Murah, tapi tidak murahan

[Bus Trip] Yogya – Bogor

11 September, 2016

Hari masih pagi ketika aku menjejakan kaki di Yogya. Ini pertama kalinya aku kesini. Kota yang selalu menjadi perbincangan orang dengan sejuta budaya dan keramahan orang-orangnya.

Sebelumnya kami melakukan perjalanan ke Kudus dari Jakarta menggunakan Po. New Shantika, lalu disambung bus Patas Nusantara menuju Yogya paginya. Perjalanan sekitar 3 jam dari Kudus itu akhirnya mengantarkan kami sampai diterminal Jombor. Kami pikir akan melanjutkan dengan Trans Jogja menuju terminal Giwangan, tapi ternyata PO Nusantara ini menyiapkan Shuttle jika ingin melanjutkan perjalanan ke sana.

Pukul 9:10

Sampailah kami di terminal Giwangan. Tidak sampai 1 jam perjalanan dari terminal Jombor tadi. Disini, kami langsung menuju agen Putera Mulya yang terletak di lantai 2 untuk mengambil tiket pulang menuju Bogor nanti sore.

Kami sebenarnya harap-harap cemas disini. Masih menebak armada apa yang nanti akan mengantar kami. Takut jika kembali mendapat bus tidak sesuai dengan keinginan kami seperti awal berangkat dari Lebakbulus. Beberapa kali sempat mencari info di grup Facebook dan bertanya-tanya, hanya memastikan bahwa bukan armada zonk yang kami dapat.

Agen Putera Mulya terminal Giwangan

Setelah urusan transaksi selesai, kami berkeliling sebentar di terminal Giwangan ini sekedar melihat-lihat bis yang lalu lalang pagi itu.

Karena hari masih cukup pagi dan waktu berangkat pun masih lama. Kami sempatkan berkeliling di Malioboro. Sekedar memanfaatkan waktu mumpung masih di kota ini.

Kami juga sempat bertemu dengan Bayu rekan BisMania Jakarta Raya yang juga kebetulan touring hari itu, kami hanya berbincang sebentar karena ia harus melanjutkan perjalanannya menuju Solo.

Pukul 13:00

Singkat cerita, setelah puas berkeliling Malioboro kami kembali ke terminal Giwangan. Karena bus akan berangkat pukul 14:30 nanti.

Setelah sampai sana, kami sempatkan istirahat di ruang tunggu dan makan siang di kantin terminal yang terletak di lantai bawah. Ada cukup banyak warung makan yang tersedia termasuk tempat oleh-oleh.

Pukul 14:00

Terdengar arahan dari petugas agen untuk segera berkumpul di bawah, karena bus sebentar lagi akan datang.

Tak lama, datanglah benda besar berkelir merah memasuki terminal. Itulah bus yang kami naiki. Putera Mulya berbody Maxibus XHD dengan chassis O500R yang terlihat menawan. Kami bersorak kegirangan. Akhirnya bisa mendapatkan armada sesuai harapan.

Pukul 14:35

Bus diberangkatkan, ada sekitar 8 orang kalau tidak salah yang naik dari sini termasuk kami. Dengan driver pinggir mas Rofiq.

Pertama kali masuk ke dalam kabin bus ini, entah kenapa aku langsung suka dengan view di kaca depan. Tanpa adanya penghalang “ala-ala” bando kekinian itu membuat pandangan sangat luas. Apalagi didukung juga dengan chassis premium Mercedes-benz O500R 1836 bersuspensi menambah kenyamanan perjalanan kali ini. Di bus ini juga tersedia USB Charger pada setiap baris tempat duduk, yang memudahkan penumpang mencharger gadgetnya selama perjalanan. Untuk interiornya sendiri, bus ini terdiri dari 40 seat Aldilla + 5 seat di Smooking area dengan pijakan kaki serta selimut dan bantal. Toilet juga tersedia di bus ini. Cocok dengan harga Rp 135.000.

Selama perjalanan menuju Bogor bus ini melewati jalur selatan via Cipali. Sempat beberapa kali singgah ke agen dan terminal untuk menaikan penumpang. Kontur jalur selatan yang sedikit meliuk-liuk seakan mengingatkanku dengan kampung halaman. Suasanannya tidak jauh berbeda. Sawah, rumah, jalanan, bahkan bahasa komunikasi juga masih sama. Berharap sebenarnya semoga bus ini melewati kampungku. Sekedar pengobat rasa rindu ini.

Melewati Garasi bus Sumber Alam Kutoarjo

Waktu mulai maghrib ketika kami memasuki terminal kebumen. Hmm, lama juga ya perjalanan yogya-kebumen ini. Tak seperti ku duga sebelumnya.

Bicara soal Kebumen. Terakhir kali kesini mungkin sekitar 13 tahun lalu. Saat itu menjadi perjalanan terjauhku naik bus. Tidak sendiri sih, waktu itu bersama keluarga untuk menghadiri acara salah satu pesantren. Tapi masih jelas teringat bagaimana perjalanan waktu itu. Terutama naik busnya. Walaupun sekarang sudah bisa kemana-mana sendiri, tapi kenangannya tak pernah hilang.

Pukul 20:00

Bus ku berhenti disebuah rumah makan. Penanda bagi kami semua untuk istirahat. Aku turun. Untuk kelas patas ini memang tidak dapat makan. Jadi kami pesan semangkuk bakso saja sebagai pengganjal perut agar tidak berteriak. Murah cuma Rp 5.000 saja per mangkuk.

Suara gema takbir berkumandang diluar. Membuat damai ditelinga.Besok hari raya kurban. Ah, aku kembali teringat kampungku. Suasanannya benar-benar membuat aku ingin pulang kampung.

Keluar rumah makan. Dan menghirup udara dingin sekitar. Membuatku tenang sejenak. Ku lihat gps, ternyata masih di daerah Wangon. Tinggal lurus sedikit ke utara menuju Tegal, lalu masuk tol maka sampailah di Jakarta. Tapi perjalanan tidak secepat yang kubayangkan. Aku masih ingin berlama-lama disini. Kalaupun boleh, menginap semalam saja disini lalu besok pagi dilanjutkan kembali perjalanan. Andai boleh, tapi pasti banyak yang protes. Karena penumpangnya bukan aku saja. Busnya juga bukan punyaku.

Bus kembali dijalankan 30 menit setelah pengeras suara berbunyi menyuruh kami masuk ke dalam bus untuk bersiap. Setelah rumah makan kontur jalan lebih berkelok dari sebelumnya. Kami dapati banyak sekali berpapasan dengan bus sinar jaya, murni jaya, dan pemain selatan lain yang agak lupa namanya ku ingat.

Jalanan cukup ramai malam itu walau sedikit gelap. Terkadang sebentar-sebentar juga macet karena perlintasan kereta api. Momen takbiran membuat banyak masyarakat juga anak-anak keluar malam itu, sekedar menghidupkan malam takbir. Gema takbir juga masih kudengar dari dalam bus. Terasa seperti suasana mudik lebaran.

Sekitar pukul 22:00 malam. Bus sudah memasuki Tegal tinggal sedikit lagi akan memasuki tol Pejagan. Tapi aku tertidur disini. Efek kelelahan karena setengah hari berkeliling Yogya. Andai aku terjga, mungkin aku bisa menyaksikan power si o500R ini berlari menyusuri jalan bebas hambatan.

Aku terbangun ketika sudah di tol Bekasi arah Jakarta. Hmm lama juga tidurku. Mungkin karena terbuai nikmat si O500R ini. Bus dibelokan kekiri keluar Jatiwarna karena ada penumpang yang turun. Singgasana driver kembali dipegang oleh mas Rofiq. Nah, hal lucu terjadi disini. Mungkin karena baru bangun. Mas Rofiq kebingungan karena tidak tahu dimana saat ini ia berada. Akibatnya bus kami nyasar ke pondok gede. Beruntung ada salah satu penumpang yang hafal daerah sini, akhirnya memberi pengarahan kepada mas Rofiq untuk diteruskan saja ke arah Pinang Ranti biar nanti keluar di pasar induk Kramat Jati.

Kami akhirnya turun ketika bus memasuki Pasar Rebo. Pukul 3.00 dini hari waktu itu. Sebenarnya tujuanku di Cimanggis dan masih agak jauh. Tapi karena harus mengantar kawanku yang akan melanjutkan perjalanannya ke Serang dari sini maka akupun turun untuk mengantar. Aku yakin sudah banyak bus menuju sana di pagi ini.

Kami akhirnya berpamitan, setelah bus Primajasa tujuan Merak datang menghampiri kami. Lalu kami pun berpisah menuju tujuannya masing-masing.

==================================

PO Putera Mulya

  • AD 1709 AF
  • P11 (Esslingen)
  • Klaten – Yogyakarta – Bogor (Bubulak)
  • Patas (2-2) Toilet
  • + Smooking Room
  • Tarif : Rp 135.000 non service makan
  • Start : 14:40 (Yogyakarta)
  • Istirahat : 20:30
  • Finish : 3:45 (Ps. rebo)
  • Maxibus XHD Karoseri Laksana
  • Mercedes-Benz O500R 1836 Air Suspension

Kenikmatan Kasur Berjalan

[Bus Trip] Jakarta – Solo

Berawal dari obrolan singkat di WhatsApp. Tentang sebuah rencana perjalanan di akhir tahun. Sebuah perjalanan spesial bisa dibilang, karena kami menggunakan bus tingkat dari PO Putera Mulya. Bus tingkat pertama di pulau Jawa yang digunakan sebagai armada AKAP. Sebuah kemajuan dalam transportasi Indonesia, karena berani membuat gebrakan seperti ini. Walaupun sebenarnya agak tertinggal dari daerah lain di Indonesia yang jauh lebih dulu menggunakan bus tingkat sebagai armada jarak jauh.

Nah, kehadiran bus tingkat ini membuat kami penasaran untuk mencobanya. Setelah melewati diskusi kusut, kami sepakat menaiki bus ini dari Wonogiri menuju Jakarta. Adapun untuk armada berangkat, aku dan temanku yang lain memutuskan untuk naik armada yang berbeda. Dikarenakan pekerjaan kantor yang tak bisa membuat aku berangkat bareng mereka.

Aku akhirnya memilih PO Raya menuju Solo untuk armada berangkat. Mengapa sampai Solo ? karena disanalah kami janjian akan bertemu. Lagipula di Solo kami bisa memilih Terminal Tirtonadi yang nyaman sebagai tempat Istirahat sejenak.

Sabtu, 31 Desember 2016 

Hari terakhir di 2016. Untung pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak, jadi bisa simpan tenaga untuk nanti malam.

Pukul 15:40 aku berangkat dari kantor menuju terminal Pulogebang. Jalanan mulai ramai oleh orang yang akan bersiap tahun baruan. Tepat pukul 17:00 sampailah aku di terminal, bukan agen yang langsung kutuju tapi kantin. Rupanya, urusan perut lebih penting dari segalanya.

Aku iseng menanyakan temanku yang 2 jam lebih dulu berangkat dari terminal ini juga, dengan naik bus tingkat Putera Mulya. Tadinya mereka mau naik kelas Big Top dari PO Putera Mulya. Kelas yang juga diluncurkan bersamaan dengan bus tingkatnya minggu lalu. Tapi ternyata jadwalnya sedang dari timur, jadinya mereka naik bus tingkat saja ke Solo.

Selesai makan. Aku langsung menuju tempat pemberangkatan bus di lantai 3. Bagi yang pertama kali kesini mungkin akan sedikit bingung dengan lokasinya yang luas. Namun beberapa rambu penunjuk yang terpasang cukup memberikan arahan kepada calon penumpang.

Sampai di tempat pemberangkatan, sudah terparkir beberapa bus yang akan berangkat sore itu, rata-rata jurusan Jawa Tengah. Aku langsung menuju ke jalur dimana bus ku berada. Bus berbody Nucleus dari Laksana dengan model kaca belah dan berchassis OH 1521, seolah membuat nostalgia. Bagaimana tidak, terakhir naik bus seperti ini mungkin 13 tahun lalu. Salut kepada PO. Raya yang masih mempertahankan body lawas ditengah persaingan model kekinian.

Bus sempat molor 30 menit dari jadwal karena sempat sedikit kurang komunikasi dengan penumpang. Setelah semua selesai. Bus dijalankan keluar dari jalur dan meninggalkan terminal. Tepat pukul 19:00.

Aku akui perawatan dari bus Raya ini sangat baik. Terbukti walaupun bermesin tua, namun minim sekali bunyi “kriyet-kriyet” seperti bus lawas kebanyakan. Suara kabin pun senyap, tak terdengar bunyi gemlodak di bodynya. Sangat asik mendengar bunyi deru mesin khas cooler yang halus dari dalam.

Suasana langsung disambut hujan deras begitu masuk Cipali. Suasana seperti ini yang membuat syahdu. Wiper depan yang terlihat bergerak berlawanan. Menyapu hujan membelah kaca. Kabin yang senyap sebenarnya akan bagus bila dipakai tidur. Tapi menurutku sayang jika dilewatkan begitu saja.

Ketika berada di tol Cipali daerah Sumedang, bus diarahkan keluar tol. Aku kira akan melewati Pantura lama menuju Subang Cirebon. Ternyata menuju rumah makan. Pertanda service makan pertama. Bertempat di RM Indorasa 2. Tempat dimana bua Handoyo juga menyediakan service makannya disini.
Tempatnya teratur juga nyaman. Seperti belum lama dibangun. Sebanding dengan rasa masakan yang disajikan.

Menu service makan RM Indorasa 2

Setengah jam disini. Bus akhirnya dijalankan kembali. Menyusuri jalannan yang sama saat tadi keluar tol. Cuaca juga masih hujan saat itu. Tapi tidak sederas tadi.

Aku tak tahu persis jam berapa keluar Pejagan. Karena tertidur. Bangun sudah di daerah Pekalongan kalau tidak salah ingat. Tidak ada yang menarik dijalan. Lawan juga tidak ada.

Akhirnya pukul 2 malam bus kembali istirahat. Di rumah makan daerah Kendal. Hanya berhenti istirahat saja. Menjadi momen bagi sang driver untuk mengisi kembali tenaganya. Maklum beliau membawa bus ini seorang diri dan hanya ditemani kondektur.

Istirahat kedua di RM Gemar Ikan Kendal

Pukul 2:40 bus dijalankan. Karena kantuk yang masih tanggung. Aku kembali melanjutkan tidur. Terbangun ketika memasuki Semarang. Bus dibelokan ke kanan menuju tol Bawen. Disini hanya ditemani Pahala Kencana dan sebuah bus pariwisata. Bus ku berjalan santai sehingga membuat kedua bus tersebut jauh menghilang beriringan di depan.

Sepanjang perjalan ini sebelum sampai Solo. Aku hanya mengamati jalan. Menerka dan mengamati keadaan pagi buta itu. Beberapa penumpang turun ketika memasuki terminal Boyolali. Sampai akhirnya subuh hari menyambutku di Solo, Terminal Tirtonadi. Aku turun disini bersama sisa penumpang.

Wahai Raya. Terima kasih atas kursi empuknya, membuat aku cukup puas tertidur selama dijalan. Sungguh, jika ada kesempatan harus naik kamu lagi.

==================================

Jakarta – Solo

  • PO Raya
  • AD 1630 BG
  • Seri R
  • Exe 24
  • Jakarta (Pulogebang) – Solo (Tirtonadi)
  • Executive Class (2-2) Toilet
  • 24 Seat (ex Garuda Indonesia Trijet)
  • Tarif : Rp 235.000 termasuk service makan + snack
  • Start : 18:55 (Jakarta)
  • Service makan : 21:05 (RM Indorasa 2 Subang)
  • Istirahat : 2:30 (RM Gemar Ikan Kendal)
  • Finish : 5:00 (Solo)
  • Nucleus 3 Karoseri Laksana
  • Mercedes-Benz OH 1521 / OM 366 LA II