Etape 3 Kota Selatan – Utara (1/3)

​[Bus Trip] Jakarta – Tasikmalaya

Jum’at, 1 September 2017

Pagi itu, setelah melaksanakan Sholat ‘Ied aku memacu motorku menuju salah satu terminal di sudut timur Jakarta, tepatnya di terminal Kp. Rambutan. Jalan yang sepi membuatku lebih cepat sampai sini. Kutitipkan kendaraanku pada tempat penitipan resmi yang terletak di sebelah kiri pintu masuk untuk 2 hari kedepan. Cukup membayar Rp 20.000 untuk 2 hari, dan tersedia juga penitipan helm dengan biaya Rp 3.000. Setelah urusan parkir selesai, kuhubungi temanku yang sedari tadi sudah lebuh dulu ada di dalam terminal untuk menanyakan posisi.

Suasana sudah ramai dengan calon penumpang ketika kami bertemu. Beberapa tampak lesu di ujung jalur menunggu armadanya yang tak kunjung datang. Pemandangan yang selalu lazim ditemui kala libur panjang datang.
Pagi itu juga, aku berdua temanku berencana ingin menjajal bus Sugeng Rahayu rute terbaru Bandung – Surabaya. Untuk jadwal pemberangkatannya sendiri sekarang yaitu pukul 6:30 dan 14:00 dari terminal Cicaheum Bandung. Karena waktu itu masih belum memungkinkan, maka sementara jadwal pemberangkatan hanya satu kali dari Bandung yaitu pukul 6:30, dan bus hanya berangkat dari Tasik untuk pemberangkatan siang yaitu pukul 16:00. Oleh karena itu, untuk menuju ke Tasik kami berencana naik bus Budiman.

SE murah meriah

Berangkat pada pukul 10:30 dengan muatan penuh menggunakan bus berkode BT11, angkatan kedua yang berangkat pagi itu. Kami termasuk beruntung masih bisa mendapat seat padahal hanya ada 2 bus Budiman saat itu, bahkan dari penumpang yang naik bersama kami beberapa bahkan baru mendapatkan bus padahal sudah semalam berada di terminal.

Budiman BT11

Selama perjalanan justru aku terus berdoa semoga dihindarkan dari macet yang membuatku terlambat sampai Tasik dan mengacaukan rencanaku. Bisa dibilang, didalam bus yang nyaman itu walaupun sudah pakai Air Suspensi tetap belum bisa membuat nyaman isi kepala. Dan macetpun menjebak kami di tol Cikampek.  Proses pengerjaan proyek LRT dan tol Cikampek lantai 2 membuat lajur semakin sempit memaksa kendaraan harus saling bersabar. Tapi kuacungi jempol atas inisiatif driver budiman ini, 2 kali keluar masuk tol demi menghindari macet. Walaupun akhirnya tetap terkena macet juga, setidaknya dapat memangkas waktu belasan menit lebih cepat.

Pukul 12:15 keluar tol Cileunyi. Beruntung lagi lalu lintas di Cileunyi tak sepadat biasanya. Pembawaan driver bisa dibilang cukup suoooss sekalipun membawa chassis panjang O500R seperti ini tapi mampu melalui berbagai kelokan dengan lihai. Beberapa driver Budiman memang terkenal lihai di jalur selatan. Oleh sebab itulah bus Budiman dijuluki rajanya jalur selatan.

Melintas daerah Garut

Pukul 14:20 tiba waktu kami untuk istirahat di RM Pananjung 2. Sekitar 20 menitan kami berhenti disini. Sebelum kembali berangkat pukul 14:45. Aku mencoba mengabari agen bus Sugeng sekedar memberi tahu posisi dan akan agak telat sampai terminal Tasik. Ternyata benar saja, pukul 16:20 aku baru turun dari bus Budiman. Sang agen menyuruhku untuk turun di Rancabango karena bus Sugeng sudah keluar terminal pada pukul 16:00 tepat. Langsung saja kami berlari ketika kulihat bus Sugeng berkelir merah sudah terparkir gagah diseberang. Aku pun meminta maaf pada agen dan kru yang sudah kubuat lama menunggu. Bus Jawa Timuran memang terkenal dengan ketepatan waktunya, jadi aku merasa tak enak jika membuat waktu berangkat menjadi molor. Tapi untung saja sang agen dan kru masih mau menunggu penumpangnya yang telat. Ini yang aku salutkan.

====================================

Tasik – Jakarta

  • PO. Budiman
  • BT11
  • Super Executive
  • 42 Seat (2-2) + Toilet
  • Tarif : Rp 90.000 (Free Mineral Wather)
  • Start : 10:25 (Terminal Kp. Rambutan)
  • Break : 14:35 (RM. Pananjung 2)
  • Finish : 16:20 (Rancabango)
  • Jetbus HD Karoseri Adiputro
  • Mercedes-Benz OC500RF 1836

Kemalangan menuju Malang (2/2)

[Bus Trip] Blitar – Depok

​Setelah 2 malam berada di Malang, kini saatnya aku harus pulang. Pagi itu sekitar pukul 5:30 aku checkout dari penginapanku di sekitar Jl. Patimura dan langsung menuju Kepanjen menggunakan angkot bernomor 04. Hal yang sama kulakukan seperti ketika berangkat, saat pulang pun aku tidak langsung berangkat dari Malang, melainkan dari blitar menggunakan bus Harapan Jaya yang telah kupesan jauh-jauh hari. Untuk menuju blitar,  aku menaiki bus bagong yang melayani rute malang – Trenggalek via blitar. Cukup Rp 20.000 saja dengan estimasi perjalanan ± 2 jam.  Pemandangan yang indah selama membuatku sangat menikmati perjalanan.

Sesampainya di terminal Patria Blitar (pukul 9:00 waktu itu) langkahku langsung tertuju pada sebuah warung nasi rames yang terletak di ujung terminal. Urusan perut memang menjadi hal yang tidak boleh diabaikan dalam agenda touringku. Sepiring nasi rames dan segelas teh tawar hangat dengan citarasa lokal itupun dihargai hanya Rp 10.000 saja. Perjalanan kembali dilanjut sambil kuamati setiap sisi terminal Patria yang tampak sepi itu. Hanya ada beberapa bus-bus kecil yang sebentar masuk lalu pergi lagi. Aku langsung menuju pool bus Harapan Jaya yang terletak sekitar 100 meter diluar terminal. Kususuri jalanan raya Blitar-Tulungagung itu sambil sesekali berpapasan dengan warga lokal.

Begitu sampai di pool, langsung kudatangi meja agen yang telah ramai dengan beberapa calon penumpang.

Plang Agen Harapan Jaya Blitar

“mau ngambil tiket mas, kemarin sudah pesan via telpon”

“atas nama siapa ?”

“fery hidayat”

“executive tujuan depok ?”

“ya betul”

“sebentar ya” (sang agenpun menyiapkan tiket sambil diisinya sendiri)

“270 mas”

Aku pun  menyodorkan 3 lembar uang bergambar Ir. Soekarno lalu diberikannya uang kembalian dan sebuah amplop besar berisi tiket. 

“terima kasih mas” ucapku yang menandakan selesainya urusan transaksi.

Baru sebentar mengamati isi pool, si agen yang tadi meneriakan beberapa nama-nama calon penumpang untuk naik ke mobil shuttle, termasuk namaku. Ada 7 penumpang yang berangkat menggunakan shuttle waktu itu. Ini merupakan salah satu fasilitas yang diberikan oleh PO Harapan Jaya. Dimana para penumpang yang akan menuju Jabodetabek dari Blitar akan diantar menuju pusat pool di Tulungagung untuk kemudian nantinya bisa menaiki busnya dari sana.

Penumpang diantar Elf menuju pool pusat

Sesampainya di pool Tulungagung, aku langsung mengecek bus yang akan kunaiki sesuai nomor bus yang tertera di tiket. Bus bernomor 15 yang melayani rute Blitar-Ciawi ternyata belum datang. Seketika pandanganku teralihkan pada gerobak bakso yang berdiri di gerbang pool. Rupanya perjalanan Blitar – Tulungagung itu sukses menguras isi perutku. Jadilah kupesan semangkuk bakso seharga Rp 8.000 itu kusantap bersama beberapa penumpang lain. Setelah urusan dengan bakso selesai, tak lama bus yang akan kunaiki datang juga. Berbodi Scorpion-X hasil rakitan Laksana dan ditopang chassis negeri Bavaria bertenaga 380 hp. Aku langsung masuk kedalam bus sekedar menaruh barang bawaanku di kursi 1A, lalu lanjut berfoto mengabadikan keadaan sekitar.

Ini dia yang menemani malamku

Pukul 11:10 bus diberangkatkan. Hampir setengah kapasitas kursi telah terisi, tapi pasti akan bertambah karena bus masih harus melewati beberapa agen yang dilaluinya. Salah satu hal yang paling kusuka dari bodi Scor-X ini adalah bentuk pembatas penumpang yang bentuknya agak pendek, membuat siapapun yang duduk di kursi baris depan akan lebih leluasa untuk melihat ke depan. Apalagi ayunan suspensi O500R dan kursi yang nyaman rakitan Rimba Kencana ini membuat perjalanan terasa sess.

Melintas jalanan Kediri

Dari pool tulungagung tadi. Bus diarahkan menuju kota Kediri. Suasana cukup ramai sore itu. Sampai akhirnya bus berhenti di pool Maospati sekitar pukul 15:00. Karena hanya menaikan penumpang, jadi berhenti disini pun tidak lama, aku manfaatkan untuk ke toilet sebentar. Walaupun di dalam bus juga ada toilet, tapi rasanya tidak enak melewati beberapa baris penumpang.


Tiba di pool Maospati

Hujan mulai turun ketika bus memasuki Ngawi, dan semakin deras saat melewati terminal Kertonegoro. Saking derasnya, sebagian terminal terlihat terendam banjir. Hujan diluar ditambah buaian suspensi O500R ini menambah syahdu perjalanan. Hingga akhirnya pukul 17:45 bus diarahkan masuk ke RM. Duta 2 untuk menikmati service makan. 

Service makan prasmanan seperti biasa. Namun disini kita bebas mengambil nasi dan lauk sepuasnya. Rasanya pun cukup enak menurutku. Ini kedua kalinya aku makan disini, setelah sebelumnya kesini saat menaiki bus Eka. Walaupun tempatnya berbeda dengan service makan khusus bus Eka.

Armada Super Luxury juga ikut makan bareng

30 menit setelah menikmati service makan, pengeras suara menyuruh kami untuk masuk kedalam bus. Ternyata snack dan selimut sudah dibagikan saat diatas bus. Bus kemudian melaju menyusuri jalanan yang mulai gelap. Kondisi jalanan juga agak sepi sehingga tidak bertemu dengan bus-bus lain dari kedua arah. Style drive yang santai nan sess membuatku tersihir ke alam mimpi, apalagi perut kenyang sehabis makan tadi.

Terbang rendah di malam hari

Akhirnya pukul 6:00 sampai ditujuan akhirku yaitu Cimanggis. Karena peraturan baru dari Dishub membuat bus ini tidak melewati Ps. Rebo melainkan keluar di tol Cijago, maka aku turun di Gassalam bersama beberapa penumpang lain. 19 jam didalam bus bagiku bukan masalah jika senyaman ini, mungkin akan kucoba kembali dilain waktu.

====================================

Malang – Blitar

  • PO Bagong
  • AC Ekonomi Medium 3/4
  • Start : 6:30 
  • Finish : 9:00 (Terminal Patria Blitar)
  • Tarif : Rp. 20.000

Blitar – Depok

  • PO Harapan Jaya
  • AG 7053 US “You’re Style the One”
  • BUS 15
  • Blitar – Tulungagung – Ciawi
  • Executive Class (2-2) Toilet
  • 28 Seats (+2 Smooking Area)
  • Tarif : Rp 270.000 termasuk servis makan + snack
  • Start : 11:30 (Pool Tulungagung)
  • Service makan : 17:10 (RM Duta 2 Ngawi)
  • Finish : 6:30 (Gasalam)
  • ScorpionX by Tentrem Karoseri
  • Mercedes-Benz O500R 1836 Air Suspension

Kemalangan menuju Malang (1/2)

[Bus Trip] Jakarta – Solo – Surabaya – Malang

Berawal dr keinginanku untuk menghadiri acara haul akbar di pondok pesanten Darul Hadist Malang, jawa timur. Kebetulan acara yang diadakan di penghujung Maret itu bertepatan dengan libur panjang hari raya Nyepi. Akupun menyiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari demi acara itu, termasuk transportasi, penginapan dan tentunya surat izin cuti selama 3 hari dari kantor tempatku bekerja. Aku memang berniat untuk datang kesana sejak lama, selain niat bertabaruk mengambil berkah sekaligus juga ingin bersilaturahmi dengan para Ulama dan guru disana. Sebenarnya ada banyak armada transportasi yang langsung menuju Malang dari Jakarta. Tapi rasanya tidak seru jika langsung sampai ketempat tujuan. Akhirnya kuputuskan untuk memakai moda transportasi berbeda alias estafet sampai Solo, dengan perhitungan harus sampai di Malang sore hari—karena rangkaian acara pertama dimulai ba’da Ashar—. Tapi ternyata semuanya tidak berjalan mulus.

Jumat, 24 maret 2017

Sore itu sekitar jam 4, setelah urusan kantor selesai aku langsung menuju terminal Pulogebang menggunakan ojek online. Dengan hitung-hitungan rencana yang sudah kubuat sebelumnya, aku memilih menggunakan bus sampai Solo lalu disambung dengan kereta api sampai Malang. Semua tiket sudah kupesan jauh hari. Dan aku kembali memilih PO. Raya untuk mengantarku ke Solo. Kebetulan bus yang kunaiki berangkat pukul 17:30. Seharusnya masih sangat keburu jika aku berangkat pukul 4 sore, tapi ternyata jalanan sore itu sangat tidak bersahabat. Kemacetan yang terjadi dibeberapa ruas jalan memaksaku telat sampai di terminal Pulogebang. Aku langsung bergegas menuju agen untuk konfirmasi, dan ternyata bus baru jalan 10 menit lalu. Ahh kecewa rasanya, rasa takut akan gagalnya semua rencanaku kini menghantui perasaanku. Akhirnya oleh sang agen aku dioper ke bus yang berangkat pukul 18:30 dengan kelas yang sama. “Masih ada harapan” pikirku.

Memang salah besar sih berpergian disaat libur panjang seperti ini, apalagi jika mengandalkan waktu segalanya menjadi tidak jelas. Beruntung aku bertemu seorang teman sesama penggemar bus yang juga akan berangkat ke Solo menggunakan bus yang sama.

Setelah menunggu agak lama ditengah kegelisahan karena tertinggal armada. Akhirnya bus kami datang. Dan sepertinya ini armada bantuan, berbodi Jetbus rombakan. Masih cukup nyaman menurutku dengan kelas 28 seat. Kuamankan seat tengah sambil mengamati suasana terminal yang masih saja ramai, kulihat jalan bebas hambatan sepertinya agak renggang tidak seperti sore tadi. Semoga ini pertanda baik. Kulihat jam digital mulai bergerak ke angka 20 dan bus belum juga jalan. Sedikit terdengar masih ada beberapa penumpang ternyata belum sampai. Hmm, kuabaikan kekacauan itu dan kuambil handpone dari saku jaket berharap ada berita baik yang akan menghiburku.

Bus pun akhirnya diberangkatkan pukul 20:10, tidak lama setelah kelas Super Top berangkat. Dengan okupansi penumpang rata bangku sepertinya ini menjadi bus Raya terakhir yang dipersiapkan berangkat. Dan huawala, kemacetan langsung menghadang kami begitu memasuki ruas Tol Cikampek. Kuajak saja penumpang disebelahku ngobrol berharap kemacetan cepat berlalu. 

Akhirnya pukul 10.05 pagi sampailah aku di terminal Tirtonadi. Senang dan kesal mengaduk perasaanku. Dan resiko yang terjadi adalah aku kembali tertinggal kereta menuju malang. Hanya beda 15 menit padahal dari jadwal keberangkatan. Dan akhirnya aku langsung mencari moda transportasi lain yang sebisa mungkin sampai di Malang sesuai rencanaku. Kulihat diwebsite jadwal kereta ke Malang baru ada lagi nanti malam, tidak mungkin aku menunggu selama itu disini. Akhirnya Kuberanikan diri menuju stasiun menggunakan becak berharap ada pilihan kereta lain, tidak apa-apa estafet lagi yang penting bisa secepatnya sampai Malang.

“mba, kereta yang ke Malang adanya jam berapa ya ?” tanyaku pada petugas loket stasiun Solo Balapan.

“sebentar saya cek dulu ya… udah ngga ada mas yang ke Malang, ada juga jam 1 malam nanti ?”

“yahh, yang sore atau siang gitu ngga ada mba ?”

“ngga ada, kalo mau transit aja mas, ikut ke Surabaya dulu, dari sana baru naik kereta lokal”

“ jam berapa tuh mba sama harganya berapa ?”

“yang terdekat ada Ranggajati jam 1 untuk kelas excekutif 275 ribu kalo yang bisnis 205”

“hmm gitu ya.. (setelah agak lama mikir) ..yaudah yang exenya aja deh”

“berapa orang ?”

“1 aja mba”

Dilema sebenarnya. Aku harus cepat memilih di situasi seperti itu. Walaupun konsekuensinya tidak sampai sana sesuai planning dan tidak mengikuti acara dari pertama. Tapi disatu sisi ada kesenangan tersendiri juga. Aku jadi bisa lebih mengeksplorasi tempat-tempat baru, pengalaman baru serta mengamati bagaimana kondisi lingkungan sekitar. Ada banyak hal yang kudapat.

Pengeras suara berbunyi menyuruh kami untuk bersiap di peron. Kereta itu sudah tampak penuh ketika aku masuk ke dalam gerbong eksekutif 3. Ku duduk di seat 8D tepat disamping kaca. Tampak seorang perempuan paruh baya sudah sedari awal mungkin duduk di kursi sampingku. “Jember”, begitu jawabnya ketika kutanya kemana  ia hendak pergi.

Kereta melaju tepat pukul 13:00. Pergi meninggalkan kota Solo ini menuju tujuannya. Kunikmati perjalanan sambil kusantap sekotak Chicken Teriyaki seharga Rp 30.000. Dan ini aku baru makan nasi lagi semenjak service makan di RM Indorasa 2.

Setelah melalui perjalanan kereta yang monoton, Pukul 17:35 tiba juga di stasiun Surabaya Gubeng. Aku bergerak cepat karena harus mengejar kereta lokal Penataran Doho yang berangkat pukul 17:50. Tapi, bentuk stasiun yang berbeda sisi antara kereta lokal dan kereta jarak jauh membuatku kembali tertinggal kereta. Aku harus berjalan memutar keluar stasiun sejauh 200 meter hanya untuk berpindah peron. Entah kenapa tidak dibuat jalur khusus untuk penumpang yang ingin berganti kereta tanpa harus keluar stasiun.

Terpaksa aku harus menunggu kereta lokal terakhir yang berangkat pukul 20:45. Sungguh keterlaluan namanya kalau ini sampai ketinggalan juga. Kuputuskan duduk di depan minimarket pinggir jalan stasiun Gubeng sambil mengamati orang-orang. Rintik hujan yang turun seperti menangisi keadaanku. Payah sekali memang. Aku pun bagai tak percaya pada diriku sendiri. Bagaimana bisa berturut-turut tertinggal seperti itu. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga masih tertimpa genteng juga. Seharusnya mungkin saat ini aku sudah sampai dan sedang menghadiri acara tanpa masih bersusah payah disini.

Waktu mulai mendekati jam kedatangan kereta, aku masuk ke dalam sisi stasiun yang masih kokoh dengan gaya arsitek kolonial. Hanya Rp 10.000 perjalanan dari stasiun Surabaya Gubeng ini menuju stasiun Malang. Dan lagi-lagi, ternyata kereta terlambat datang dari waktu semula. Membuatku makin larut saja sampai di Malang. Dan kembali kuajak diri ini untuk tenang, walau sebenarnya ingin segera cepat-cepat berbaring di kasur karena badan rasanya mau rontok.

Akhirnya pukul 21:35 kereta datang. Telat 1 jam. Langsung kucari bangku dekat pintu bordes, berharap bisa leluasa keluar masuk karena sebenarnya aku mendapat tiket berdiri. 20 menit kemudian kereta berjalan. Berhenti di tiap-tiap stasiun yang dilewatinya. Kuamati keadaan diluar dari pintu gerbong yang gelap itu. Dari pantulan kaca itu kulihat diriku nampak berdiri lesu didalam kereta yang melaju dijalur Surabaya Malang. Oh Malang, aku datang. Perjalanan 35 jam itu hampir menemui ujungnya.

Dan akhirnya pukul 23:40 sampailah juga aku di stasiun Malang kota lama. Raut kegembiraan tergambar di mukaku. Bagai merayakan diri sendiri, yang bersusah sampai kesini. Patung singo edan tampak menyelamati kedatanganku. Kota itu tampak dingin dan sepi saat aku berjalan menuju tempat penginapan. Dan akupun bersiap diri untuk hari esok.

====================================

Jakarta – Solo

  • PO Raya
  • Executive 28
  • 28 seat (2-2) + Toilet
  • Start : 20:05 (Terminal Pulogebang)
  • Finish : 10:10 (Tirtonadi Solo)
  • Tarif : Rp 215.000 termasuk service makan + snack

Solo – Surabaya

  • KA Ranggajati
  • Cirebon – Jember 
  • Start : 12:25 (Solo Balapan)
  • Finish : 17:40 (Surabaya Gubeng)
  • Tarif : Rp 275.000

Surabaya – Malang

  • KA Penataran Doho
  • Surabaya – Malang – Blitar
  • Start : 21:50 (Surabaya)
  • Finish : 11:50 (Malang)
  • Tarif : Rp 10.000