executive Class (2-2) Toilet
    • 28 Seats (+2 Smooking Area)
    • Tarif : Rp 270.000 termasuk servis makan + snack
    • Start : 11:30 (Pool Tulungagung)
    • Service makan : 17:10 (RM Duta 2 Ngawi)
    • Finish : 6:30 (Gasalam)
    • ScorpionX by Tentrem Karoseri
    • Mercedes-Benz O500R 1836 Air Suspension

    Kemalangan menuju Malang (1/2)

    [Bus Trip] Jakarta – Solo – Surabaya – Malang

    Berawal dr keinginanku untuk menghadiri acara haul akbar di pondok pesanten Darul Hadist Malang, jawa timur. Kebetulan acara yang diadakan di penghujung Maret itu bertepatan dengan libur panjang hari raya Nyepi. Akupun menyiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari demi acara itu, termasuk transportasi, penginapan dan tentunya surat izin cuti selama 3 hari dari kantor tempatku bekerja. Aku memang berniat untuk datang kesana sejak lama, selain niat bertabaruk mengambil berkah sekaligus juga ingin bersilaturahmi dengan para Ulama dan guru disana. Sebenarnya ada banyak armada transportasi yang langsung menuju Malang dari Jakarta. Tapi rasanya tidak seru jika langsung sampai ketempat tujuan. Akhirnya kuputuskan untuk memakai moda transportasi berbeda alias estafet sampai Solo, dengan perhitungan harus sampai di Malang sore hari—karena rangkaian acara pertama dimulai ba’da Ashar—. Tapi ternyata semuanya tidak berjalan mulus.

    Jumat, 24 maret 2017

    Sore itu sekitar jam 4, setelah urusan kantor selesai aku langsung menuju terminal Pulogebang menggunakan ojek online. Dengan hitung-hitungan rencana yang sudah kubuat sebelumnya, aku memilih menggunakan bus sampai Solo lalu disambung dengan kereta api sampai Malang. Semua tiket sudah kupesan jauh hari. Dan aku kembali memilih PO. Raya untuk mengantarku ke Solo. Kebetulan bus yang kunaiki berangkat pukul 17:30. Seharusnya masih sangat keburu jika aku berangkat pukul 4 sore, tapi ternyata jalanan sore itu sangat tidak bersahabat. Kemacetan yang terjadi dibeberapa ruas jalan memaksaku telat sampai di terminal Pulogebang. Aku langsung bergegas menuju agen untuk konfirmasi, dan ternyata bus baru jalan 10 menit lalu. Ahh kecewa rasanya, rasa takut akan gagalnya semua rencanaku kini menghantui perasaanku. Akhirnya oleh sang agen aku dioper ke bus yang berangkat pukul 18:30 dengan kelas yang sama. “Masih ada harapan” pikirku.

    Memang salah besar sih berpergian disaat libur panjang seperti ini, apalagi jika mengandalkan waktu segalanya menjadi tidak jelas. Beruntung aku bertemu seorang teman sesama penggemar bus yang juga akan berangkat ke Solo menggunakan bus yang sama.

    Setelah menunggu agak lama ditengah kegelisahan karena tertinggal armada. Akhirnya bus kami datang. Dan sepertinya ini armada bantuan, berbodi Jetbus rombakan. Masih cukup nyaman menurutku dengan kelas 28 seat. Kuamankan seat tengah sambil mengamati suasana terminal yang masih saja ramai, kulihat jalan bebas hambatan sepertinya agak renggang tidak seperti sore tadi. Semoga ini pertanda baik. Kulihat jam digital mulai bergerak ke angka 20 dan bus belum juga jalan. Sedikit terdengar masih ada beberapa penumpang ternyata belum sampai. Hmm, kuabaikan kekacauan itu dan kuambil handpone dari saku jaket berharap ada berita baik yang akan menghiburku.

    Bus pun akhirnya diberangkatkan pukul 20:10, tidak lama setelah kelas Super Top berangkat. Dengan okupansi penumpang rata bangku sepertinya ini menjadi bus Raya terakhir yang dipersiapkan berangkat. Dan huawala, kemacetan langsung menghadang kami begitu memasuki ruas Tol Cikampek. Kuajak saja penumpang disebelahku ngobrol berharap kemacetan cepat berlalu. 

    Akhirnya pukul 10.05 pagi sampailah aku di terminal Tirtonadi. Senang dan kesal mengaduk perasaanku. Dan resiko yang terjadi adalah aku kembali tertinggal kereta menuju malang. Hanya beda 15 menit padahal dari jadwal keberangkatan. Dan akhirnya aku langsung mencari moda transportasi lain yang sebisa mungkin sampai di Malang sesuai rencanaku. Kulihat diwebsite jadwal kereta ke Malang baru ada lagi nanti malam, tidak mungkin aku menunggu selama itu disini. Akhirnya Kuberanikan diri menuju stasiun menggunakan becak berharap ada pilihan kereta lain, tidak apa-apa estafet lagi yang penting bisa secepatnya sampai Malang.

    “mba, kereta yang ke Malang adanya jam berapa ya ?” tanyaku pada petugas loket stasiun Solo Balapan.

    “sebentar saya cek dulu ya… udah ngga ada mas yang ke Malang, ada juga jam 1 malam nanti ?”

    “yahh, yang sore atau siang gitu ngga ada mba ?”

    “ngga ada, kalo mau transit aja mas, ikut ke Surabaya dulu, dari sana baru naik kereta lokal”

    “ jam berapa tuh mba sama harganya berapa ?”

    “yang terdekat ada Ranggajati jam 1 untuk kelas excekutif 275 ribu kalo yang bisnis 205”

    “hmm gitu ya.. (setelah agak lama mikir) ..yaudah yang exenya aja deh”

    “berapa orang ?”

    “1 aja mba”

    Dilema sebenarnya. Aku harus cepat memilih di situasi seperti itu. Walaupun konsekuensinya tidak sampai sana sesuai planning dan tidak mengikuti acara dari pertama. Tapi disatu sisi ada kesenangan tersendiri juga. Aku jadi bisa lebih mengeksplorasi tempat-tempat baru, pengalaman baru serta mengamati bagaimana kondisi lingkungan sekitar. Ada banyak hal yang kudapat.

    Pengeras suara berbunyi menyuruh kami untuk bersiap di peron. Kereta itu sudah tampak penuh ketika aku masuk ke dalam gerbong eksekutif 3. Ku duduk di seat 8D tepat disamping kaca. Tampak seorang perempuan paruh baya sudah sedari awal mungkin duduk di kursi sampingku. “Jember”, begitu jawabnya ketika kutanya kemana  ia hendak pergi.

    Kereta melaju tepat pukul 13:00. Pergi meninggalkan kota Solo ini menuju tujuannya. Kunikmati perjalanan sambil kusantap sekotak Chicken Teriyaki seharga Rp 30.000. Dan ini aku baru makan nasi lagi semenjak service makan di RM Indorasa 2.

    Setelah melalui perjalanan kereta yang monoton, Pukul 17:35 tiba juga di stasiun Surabaya Gubeng. Aku bergerak cepat karena harus mengejar kereta lokal Penataran Doho yang berangkat pukul 17:50. Tapi, bentuk stasiun yang berbeda sisi antara kereta lokal dan kereta jarak jauh membuatku kembali tertinggal kereta. Aku harus berjalan memutar keluar stasiun sejauh 200 meter hanya untuk berpindah peron. Entah kenapa tidak dibuat jalur khusus untuk penumpang yang ingin berganti kereta tanpa harus keluar stasiun.

    Terpaksa aku harus menunggu kereta lokal terakhir yang berangkat pukul 20:45. Sungguh keterlaluan namanya kalau ini sampai ketinggalan juga. Kuputuskan duduk di depan minimarket pinggir jalan stasiun Gubeng sambil mengamati orang-orang. Rintik hujan yang turun seperti menangisi keadaanku. Payah sekali memang. Aku pun bagai tak percaya pada diriku sendiri. Bagaimana bisa berturut-turut tertinggal seperti itu. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga masih tertimpa genteng juga. Seharusnya mungkin saat ini aku sudah sampai dan sedang menghadiri acara tanpa masih bersusah payah disini.

    Waktu mulai mendekati jam kedatangan kereta, aku masuk ke dalam sisi stasiun yang masih kokoh dengan gaya arsitek kolonial. Hanya Rp 10.000 perjalanan dari stasiun Surabaya Gubeng ini menuju stasiun Malang. Dan lagi-lagi, ternyata kereta terlambat datang dari waktu semula. Membuatku makin larut saja sampai di Malang. Dan kembali kuajak diri ini untuk tenang, walau sebenarnya ingin segera cepat-cepat berbaring di kasur karena badan rasanya mau rontok.

    Akhirnya pukul 21:35 kereta datang. Telat 1 jam. Langsung kucari bangku dekat pintu bordes, berharap bisa leluasa keluar masuk karena sebenarnya aku mendapat tiket berdiri. 20 menit kemudian kereta berjalan. Berhenti di tiap-tiap stasiun yang dilewatinya. Kuamati keadaan diluar dari pintu gerbong yang gelap itu. Dari pantulan kaca itu kulihat diriku nampak berdiri lesu didalam kereta yang melaju dijalur Surabaya Malang. Oh Malang, aku datang. Perjalanan 35 jam itu hampir menemui ujungnya.

    Dan akhirnya pukul 23:40 sampailah juga aku di stasiun Malang kota lama. Raut kegembiraan tergambar di mukaku. Bagai merayakan diri sendiri, yang bersusah sampai kesini. Patung singo edan tampak menyelamati kedatanganku. Kota itu tampak dingin dan sepi saat aku berjalan menuju tempat penginapan. Dan akupun bersiap diri untuk hari esok.

    ====================================

    Jakarta – Solo

    • PO Raya
    • Executive 28
    • 28 seat (2-2) + Toilet
    • Start : 20:05 (Terminal Pulogebang)
    • Finish : 10:10 (Tirtonadi Solo)
    • Tarif : Rp 215.000 termasuk service makan + snack

    Solo – Surabaya

    • KA Ranggajati
    • Cirebon – Jember 
    • Start : 12:25 (Solo Balapan)
    • Finish : 17:40 (Surabaya Gubeng)
    • Tarif : Rp 275.000

    Surabaya – Malang

    • KA Penataran Doho
    • Surabaya – Malang – Blitar
    • Start : 21:50 (Surabaya)
    • Finish : 11:50 (Malang)
    • Tarif : Rp 10.000

    Terlambat

    [Bus Trip] Surabaya – Kudus – Jepara

    Sabtu, 11 Desember 2016

    Dengan perasaan tidak yakin aku menaiki bus bergambar panda tujuan Semarang itu. Mau gimana lagi, daripada nanti telat sampai Jepara. Biar saja nanti transit di Kudus. Aku tidak enak pada kedua temanku (Sebut saja Ipi dan Bayu) yang harus menunggu lama. Kami memang berjanji untuk bertemu di Jepara. Tepatnya di garasi bus Bejeu Ngabul. Kami memang akan menaiki bus Bejeu untuk menuju Jakarta malam itu, tiketpun sudah dipesan jauh hari, ya sekalian juga mau ketemu si Blacknia (Armada Scania Bejeu berbodi SHD Adiputro) yang baru rilis semalam. Syukur-syukur bisa langsung naikin, itu juga kalau langsung dipake ngelane.

    Di terminal Purabaya itu. Kulihat jam analog pada kabin atas bus menunjukkan pukul 7:15. Aku sudah duduk manis di seat tengah, entah pastinya nomor berapa, kuamankan 2 seat sekaligus. Hal itu kulakukan supaya aku bisa menikmati perjalanan. Penumpang juga tidak terlalu penuh.

    Sebenarnya bisa saja aku menunggu bus Jaya Utama langsung ke Jepara jam 9 nanti. Tapi jika melihat jam keberangkatan bus Bejeu dari garasi, hal itu akhirnya urung kulakukan.

    Tampak bus Eka dijalur pemberangkatan

    Saat itu aku pikir perjalananku masih sesuai dengan rencana. Nyatanya tidak. Jam 11:30 aku masih di Lasem. Dan lebih menyakitkan lagi. Bus Jaya Utama tujuan Jepara dibelakangku tiba-tiba menyalip dari kanan dan meninggalkanku jauh di depan. Greget saja melihatnya. Aku tak habis pikir akan selambat ini. Bayangkan saja bus yang berangkat lebih dulu masih bisa dikejar oleh bus yang jalan 2 jam dibelakang. Seharusnya aku tidak naik ini jika tadi tidak yakin. Aku berusaha tenang selama perjalanan walau rasa cemas masih menyelimutiku selama perjalanan, bagaimana jika nanti aku telat sampai sana. Apalagi mustahil menghubungi teman-teman karena baterai HP yang lowbat.

    Pukul 15:30 akhirnya sampai juga di terminal Jati Kudus. Aku turun dan langsung menuju angkot ungu tujuan terminal Jetak yang hampir penuh. Sebelum nantinya berganti dengan bus unyil 3/4 tujuan Jepara.

    Jika dihitung, perjalanan dari terminal Kudus menuju bundaran Ngabul tempatku turun hanya sejam setengah dengan sekali berganti angkutan. Dari sana pun harus berjalan kaki lagi sekitar 100 meter menuju garasi.

    “Lha ini dia orangnya ditunggu-tunggu, Bay liat dah kelakuan ade lu, hahaa..” Ujar si Ipi begitu melihat kedatanganku.

    “Waaahh ni dia, kemana lu gw  telpon ga diangkat-angkat ?”

    “Hahaa sorry, HP gw mati bay, kusut banget tadi jalan a**ir, gimana jadi naek Blacknia ?”

    “Belum ngelane dia, minggu depan kata mas Jiko” Jelas Ipi.

    “Eh tiket lu diganti orang, gw kira tadi gajadi kesini” Kata Bayu.

    “Ko gitu ?”

    “Orang lu gw telpon daritadi ga diangkat, orang agennya minta kejelasan, yaudah daripada gw nombok, gw cancel aja tiket lu”

    “Lha terus gimana ?”

    “Coba ke dalem yuk, siapa tau masih ada”

    Alhasil setelah negosiasi alot, akhirnya aku diikutkan ke armada Cileungsi. Karena satu-satunya yang masih kosong dan terdekat dengan rumahku hanya itu. Kamipun akhirnya saling berpisah di terminal Kudus, setelah sebelumnya diantar armada dari garasi menuju Kudus, karena bus yang ku naiki tidak berangkat dari garasi. Walau awalnya perjalanan terasa kusut, tapi untungnya aku masih dapat armada untuk pulang, kalau tidak, mungkin cerita ini bakal panjang.

    ==================================

    Surabaya – Kudus

    • PO Sinar Mandiri
    • Surabaya – Kudus – Semarang
    • Patas Ac (2-2) non toilet
    • Start : 7:15 (Surabaya)
    • Istirahat : 11:30 (Rembang)
    • Finish : 15:30 (Kudus)
    • Tarif : Rp 70.000

    Kudus – Jepara (Garasi Bejeu)

    • Terminal Jati – Terminal Jetak
    • Angkot
    • Tarif : Rp 3.000
    • Terminal Jetak – Bunderan Ngabul
    • Minibus 3/4
    • Tarif : Rp 15.000

    Jepara – Depok

    • PO Bejeu
    • K 1462 AL
    • B21 (Morena Olenk)
    • BE05
    • Jepara – Kudus – Cileungsi
    • Executive Class (2-2)
    • 34 Seat + Toilet
    • 2x Hotspot Wifi + Coffe Marker
    • Tarif : Rp 210.000 Include service makan & snack
    • Start : 19:10 (Kudus)
    • Service makan : 22:00 (RM Bukit Indah)
    • Finish : 5:00 (Depok)
    • Scorpion King (Headlamp Custom) Karoseri Tentrem
    • Hino RK8 R260 Air Suspension

    Tektok Bandara

    [Bus Trip] Gambir – Soetta – Depok

    Jum’at, 27 Januari 2017

    Libur loong weekend menjadi sesuatu yang dinanti banyak orang. Selain bisa berkumpul dengan keluarga, sebagian orang memanfaatkan waktu tersebut untuk pergi keluar kota. Tapi bagaimana jadinya jika liburan tersebut harus bentrok dengan kegiatan lain ?. Itulah yang terjadi padaku. Niat untuk pergi touring keluar kota menjajal bus-bus yang belum pernah kunaiki, terpaksa harus kutunda. Keinginan dalam hati sudah menggebu-gebu sebenarnya. Tapi yasudah lah, memang belum waktunya mungkin.

    Demi menghibur diriku yang galau ini. Ku buat ide untuk touring tipis-tipis saja. Touring jarak dekat sebelum aku pulang ke rumahku di daerah Cimanggis, Depok. Sempat aku berpikir armada apa yang kunaiki menuju ke sana. Apalagi hari sudah malam begini, pasti pilihannya tidak sebanyak di siang hari. Sempat terpikir sebuah ide untuk mencoba bus bandara. Menurut ku menarik sepertinya. Apalagi sekarang pilihannya makin beragam.

    Mungkin terdengar konyol bagi sebagian orang. Jauh-jauh pergi ke bandara lalu balik lagi hanya mau mencoba busnya. Tapi inilah hobi, bagiku tidak ada yang sia-sia selama itu masih positif. Bukan tentang uang, tapi pengalaman yang akan kita dapatkan mungkin akan lebih berharga daripada uang.

    Pukul 19:00 waktu itu. Saat kubawa diri ini pergi melangkah meninggalkan kosan di daerah Grogol, Jakarta Barat. Sambil diiringi rintik hujan, langkahku terhenti disebuah gerobak soto tepat dipinggir halte RS. Sumber Waras untuk menunaikan makan malam. Rp 15.000 saja kutukar uang dengan semangkuk soto dan sepiring nasi.

    Setelah urusan makan malam selesai. Aku langsung menuju halte busway Sumber Waras sebelum nantinya transit di halte Harmoni dan mengakhiri perjalanan di halte Gambir dengan menaiki busway jurusan Pulogadung.

    Hiruk pikuk keramaian para penglaju kereta api menyambut kedatanganku ketika sampai di stasiun Gambir. Ah, rasanya ingin sekali menjadi bagian dari mereka.

    Ku teruskan langkahku menuju parkiran bus Damri tepat di sisi barat stasiun. Sebelumnya karena pertama kali, sempat dibingungkan dengan sistem pembayarannya. Tapi setelah bertanya pada salah satu kru ternyata pembayarannya semua dilakukan “on the bus”, kecuali untuk Damri AKAP tujuan Lampung yang memang harus pesan tiket dulu di loket.

    Pukul 20:30 bus dijalankan. Hanya berisi sekitar 7 orang penumpang termasuk aku. Duduk di baris ke 5 kursi berkonfigurasi 2-2 itu ku sandarkan tubuh ini.

    “Pesawatnya apa mas ?” Ujar si kondektur sembari memberi tiket.

    “Terminal 3 mas”

    “Owh pesawat Garuda ya ?”

    “Iya”

    Sebenarnya aku menjawab begitu hanya gimmick saja biar diturunkan di terminal tujuanku. Aku juga tidak tau ada pesawat Garuda Indonesia di terminal 3. Padahal mah jangankan ke bandara, naik pesawat saja belum pernah.

    Pembawaan sang driver yang mosak-masik. Membuat perjalanan terasa cepat. Tak terasa pukul 21:16 sudah sampai di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta. Terminal bandara yang baru saja direnovasi, dan digadang-gadang menjadi yang terbesar di Asean.

    Aku tidak ingin berlama-lama disini. Takut kemalaman sampai rumah. Akupun mencari halte bus bandara untuk perjalanan pulang. Ternyata letaknya persis ada di lantai bawah dari tempat turun tadi. Harus menggunakan lift untuk sampai ke sana.

    Kulihat sudah banyak orang berkumpul dibawah. Tujuan mereka semua sama. Yaitu pulang. Aku membaur bersama mereka. Menunggu bus menuju Depok itu disana. Bus bandara dari sini masih akan terus ada sampai pukul 00:00 dinihari. Dengan tujuan beragam ke berbagai tempat di Jabodetabek & Serang.

    Tampak Damri Ultiman

    Setelah 15 menit menunggu. Yang dinanti pun datang. Bus berbody SHD (Super High Deck) berinisial Hiba Utama itu datang dengan muatan yang tampaknya penuh. Tapi kucoba naik sambil berharap dapat tempat duduk. Syukur masih dapat. Dan letaknya tidak terlalu tengah. 2C nomor bangku itu. Bangku bermerek Aldilla yang empuk untuk diduduki.

    Hiba Utama APM bandara

    Ternyata perjalanan pulang tak sesuai ekspetasi seperti perjalanan berangkat tadi. Kami harus berkutat dengan kemacetan yang menghadang semenjak memasuki gerbang tol Kapuk. Keadaan libur panjang seperti ini membuat para pengguna jalan harus bersabar sedikit. Untungnya kenyaman di dalam kabin bus ini membuat kami bisa menikmati perjalanan.

    Alhasil, pukul 23:55 sampailah aku di exit tol Cijago. Tujuan terakhirku. Aku turun dari sini bersama beberapa penumpang lain.

    Saksi bisu perjalanan

    ==================================

    Gambir – Soetta

    • Damri Bandara
    • Executive (2-2) Toilet
    • 42 Seat + Smooking Room
    • Tarif : Rp 40.000
    • Start : 20:30
    • Finish : 21:16
    • GT Karoseri Morodadi Prima
    • Mercedes-Benz OH 1526 / OM

    Soetta – Depok

    • Hiba Utama APM
    • Executive Class (2-2) Toilet
    • Tarif : Rp 60.000
    • Start : 22:10
    • Finish : 23:55 (Gasalam)
    • New Setra Jetbus SHD Karoseri Adiputro
    • Hino RK R260

    Murah, tapi tidak murahan

    [Bus Trip] Yogya – Bogor

    11 September, 2016

    Hari masih pagi ketika aku menjejakan kaki di Yogya. Ini pertama kalinya aku kesini. Kota yang selalu menjadi perbincangan orang dengan sejuta budaya dan keramahan orang-orangnya.

    Sebelumnya kami melakukan perjalanan ke Kudus dari Jakarta menggunakan Po. New Shantika, lalu disambung bus Patas Nusantara menuju Yogya paginya. Perjalanan sekitar 3 jam dari Kudus itu akhirnya mengantarkan kami sampai diterminal Jombor. Kami pikir akan melanjutkan dengan Trans Jogja menuju terminal Giwangan, tapi ternyata PO Nusantara ini menyiapkan Shuttle jika ingin melanjutkan perjalanan ke sana.

    Pukul 9:10

    Sampailah kami di terminal Giwangan. Tidak sampai 1 jam perjalanan dari terminal Jombor tadi. Disini, kami langsung menuju agen Putera Mulya yang terletak di lantai 2 untuk mengambil tiket pulang menuju Bogor nanti sore.

    Kami sebenarnya harap-harap cemas disini. Masih menebak armada apa yang nanti akan mengantar kami. Takut jika kembali mendapat bus tidak sesuai dengan keinginan kami seperti awal berangkat dari Lebakbulus. Beberapa kali sempat mencari info di grup Facebook dan bertanya-tanya, hanya memastikan bahwa bukan armada zonk yang kami dapat.

    Agen Putera Mulya terminal Giwangan

    Setelah urusan transaksi selesai, kami berkeliling sebentar di terminal Giwangan ini sekedar melihat-lihat bis yang lalu lalang pagi itu.

    Karena hari masih cukup pagi dan waktu berangkat pun masih lama. Kami sempatkan berkeliling di Malioboro. Sekedar memanfaatkan waktu mumpung masih di kota ini.

    Kami juga sempat bertemu dengan Bayu rekan BisMania Jakarta Raya yang juga kebetulan touring hari itu, kami hanya berbincang sebentar karena ia harus melanjutkan perjalanannya menuju Solo.

    Pukul 13:00

    Singkat cerita, setelah puas berkeliling Malioboro kami kembali ke terminal Giwangan. Karena bus akan berangkat pukul 14:30 nanti.

    Setelah sampai sana, kami sempatkan istirahat di ruang tunggu dan makan siang di kantin terminal yang terletak di lantai bawah. Ada cukup banyak warung makan yang tersedia termasuk tempat oleh-oleh.

    Pukul 14:00

    Terdengar arahan dari petugas agen untuk segera berkumpul di bawah, karena bus sebentar lagi akan datang.

    Tak lama, datanglah benda besar berkelir merah memasuki terminal. Itulah bus yang kami naiki. Putera Mulya berbody Maxibus XHD dengan chassis O500R yang terlihat menawan. Kami bersorak kegirangan. Akhirnya bisa mendapatkan armada sesuai harapan.

    Pukul 14:35

    Bus diberangkatkan, ada sekitar 8 orang kalau tidak salah yang naik dari sini termasuk kami. Dengan driver pinggir mas Rofiq.

    Pertama kali masuk ke dalam kabin bus ini, entah kenapa aku langsung suka dengan view di kaca depan. Tanpa adanya penghalang “ala-ala” bando kekinian itu membuat pandangan sangat luas. Apalagi didukung juga dengan chassis premium Mercedes-benz O500R 1836 bersuspensi menambah kenyamanan perjalanan kali ini. Di bus ini juga tersedia USB Charger pada setiap baris tempat duduk, yang memudahkan penumpang mencharger gadgetnya selama perjalanan. Untuk interiornya sendiri, bus ini terdiri dari 40 seat Aldilla + 5 seat di Smooking area dengan pijakan kaki serta selimut dan bantal. Toilet juga tersedia di bus ini. Cocok dengan harga Rp 135.000.

    Selama perjalanan menuju Bogor bus ini melewati jalur selatan via Cipali. Sempat beberapa kali singgah ke agen dan terminal untuk menaikan penumpang. Kontur jalur selatan yang sedikit meliuk-liuk seakan mengingatkanku dengan kampung halaman. Suasanannya tidak jauh berbeda. Sawah, rumah, jalanan, bahkan bahasa komunikasi juga masih sama. Berharap sebenarnya semoga bus ini melewati kampungku. Sekedar pengobat rasa rindu ini.

    Melewati Garasi bus Sumber Alam Kutoarjo

    Waktu mulai maghrib ketika kami memasuki terminal kebumen. Hmm, lama juga ya perjalanan yogya-kebumen ini. Tak seperti ku duga sebelumnya.

    Bicara soal Kebumen. Terakhir kali kesini mungkin sekitar 13 tahun lalu. Saat itu menjadi perjalanan terjauhku naik bus. Tidak sendiri sih, waktu itu bersama keluarga untuk menghadiri acara salah satu pesantren. Tapi masih jelas teringat bagaimana perjalanan waktu itu. Terutama naik busnya. Walaupun sekarang sudah bisa kemana-mana sendiri, tapi kenangannya tak pernah hilang.

    Pukul 20:00

    Bus ku berhenti disebuah rumah makan. Penanda bagi kami semua untuk istirahat. Aku turun. Untuk kelas patas ini memang tidak dapat makan. Jadi kami pesan semangkuk bakso saja sebagai pengganjal perut agar tidak berteriak. Murah cuma Rp 5.000 saja per mangkuk.

    Suara gema takbir berkumandang diluar. Membuat damai ditelinga.Besok hari raya kurban. Ah, aku kembali teringat kampungku. Suasanannya benar-benar membuat aku ingin pulang kampung.

    Keluar rumah makan. Dan menghirup udara dingin sekitar. Membuatku tenang sejenak. Ku lihat gps, ternyata masih di daerah Wangon. Tinggal lurus sedikit ke utara menuju Tegal, lalu masuk tol maka sampailah di Jakarta. Tapi perjalanan tidak secepat yang kubayangkan. Aku masih ingin berlama-lama disini. Kalaupun boleh, menginap semalam saja disini lalu besok pagi dilanjutkan kembali perjalanan. Andai boleh, tapi pasti banyak yang protes. Karena penumpangnya bukan aku saja. Busnya juga bukan punyaku.

    Bus kembali dijalankan 30 menit setelah pengeras suara berbunyi menyuruh kami masuk ke dalam bus untuk bersiap. Setelah rumah makan kontur jalan lebih berkelok dari sebelumnya. Kami dapati banyak sekali berpapasan dengan bus sinar jaya, murni jaya, dan pemain selatan lain yang agak lupa namanya ku ingat.

    Jalanan cukup ramai malam itu walau sedikit gelap. Terkadang sebentar-sebentar juga macet karena perlintasan kereta api. Momen takbiran membuat banyak masyarakat juga anak-anak keluar malam itu, sekedar menghidupkan malam takbir. Gema takbir juga masih kudengar dari dalam bus. Terasa seperti suasana mudik lebaran.

    Sekitar pukul 22:00 malam. Bus sudah memasuki Tegal tinggal sedikit lagi akan memasuki tol Pejagan. Tapi aku tertidur disini. Efek kelelahan karena setengah hari berkeliling Yogya. Andai aku terjga, mungkin aku bisa menyaksikan power si o500R ini berlari menyusuri jalan bebas hambatan.

    Aku terbangun ketika sudah di tol Bekasi arah Jakarta. Hmm lama juga tidurku. Mungkin karena terbuai nikmat si O500R ini. Bus dibelokan kekiri keluar Jatiwarna karena ada penumpang yang turun. Singgasana driver kembali dipegang oleh mas Rofiq. Nah, hal lucu terjadi disini. Mungkin karena baru bangun. Mas Rofiq kebingungan karena tidak tahu dimana saat ini ia berada. Akibatnya bus kami nyasar ke pondok gede. Beruntung ada salah satu penumpang yang hafal daerah sini, akhirnya memberi pengarahan kepada mas Rofiq untuk diteruskan saja ke arah Pinang Ranti biar nanti keluar di pasar induk Kramat Jati.

    Kami akhirnya turun ketika bus memasuki Pasar Rebo. Pukul 3.00 dini hari waktu itu. Sebenarnya tujuanku di Cimanggis dan masih agak jauh. Tapi karena harus mengantar kawanku yang akan melanjutkan perjalanannya ke Serang dari sini maka akupun turun untuk mengantar. Aku yakin sudah banyak bus menuju sana di pagi ini.

    Kami akhirnya berpamitan, setelah bus Primajasa tujuan Merak datang menghampiri kami. Lalu kami pun berpisah menuju tujuannya masing-masing.

    ==================================

    PO Putera Mulya

    • AD 1709 AF
    • P11 (Esslingen)
    • Klaten – Yogyakarta – Bogor (Bubulak)
    • Patas (2-2) Toilet
    • + Smooking Room
    • Tarif : Rp 135.000 non service makan
    • Start : 14:40 (Yogyakarta)
    • Istirahat : 20:30
    • Finish : 3:45 (Ps. rebo)
    • Maxibus XHD Karoseri Laksana
    • Mercedes-Benz O500R 1836 Air Suspension