Perdana ke timur Jawa (3/3)

[Bus Trip] Kudus – Depok

Bejeu B39 (Scudetto)

Sabtu, 2 Januari 2016

Ketika memasuki terminal Kudus. Hiruk pikuk kegiatan para penglaju sudah ramai disini. Para calo yang tak henti-hentinya berteriak menawarkan angkutan, dan beberapa penumpang yang menunggu busnya sambil bosan.

Memang beginilah suasana terminal Kudus, yang hanya ramai saat sore hari. Karena memang rata-rata bus malam dari Jepara, Pati dan sekitarnya-disebut bus Muriaan-bertemu disini. Ini juga yang menjadi daya tarik para penggemar bus untuk datang hunting disini.

Bus Muriaan memang selalu mengundang perhatian. Selain karena busnya yang bagus, para PO (Perusahaan Otobus) disini juga seperti berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik kepada penumpangnya. Bisa dibilang, kelas terendah sampai termewah ada disini.

Sibuk mengamati suasana terminal sore hari. Aku pun ikut memfoto-foto bus yang ada sore itu. Sampai akhirnya akan tiba waktu keberangkatanku. Pukul 19:00 sesuai tiket. Tapi jam masih menunjuk pukul 18:00, masih sejam, lumayan buat makan dulu.

PO. Haryanto, salah satu bus di sore itu

Untuk perjalanan pulang kali ini. Aku menggunakan armada PO Bejeu. Si hitam dari Jepara yang terkenal akan pelayanannya yang nyaman. Jika diperhatikan, rata-rata bus Bejeu menggunakan karoseri dari Tentrem. Entah apa alasannya, tp itu membuat penekanan, bahwa bus dengan body Tentrem dan berwarna hitam orang pasti teringat Bejeu.

Pukul 18:42. Setelah menunggu agak lama, busku pun datang. Berbody Sorpion King dengan livery blackgold, dan benomor lambung B39 yang berjuluk “Scudetto”. Dikaca depannya tertempel nomor BE04 yang merupakan kode trayek Jepara – Cileungsi.

Bejeu B39 (Scudetto)

Ketika memasuki bus, dan menuju tempat dudukku, di seat 1D, sudah ditempati penumpang lain yang merupakan perempuan bersama anak kecilnya. Merasa tak enak, akhirnya aku duduk di seat 1C.

Tampak seat depan Bejeu B39

Pukul 18:55. Bus berjalan meninggalkan terminal Kudus. Sambil menaiki beberapa penumpang di agen sepanjang jalan menuju Semarang.

Setelah dikira penuh, sang supir langsung menarik gasnya dalam-dalam. Sempat beberapa kali beriringan bersama bus muriaan lain. Tak lama, snack pun dibagikan. Terdiri dari air mineral, popmie, dan roti. Yang cukup lumayan mengganjal perut.

Service makan bus Bejeu ini jika dari timur ada di RM Barokah Indah, Gringsing. Tepat berseberangan dengan RM Menara Kudus milik PO Haryanto. Bukan hanya Bejeu, bus muriaan lain seperti New Shantika, Muji Jaya juga disini service makannya.

Setelah service makan, aku tertidur sampai akhirnya entah di daerah mana aku terbangun karena merasa bus berhenti. Dan benar saja, ternyata sedang ada trouble pada bus Bejeu lain. Sebagai bentuk kesetiakawanan, bus Bejeu yang lain juga banyak yang berhenti. Cukup lama berhenti disini, sekitar 1 jam 30 menit. Karena aku sempat tertidur ketika bus berhenti, dan terbangun kembali saat bus akan berjalan. Alhasil, beberapa bus Bejeu pun berjalan beriringan. Seperti jalanan punya sendiri.

Aku tertidur cukup lama, sampai terbangun sudah memasuki SPBU area 234 Cikarang. Beberapa bus Bejeu yang lain pun isi solar disini. Karena sudah subuh, aku pun menuju sebuah Mushola untuk menunaikan kewajiban.

Sekitar 15 menit bus ini mengisi solar. Cukup lama memang, karena konsumsi bahan bakarnya juga besar.

Bus kembali dijalankan memasuki jalan Tol Cikampek. Belum terlalu ramai karena masih pagi. Sebenarnya, jika bus tidak berhenti tadi saat ada trouble, seharusnya saat ini sudah sampai rumah. Tapi, tidak apa karena masih tebilang wajar masuk Jakarta tidak terlalu kesiangan.

Melewati Garuda Taman Mini. Beberapa penumpang satu-persatu mulai turun. Sampai meyusuri Jalan Raya Bogor, akupun mulai bersiap, termasuk penumpang disampingku ini. Ternyata dia juga turun ditempat yang sama. Aku tahu begitu setelah mengobrol dengannya sebelum berangkat.

Menyusuri Jalan Raya Bogor Ciracas

Akhirnya, tepat pukul 6:00 pagi. Sampailah aku pada tujuan terakhirku. Ya, Cisalak. Sebelah selatan dari Pal Depok, tempat aku memulai perjalananku ini.

Dengan begini, berakhirlah perjalanku, dan berakhir pula tulisanku yang berjudul Perdana ke Jawa Timur. Dengan rute : 

Depok – Surabaya – Solo – Semarang – Kudus – Depok

Saksi bisu perjalanan

Menggunakan bus, dengan 5 PO bus yang berbeda aku jalani semua dalam 3 hari tektok. Tepatnya 1-3 Januari 2016.

Semoga menginspirasi.

==================================

PO. Bejeu

  • K 1474 AL
  • B39 (Scudetto)
  • BE04
  • Jepara – Bogor (Ciawi)
  • Executive Class (2-2)
  • 32 Seat + Toilet
  • 2x Wifi Hotspot + Coffe Marker
  • Tarif : Rp 220.000 termasuk service makan & snack
  • Start : 19:00 (Kudus)
  • Service makan : 21:10 (RM
  • Finish : 6:00 (Depok)
  • Scorpion King Karoseri Tentrem
  • Hino RK R260 Air Suspension

Yogya In Love

Family Gathering BisMania Community Korda Jakarta Raya

Yogyakarta, 3-5 Februari 2017

Sore itu, selepas maghrib. Kami dan kawan-kawan lainnya berkumpul di lapangan parkir di daerah UKI Cawang. Sambil mengobrol satu sama lain sembari menunggu kawan lain yang belum datang.

Malam ini kami akan berangkat ke Yogya. Bukan untuk acara apa, tapi hanya rekreasi rutin bersama para penggemar bus.

Pukul 19:20. Setelah sekiranya telah berkumpul semua, bus pun dijalankan. Menggunakan bus Laks bernomor 408 G, berchassis Mercedes-benz OH 1626, yang akan mengantar kami pulang dan pergi.

PO Laks 408 G

Menyusuri jalanan Tol Jakarta – Cikampek yang selalu padat seperti biasanya, dan baru lancar ketika melewati GT Cikarang Utama. Beberapa kali sempat bertemu bus Cirebonan, Sinar Jaya dan Gunung Mulia. Tapi yang paling menarik adalah, ketika bus kami tiba-tiba saja diblong oleh Karunia Bakti. Bus tujuan Singaparna ini seperti dikejar waktu. Blong kanan-kiri, melewati berbagai kendaraan di depannya dengan lihai. Seperti tak mau kalah, kamipun mencoba mengejar. Gengsi dong masa chassis 1626 dikalahkan oleh Hino AK (mesin depan). Apalagi sepertinya si supir Karunia Bakti tersebut tahu siapa orang-orang yang ada di dalam bus ini setelah melihat banner kami di belakang. Sempat berduel selama beberapa menit, tapi sepertinya supir kami kalah skill dibanding si Karunia Bakti itu, atau supir kami kurang saweran ? hahaha.

Setelah melalui jalan Tol yang panjang. Pukul 23:00, kami singgah di RM Menara Kudus Gringsing, Jawa Tengah untuk makan malam. Rumah makan yang tidak asing bagi pengguna bus karena merupakan milik PO Haryanto. Pertama kali juga bagiku menikmati makan disini walau belum pernah mencoba busnya, hehe.

Suasana RM Menara Kudus

Kurang lebih 45 menit kami berhenti, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali. Merasa tak ada yang menarik di jalanan, aku putuskan tidur. Tersadar karena jalanan yang berkelok ala kontur pegunungan, ternyata sedang berada di daerah Temanggung. Di jalur yang sering dilewati Handoyo dan OBL menuju Yogya. Ah, Andai perjalanan dilakukan siang hari pasti lebih indah.

Paginya di waktu Subuh, kami berhenti di sebuah masjid di daerah Ngadirejo-masih Temanggung-untuk melaksanakan kewajiban. Namanya masjid Wali Limbung. Konon, ini merupakan masjid bersejarah di Temanggung, peninggalan seorang Ulama penyebar Islam di Temanggung.

Berhenti di Masjid Wali Limbung

Setelah kurang lebih 1 jam kami berhenti disini, perjalananpun dilanjutkan. Sambil diiringi mentari fajar yang tampak malu-malu dibalik awan, dan gunung Sindoro yang gagah berdiri seolah-olah mengawasi kami. Hari itu cerah, jadi sangat asyik menikmati pemandangan.

Selamat pagi Yogya.

Sekitar pukul 7:30 kami memasuki Yogya. Ah, seperti rindu yang terbalaskan saat kembali kesini.

Sampai akhirnya, sang supir bus menyeret kami ke suatu tempat. Oh, rumah makan nampaknya. Kami pun bergegas menikmati service makan kedua alias sarapan. RM Ambarketawang, begitulah tulisan yang terdapat disebuah billboard tepat didepan bangunan rumah makan. Yang di sampingnya terdapat pom bensin yang memungkinkan para pengunjung rumah makan mengisi makan kendaraannya juga disini.

RM Ambarketawang, Yogya

Setelah makan, sekitar pukul 9:00 pagi bus kembali dijalankan menuju tempat wisata pertama yaitu Goa Pindul yang terletak di Gunung Kidul. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Ambarketawang. Perjalanan selama itu terasa menyenangkan, karena dipandu oleh tour guide cantik yang sangat lugas memberikan informasi tentang Yogyakarta.

Ketika menuju Gunung Kidul. Kita akan melewati Bukit Bintang. Dari sini kita bisa melihat kota Yogyakarta secara keseluruhan dari atas bukit.

Tidak jauh darisana. Terdapat ikon tulisan Gunung Kidul yang dipercantik dengan taman yang asri.

Sumber : Google Images

Sekitar pukul 10:30 kami tiba di kawasan Gunung Kidul. Langsung kami bersiap-siap mengganti pakaian karena sudah tidak sabar bermain air.

Saat memasuki kawasan. Kita akan lebih dulu diarahkan dilokasi tunggu. Disini kita akan dibagikan pelampung dan ban besar sebagai penopang badan kita saat nanti mengapung. Disini juga bisa melakukan pendaftaran bagi yang ingin memasuki Goa, dan juga terdapat tempat penitipan bagi para pengunjung yang ingin menitipkan barang bawaannya. Karena selama di dalam Goa tidak diperkenankan membawa kamera atau yang sejenisnya demi keamanan. Untuk harga masuk sendiri aku tidak tahu, karena begitu sampai sana biaya masuk sudah ditanggung panitia. Dan lokasi Goanya sendiri masih berjarak sekitar 100 m dari tempat tunggu itu.

“Ramee bagettt !!”

Ujar salah satu kawan kami.

Aku juga merasa demikian. Mungkin dikarenakan sedang weekend jadi antusiasme wisatawan yang datang kesini juga meningkat. Bagaimana dihari libur panjang, mungkin akan lebih banyak pengunjung dari sekarang.  Tidak bisa dibayangkan penuhnya Goa oleh badan-badan manusia.

Goa Pindul

Cara masuk ke Goa ini harus menggunakan ban sebagai pelampung yang kita dapat sebelumnya, dan saling berpegangan satu sama lain, untuk nanti akan ditarik oleh pemandu yang sudah disiagakan dibeberapa titik Goa.

Suasana di dalam Goa sangat sejuk, udaranya pun segar. Ditiang-tiang atas Goa bersarang kelelawar yang sedang tidur. Panjang Goa Pindul sendiri sekitar 350 m. Selama perjalanan itu kita akan melewati 3 sesi. Yaitu, remang-remang, gelap, dan terang. Dan didalam juga kita akan melewati sebuah jalur yang hanya akan bisa dilewati oleh 1 orang saja. Seru lho.

Dan sebelum menuju pintu keluar Goa, kita akan disuguhi pemandangan cahaya yang menyelinap masuk ke dalam Goa. Sangat indah sekali.

Sumber : Google Images

Kami pun keluar Goa dengan tawa riang. Merasa puas dengan perjalanan di Goa tadi.

Setelah di Goa Pindul. Siangnya kami langsung bergerak menuju pantai. Tapi kami tidak langsung kesana karena harus makan siang dulu.

RM Griyo Wono, tempat kami makan siang

Pukul 14:30 kami menuju pantai. Sepanjang namanya. Kenapa tidak ke Indrayanti, kami tahu disana pasti ramai. Makanya kami memutuskan pergi ke pantai ini karena tidak terlalu ramai, dan letaknya juga tidak terlalu jauh dari Indrayanti.

Begitu kesini tempatnya memang masih sepi, akses menuju pantainya juga agak kepelosok. Tapi terbayar begitu ke area pantai. Laut biru dan pasir putih seperti menyapa kami yang baru pertama kali kesana.

Foto session di Pantai Sepanjang

Disana kami cuma 1 jam saja. Karena terbatas waktu untuk nantinya kami harus ke lokasi terakhir yaitu Malioboro. Kami memang harus kesini. Nggak ke Yogya katanya kalo nggak mampir ke Malioboro.

Sebelum ke Malioboro. Kami sepakat untuk ke tempat oleh-oleh yang menjual makanan khas Yogya yaitu Bakpia. Terletak tidak jauh dari bandara Adisutjipto, toko ini menamakan dirinya Bakpia 25. Tempatnya memang ramai, bahkan parkirannya juga muat beberapa bus. Konon, pabrik pembuatannya pun masih satu atap dengan tokonya. Makanya kita akan mendapati beberapa kotak Bakpia masih terasa hangat. Tetapi tidak hanya Bakpia, panganan lain khas Yogya pun tersedia disini. Membuat kami sedikit kebingungan memilih yang mana sesuai isi kantong kami.

Tempat oleh-oleh Bakpia

Setelah semua dirasa cukup. Perjalanan kembali dilanjut dan pada pukul 19:30 kami sampai di parkiran Abu Bakar Ali (ABA). Sebuah parkiran bertingkat yang memang telah dibuat khusus untuk para wisatawan yang ingin menitipkan kendaraannya. Letaknya sangat strategis, tepat di sebelah utara jalan Malioboro dan sebelah timur stasiun Yogya. Jadi hanya dengan menyebrang jalan dari parkiran ABA anda sudah sampai di Malioboro. Kami diberi waktu sampai pukul 22:00 untuk bebas menikmati kawasan Malioboro malam itu. Dan ternyata disana kami juga disambut oleh dulur-dulur dari BMC Yogya.

Oh Yogya. Aku benar-benar merasakan suasana Yogya yang indah malam itu.

Aku, bersama 4 kawanku yang lain memutuskan pergi ke tugu. Ya, tugu Yogya. Tidak jauh, cukup berjalan kaki sejauh ± 300 meter ke utara dari parkiran bus tadi.

Begitu disana, sudah banyak muda-mudi yang sengaja berkunjung juga kesana. Karena lokasinya yang berada tepat di tengah-tengah perempatan jalan. Membuat lokasi ini sangat ramai.

Berfoto di depan Tugu Yogyakarta

Setelah puas dari sana, kami pun kembali ke parkiran bus tadi mengingat waktu sudah mendekati pukul 22:00. Saat dijalan kembali, kami sempatkan membeli beberapa makanan di sebuah angkringan. Sekedar untuk mengganjal perut. Tentu tidak makan disini, melainkan dibus.

Saat sudah di parkiran ABA, ternyata bus kami sudah pindah ke depan karena terdorong oleh bus lain yang baru masuk parkiran. Memang begitulah sistem parkiran ini.

Sampai di depan kami sempatkan sowan kepada dulur Korwil Yogya lalu dilanjutkan dengan foto session. Walaupun sebelumnya banyak yang belum kenal, tapi setidaknya dari pertemuan ini membuat kami menjadi dekat. Hanya waktu yang akhirnya memisahkan kami kembali. Terimakasih dulur Korwil Yogya semoga bertemu di event lain.

BMC Jakarta Raya Yogya In Love

Sekitar pukul 22:35 rombongan kami mulai keluar parkiran ABA dan meninggalkan Yogya. Sama seperti aku bilang sebelumnya, Yogya masih tampak ramai malam itu. Seperti tak pernah tidur.

Ketika jalan pulang, aku tak begitu ingat lewat mana, apa lewat jalur yang sama saat berangkat atau tidak. Karena aku lebih memilih istirahat, bukan hanya aku, tapi yang lain juga.

Ketika ku tulis tulisan ini. Yang ku ingat saat pagi itu kami mampir ke Cirebon untuk sarapan. Kami berhenti di sebuah ruko berlantai 2 yang terletak persis di seberang Mall Cirebon bertuliskan nasi Jamblang. Makanan khas asli Cirebon ini menjadi menu pengisi perut kami pagi itu.

Saat berhenti di Cirebon

Ketika masuk, suasana didalam ternyata sudah ramai padahal masih cukup pagi. Kami pun harus mengantri untuk memilih menu secara prasmanan. Terdapat lauk yang banyak tersedia, jadi kita tinggal pilih maunya apa. Tak perlu takut tak bisa bayar, karena harga disini sangat terjangkau. Untuk menikmati 2 bungkus nasi Jamblang + perkedel 2 + sayuran + teh hangat hanya merogoh kocek Rp. 9000. Rasanya ?yang pasti sangat khas terasa dan bikin ketagihan.

Setelah puas berkenyang-kenyang. Kami lanjutkan kembali perjalanan. Menyusuri sedikit jalanan kota Cirebon yang cerah lalu menuju Tol Cipali untuk kembali pulang. Perjalanan bisa dibilang lebih santai dan menikmati. Sambil dibumbui oleh keisengan teman kami yang membuat kami harus menutup hidung selama perjalanan. Asem!.

Akhirnya, jam 12 tengah hari kami sampai di Jakarta, tepatnya parkiran UKI tempat kami memulai start perjalanan ini sebelumnya. Aku dan beberapa yang lain memilih sampai Pool saja karena akan lebih dekat ke rumah.

Sambil tak lupa mengucapkan terimakasih kepada para kru yang mengantar kami pergi dan pulang dengan selamat. Akhirnya kami pamit pulang ke rumah masing-masing.

Terimakasih teman-teman semua atas partisipasinya. Membuat kami semakin dekat dan kompak. Semoga dipertemukan kembali dalam event lain.

Salam Sejatinipun Seduluran.