Mencicipi bus tingkat Harapan Jaya, si kuda bongsor dengan segudang fasilitas.

[Bus Trip] Jakarta – Maospati

Di penghujung September 2017 kemarin. PO Harapan Jaya membuat gebrakan di belantika perbusan nasional dengan meluncurkan armada terbarunya yaitu 2 unit Double Decker (bus tingkat). Kabar awalnya memang kedua bus ini diperuntukkan untuk kelas reguler / AKAP.

Dan sekitar awal Desember, bus ini secara resmi melayani penumpang dengan rute Madiun – Poris PP. Bus yang ditopang oleh chassis mumpuni besutan Scania K410 ini, memiliki 3 kelas dalam satu armada. Di lantai bawah, ada kelas Eksekutif plus yang berjumlah 8 seat, dan kelas Sleeper berjumlah 2 buah. Di lantai atas sendiri ada kelas Super Luxury plus dengan konfigurasi seat 2-1 yang berjumlah 22 seat.

Harapan Jaya Double Decker

Selain kelas tersebut, banyak fasilitas lain yang tersedia, diantaranya free telpon (khusus ke nomor Indosat), fasilitas free streaming, kursi pijat, dan dispenser.

Konfigurasi seat 2-1

Coffe dan teh gratis

Daftar fasilitas Harapan Jaya Double Decker

Sleeper seat Class

Dispenser

Tentunya dengan fasilitas dan kelas yang mewah tersebut, banyak yang tertarik untuk menaikinya, termasuk aku.

Dan pada 16 Februari kemarin, akhirnya bisa berkesempatan menaiki si kuda tingkat ini. Sengaja memesan jauh-jauh hari demi mengamankan single hootseat lantai atas. Dengan mahar Rp 375.000 kita sudah bisa menaiki bus ini dengan segala fasilitasnya di kelas Super Luxury.

Double Decker Dengan 3 Kelas Berbeda

Dalam perjalanan kali ini, aku tidak melakukannya sendirian. Ada 2 kawanku yang juga berangkat naik bus Harapan Jaya ini tapi mereka naik dari Bekasi Timur dengan kelas berbeda. Dan kami berjanji akan bertemu di pool Maospati nantinya.

Jumat, 16 Februari 2018

Hari itu, selepas shalat Jumat. Aku menuju agen Poris untuk menebus tiketku. Tidak lama, pukul 13:20 bus diberangkatkan dari terminal Poris dengan jumlah penumpang kurang dari 10 orang. Tentunya masih akan bertambah lagi karena bus ini masih akan berhenti di agen-agen yang dilaluinya.

Sepanjang jalan, banyak orang yang memandang heran dan aneh pada bus ini. Mungkin masih baru-barunya sehingga banyak yang baru tau bus tingkat ini. Malah ada yang sempat curi-curi foto.

Pukul 14:45. Bus kami memasuki agen Grogol. Karena berhenti cukup lama disini, aku sempatkan turun dan membeli beberapa minuman ringan untuk menyegarkan badan, mengingat kondisiku sedang agak tidak enak badan saat itu.

Setelah 20 menitan berhenti, bus kembali diberangkatkan. Melalui tol dalam kota, bus tampak melenggang santai. Jalanan relatif lancar siang itu, hanya saja begitu melewati KM 14 lalu lintas mulai padat. Imbas proyek Cikampek lantai dua memang membuat siapapun yang lewat harus lebih bersabar.

Area 234 Cikarang menjadi agen terakhir yang disinggahi oleh bus ini. Rupanya hari ini penumpang rata bangku. Syukurlah, hari-hari libur memang selalu jadi momen yang tepat untuk mengais penumpang. Tak seperti hari biasa yang kadang satu penumpang pun sudah bersyukur.

Kukabarkan kawanku bahwa lalu lintas sore itu agak kusut. Rupanya mereka baru saja take off dari Bekasi Timur.

Kemacetan baru terurai di KM 142. Dari sini, bus kembali bisa melenggang bebas. Dikemudikan oleh Pak Dhe Gufron, bus melaju cepat namun tetap nyaman saat meng-overtake berbagai kendaraan didepannya. Terbukti memang, jam terbang serta pengalaman driver senior ini tak diragukan lagi.

Ketika sedang asik melaju diatas aspal Cipali, bus diarahkan ke kiri keluar pintu tol Kanci. Rupanya, bus menuju RM. Aroma Cirebon untuk servis makan.

Berbaris Bersama Harapan Jaya Lainnya

Ayam goreng, sayur bihun, tumis tempe dan sup jadi menu makan malamku saat itu. Oh ya, karena tidak doyan ayam, sang pelayan ternyata menawariku telur bulat, kenapa tidak. Sungguh pelayan yang pengertian.

Seperti biasa, 30 menit menjadi waktu yang diberikan kepada para penumpang untuk memanfaatkan waktu servis makan ini. Entah itu untuk ibadah maupun sekedar ke kamar mandi.

Pukul 21:50, bus bertolak dari RM. Aroma. Bukannya melewati jalur Pantura Cirebon, bus malah digiring kembali masuk tol Kanci. Dan pukul , barulah bus keluar tol Brebes Timur untuk kemudian kembali berdansa di tanah Pantura. Kali ini roda kemudi dipegang oleh mas Suryo, driver tengah.

Ada beberapa bus Soloan maupun Wonogirian yang searah dengan kami malam itu. Sebut saja macam Raya, Rosalia, Gunung Harta, dan teman sendiri sesama Harapan Jaya.

Jujur, selama perjalanan aku lebih banyak menikmati fasilitas yang ada di bus ini, dibanding mengamati jalan. Dan hal itu cukup membuatku tak ingin beranjak dari kursi sendiri, walau sebenarnya ingin sekali berkeliling ke setiap sudut bus ini.

Sabtu, 17 Februari 2018

Menjelang subuh, sekitar pukul 4:38 pagi. Hawa ruangan yang dingin membangunkan tidurku. Sinar fajar masih malu-malu mengintip di ufuk timur. Sudah masuk Salatiga rupanya.

Kukabarkan kawanku bahwa sebentar lagi akan masuk Tirtonadi, Solo. “Oke siap, masih di Tembalang nih” balasnya dari ujung sana.

Entah bangku keberapa dibelakangku, penumpang nya nampak turun ketika bus memasuki pelataran terminal Tirtonadi. Penumpang pertama yang turun dari bus ini. Ingin rasanya mencicipi kursi pijat dibelakang, tapi ada penghuni tetap yang tak kunjung beranjak dari sana. Niatku kuurungkan.

Hari makin terang, selepas Karanganyar. Hawa pagi hiruk pikuk masyarakat desa nampak syahdu dipandang. Membuat rindu.

Satu persatu penumpang mulai turun. Menyisakan kursi kosong yang masih berantakan. Aku turun ke bawah, mencoba rasanya duduk di kelas Eksekutif plus. Tak apa meski turun kelas, nyamannya masih sama.

Tak lama, perhentian berikutnya tiba. RM. Duta Ngawi, tempat servis makan pagi. Pukul 6:48 waktu itu. Efek kemacetan semalam, membuat beberapa bus Harapan Jaya lain juga kesiangan masuk sini.

Telat Masuk RM Duta 2

Salah satu enaknya naik Harapan Jaya dari barat, terutama kelas VIP keatas. Bisa dapat makan 2x. Meski tidak adanya Snack namun fasilitas dari bus sendiri sudah cukup bagiku. Tidak demikian bila kita melakukan perjalanan dari arah timur, makan pagi justru ditiadakan dan diganti snack kotak, ya cukuplah untuk mengganjal perut.

Di RM. Duta ini sistemnya kita bisa memilih menu yang disediakan. Bukan lagi perasmanan seperti biasa. Dan yang paling dijagokan banyak orang ketika kesini adalah rawonnya.

Sekitar pukul 7:25, bus kembali diberangkatkan. Beberapa penumpang mulai turun. Menyisakan 2 penumpang di dek atas, aku salah satunya.

“Sampeyan turun pool ya mas?”

“Iya mas”

“Cuma main doang kan?, Ikut muter dulu ya ke Magetan”

“Oh iya mas gapapa, santai ko”

Begitulah ajakan mas Agus selaku kru kepadaku. Kenapa tidak? toh bisa lebih lama di bus ini.

Drop terakhir di terminal Magetan

Pukul 8:13 di terminal Magetan. Menjadi tempat perhentian terakhir bagi para penumpang untuk turun. Bus pun langsung putar kepala kembali ke pool Maospati. Menyisakan aku, satu-satunya penumpang yang belum turun. Dengan kondisi bus yang kosong, menjadi kesempatanku untuk menjelajah setiap sudutnya.

Dan akhirnya, pukul 9:05. Aku tiba di pool Maospati, tempat perhentian terakhirku. Langsung bertemu kedua temanku yang sudah menunggu.

Terimakasih Harapan Jaya, sang kuda yang sampai saat ini belum pernah membuatku patah hati.


Harapan Jaya

  • Jakarta – Madiun
  • Bus 37 “AG 7312 US”
  • Super Luxury Class
  • Single Seat 1 A
  • 22 Seat (2-1) with Smoking room
  • IDR 375k
  • Start : 13:20 (Poris)
  • Break 1 : 21:19 (RM Aroma Cirebon)
  • Break 2 : 6:48 (RM Duta Ngawi)
  • Finish : 9:05 (Pool Maospati)
  • Scania K410iB
  • JetbusSDD (Double Decker) Karoseri Adiputro

4 thoughts on “Mencicipi bus tingkat Harapan Jaya, si kuda bongsor dengan segudang fasilitas.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *