Trip Tektok Muriaan PP (1/2)

Catatan perjalanan Jakarta–Semarang bersama PO Haryanto HR049

Senin, 24 Desember 2018

Ini adalah catatan perjalan yang kulakukan di penghujung tahun 2018 kemarin. Ketika musim liburan datang, banyak sebagian masyarakat memanfaatkan waktu tersebut untuk berkumpul bersama keluarga ataupun bepergian ke suatu tempat untuk sekedar melepas penat. Seperti di penghujung tahun ini, tentu menyenangkan pergi berlibur bersama keluarga atau teman dekat. Tapi, hal itu justru tidak denganku. Ditengah pekerjaan sehari-hari ditambah kegiatan kuliah beserta tugas-tugasnya yang seabrek membuatku tidak bisa seenaknya berpergian. Apalagi sedang deket-dekatnya UAS, harus sibuk kesana-kesini mengumpulkan tugas demi nilai yang baik.
Biasanya momen liburan seperti ini aku manfaatkan untuk ngebis kemana pun itu. Sempat ada ajakan juga dari beberapa temanku. Tapi, lagi-lagi tugas yang menumpuk terpaksa membuatku membatalkan janji mereka. Mau pilih tugas selesai tapi turing nanti, atau turing sekarang tapi tugas tidak selesai? Hayoo.. hahaa.

Tapi beruntung rupanya, Setelah kupakai sistem kebut beberapa malam dengan terpaksa mengurangi waktu tidur, tugas-tugasku bisa sedikit berkurang, hanya tinggal beberapa saja. Timbullah hasrat untuk turing kembali. Dasar ya. Namanya juga sudah hobi.

Segera kucari-cari tanggal yang sekiranya longgar. Ketemu. Libur natal sepertinya cocok, kebetulan kantorku juga libur. Cari tujuan yang tidak terlalu jauh dan tidak makan waktu banyak, kuputus kan untuk ke Semarang saja. Naik bus angkatan pagi, habis itu langsung putar balik ke jakarta. Cukuplah sehari semalam, apalagi sekarang mau ke Jawa tengah atau Timur sudah terhubung tol, yang otomatis perjalanan jadi lebih singkat. Yang penting euforia bis-bisan tidak hilang walau sedang sibuk-sibuknya aktifitas.

Segera lah kutelepon agen-agen tujuanku. Demi mengamankan bangku mengingat keberangkatan ku merupakan peak season. Setelah tiket aman. Tinggal menunggu hari H.

Sampai akhirnya hari H tiba. Aku berangkat dari rumahku tepat setelah subuh. Karena harus berkumpul di terminal Pulogebang pukul 5 pagi. Rasa kantuk masih menyelimutiku, apalagi hanya tidur 3 jam saja semalam karena harus megerjakan tugas bersama teman. Namun, segarnya udara subuh yang menerpa wajahku itu kembali cukup untuk menyegarkan pikiran dan ragaku. Diatas roda dua milik abang ojek, yang dipacu lumayan cepat membelah kesunyian jalanan Jakarta pagi hari.

Pukul 5:10. Aku akhirnya sampai di terminal Pulogebang, titik berangkatku. Langsung ku menuju masjid untuk menunaikan kewajiban, sebelum nantinya menuju kios agen untuk menebus tiket yang beberapa hari lalu kupesan. Kudapati armada HR049 yang akan menjadi tunggangan ku nanti sudah terparkir rapih dijalur pemberangkatan. Golden Boy, itulah julukannya. Teringat, armada ini menjadi pengantar teman-teman Haryanto Mania ketika famgath waktu itu.

Ini dia penampakan armadanya.

Langsung saja kumasuk kedalam bus, dan menduduki seat no 3 yang mana masih ada dibaris paling depan. Tidak seperti biasanya yang berpola 1a-1b, atau 2a-2b, penomoran seat ini berurutan. Dengan total bangku 30 seat membuat jarak antar bangku sangat longgar. Masih bisa selonjoran dengan kondisi legrest full naik. Dan yang paling penting, bus ini memakai seat dari Rimba Kencana. Entah kenapa senang saja duduk di bangku ini, bentuknya pas di punggung dan tidak bikin pegal saat jalan jauh.

Kursi made in Rimba Kencana

Interior HR049.

Pukul 5:40 bus diberangkatkan dari terminal Pulogebang. Jumlah penumpang saat itu mungkin baru setengah terisi dari kapasitas bangku. Dan akan masih bertambah nantinya saat melewati beberapa agen.

Ayunan suspensi 1626 yang mental-mentul langsung terasa saat pertama akselerasi. Melintasi jalanan tol lingkar luar yang masih cukup sepi pagi itu dengan lahapnya. Hanya sedikit bertemu beberapa titik kepadatan tapi belum termasuk kategori macet. Mungkin beda cerita jika hari sudah agak siang, dimana jumlah kendaraan yang melintas sini akan lebih banyak mengakibatkan kemacetan panjang.

Ditengah kemacetan, bus diarahkan keluar pintu tol .. . menuju salah satu agen untuk menaikan penumpang dan beberapa paket. Cukup banyak juga penumpang yang naik dari sini. Semua bangku bahkan di CD-CB juga terisi. Ternyata penumpang pagi ramai juga, mungkin salah satu faktornya adalah karena musim libur akhir tahun. Banyak pekerja yang menyempatkan pulang ke kampung halamannya sehabis semalam bekerja.

Setelah dari agen, bus kembali masuk ke jalur tol. Dan tidak lagi mampir agen. Langsung bablas melintas tol Jakarta-Cikampek. Oya, bus ini merupakan angkatan paling pagi dari Jakarta yang menuju Kudus dan Jepara. Jadi, selama di tol nanti tidak akan bertemu rival setujuan. Mungkin hanya beberapa bus pariwisata yang kebetulan searah.

Perjalanan disiang hari terkadang memang agak membosankan jika sudah lewat tol. Karena hanya pemandangan monoton yang kita lihat. Jalanan, kendaraan, aspal, dan hanya rimbun pepohonan di pinggir jalan yang itu-itu saja. Tidak ada aktivitas dan bangunan yang menarik perhatian kita. Ya, walaupun lewat tol akan memangkas waktu lebih banyak, sangat cocok untuk pemburu waktu yang menginginkan kecepatan. Tapi yang ingin menikmati perjalanan sepertiku, hal ini bukan sesuatu yang menyenangkan.

Melintasi tol Cipali.

Ditengah perjalanan, akhirnya kami tiba di RM menara Kudus untuk servis makan. Dan bus yang aku naiki ini menjadi pembuka gerbang pertama rumah makan, alias paling pertama sampai. Langsung saja aku bergegas turun dan ke dalam. Menu siang itu ada 2 pilihan yaitu, nasi rames (nasi dan sayur, lauk-pauk) dan soto ayam. Kupilih saja soto ayam karena beda dari biasanya.

Menu servis makan pagi itu.

Disini, penumpang diberi waktu selama hampir 30 menit untuk istirahat. Terhitung pukul 9:34 bus Keluar dari RM Menara Kudus dan kembali masuk tol. Selama di tol, tak ada hal menarik yang bisa di tuliskan. Hanya pemandangan biasa. Namun yang pasti, rekor baru tercipta karena adanya tol ini.

Saat melintas jembatan Kalikuto.

Pukul 12.25 akhirnya aku sudah menginjakan kaki di Semarang, tidak seperti biasanya sebelum ada tol masuk Semarang bisa pukul 3/4 sore. Tapi sekarang bisa 3 jam lebih cepat. Sangat memangkas waktu sekali bukan.

Karena sebelumnya aku sudah pesan tiket bus untuk pulang hari itu juga di Semarang, aku pun langsung menuju agen Kalibanteng untuk mengambil tiket. Tertera pukul 19.00 malam harus berkumpul lagi disini. Pikirku, buat apa juga berlama-lama disini. Aku pun meminta pada agen untuk naik dari terminal Kudus saja, agar bisa hunting dan menghabiskan waktu disana.

“Nanti kabari mba Diah ya mas, bilang mau naik dari Kudus”,

“Oya, nanti dikabari juga busnya yang mana” sambungnya lagi.

Oke, setelah semuanya beres. Aku langsung menyebrang dan mencegat sebuah bus kecil ke terboyo. Menuju perjalanan selanjutnya.. (bersambung)


Jakarta – Semarang

  • PO Haryanto
  • B 2735 VGA
  • HR049 (Golden Boy)
  • Eksekutif Class
  • Seat 2-2 (30 Seats) + Toilet
  • Tarif : Rp 260.000 (Tuslah)
  • Free Snack + 1x Servis Makan
  • Start : 5.40 (Terminal Pulogebang)
  • Servis makan : 8.50-9.34 RM (Menara Kudus)
  • Finish : 12.35 (Kalibanteng)
  • JetbusHDD Karoseri Adiputro
  • Mercedes Benz OH 1626 Built in Suspension

Catatan Perjalanan Bersama Yakuza, Pahala Kencana HT007

[Bus Trip] Jakarta – Wonosobo bersama Pahala Kencana HT007

Pada pertengahan September kemarin, saya berkesempatan menaiki alah satu unit yang bisa dibilang “Jagoan” milik PO Pahala Kencana. Bersama teman saya, Khalik. Kami memulai perjalanan dari terminal Kampung rambutan. Tujuan kami kali itu adalah Purwokerto. Kenapa Purwokerto? karena mengingat Senin pagi kami harus berkegiatan dan menghindari malam Senin yang horor maka kami putuskan touring jarak dekat saja.

Cukup beruntung bisa dibilang. Karena unit yang kami naiki termasuk salah satu unit incaran para penggemar kotak berjalan. Adalah “Yakuza”, itulah julukannya. Berbekal chassis 1626 yang sudah tentu mental mentul jadi nilai tambah tersendiri. Unit ini juga banter, catatan waktunya apik. Beberapa kali saya sempat melihat cuplikannya di YouTube.

Ini dia armada yang mengantarkan kami

Harga tiket perjalanan Jakarta – Purwokerto adalah Rp 110.000, sudah termasuk servis makan di RM Aroma. Namun, kami cuma membayar setengah dari harga normal yaitu Rp 55.000 saja. Ko bisa? Ya, karena waktu itu sedang ada promo diskon 50% untuk perjalanan bus dari salah satu aplikasi travel. Diskon ini hanya berlaku untuk perjalanan dibulan September. Oleh karena itu, kami manfaatkan kesempatan ini untuk touring.

Bentuk tiketnya berupa print-an kertas A4

Selepas sholat Maghrib. Bus kami diberangkatkan. Okupansi penumpang malam itu hampir full seat. Setelah keluar area terminal Kp Rambutan, bus memutar balik di Tanah Merdeka lalu diarahkan masuk pintu tol Dukuh 2, perkiraan kami bus akan menuju terminal Pulogebang untuk menaikan penumpang lagi. Namun perkiraan kami salah. Bus ternyata hanya memutar balik di Utan Kayu lalu kembali masuk tol melalui pintu tol Rawamangun. Ternyata hali ini dilakukan untuk menghindari macet di Jati Asih rupanya.

Namun, nasib sudah kepalang. Macet tak dapat dihindarkan juga. Baru beberapa kilo, kami akhirnya dihadang oleh antrian kemacetan. Beruntung malam itu tak terlalu padat, pasalnya sang pengemudi masih bisa mencari celah kosong. Membuat kami lebih cepat melewati kepadatan. Selepas proyek padat itu bus lebih banyak ambil jalur kanan. Menempel ketat kendaraan didepannya berharap agar diberi jalan. Tapi kalau tak diberi, langsung banting kiri dan meninggalkan jauh dibelakang.

Selama di tol, kami banyak bertemu dengan bus pelangi asal Cibitung. Ya, Sinar Jaya. Sempat juga bertemu Garuda Mas. Namun yang pasti, kami tidak bertemu bus Muriaan yang searah malam itu. Mungkin karena jamnya yang kurang pas. Atau bisa saja kalau jam berangkat bus ini dimajukan lebih awal. Karena angkatan Muriaan biasa berangkat selepas Maghrib dari terminal Pulogebang, yang merupakan tempat pemberangkatan terakhir dari Jakarta. Coba kalau saja bertemu, mungkin aksi malam itu akan lebih seru.

Pukul 00.21. Kami tiba di RM Aroma Cirebon untuk servis makan. Karena sekarang Pahala Kencana menggunakan tiket print yang terdapat barcode, maka kami harus menscan tiket yang kami miliki sebelum mengambil servis makan. Menu malam itu cukup standar saya rasa. Ada sayur kuah, tumis tempe, ayam goreng dan teh manis. Penumpang boleh mengambil sepuasnya tapi tidak dengan ayamnya, karena dijatah satu-satu. Rasanya? Lumayanlah menurutku. Cukup untuk mengganjal perut sampai tiba ditujuan.

Menu makanan malam itu

Disini kami berhenti sekitar 30 menit. Setelah penumpang selesai makan, bus kembali diberangkatkan. Keluar area rumah makan, bus kembali putar arah ke jalan yang sama sebelumnya dan masuk pintu tol Kanci untuk akhirnya kembali masuk tol. Yah, namanya baru selesai makan sambil naik bus mental-mentul alamat bakal tidur nyenyak. Dan benar saja, tak berapa lama saya pun tertidur.

Samar-samar kulihat cahaya berkedip di depan cepat sekali. Perasaan seperti dibawa dengan kecepatan tinggi. Dengan berat kucoba membuka mata melawan kantuk, mencoba memperjelas keadaan. Oh, sedang iring-iringan rupanya. Terlihat bus Sinar Jaya dengan pedenya menari di atas aspal malam itu. Melenggang bebas di depan. Mencoba diikuti oleh Pahala Kencana yang kunaiki. Malam itu jalanan sangat kosong memang. Sampai jalur lawan juga dihajarnya. Segera kuambil kamera. Sayang jika momen seperti ini dilewatkan begitu saja.

Hingga akhirnya di daerah Paguyangan. Barisan kendaraan menghentikan aksi kami. Ada macet yang tidak biasa sepertinya. Sampai beberapa dari kami turun dari bus karena penasaran ada apa. Kami pikir kalau macet biasa harusnya ada kendaraan yang melintas dari arah berlawanan. Tapi ini tidak. Cukup lama kami terdiam di posisi yang sama. Tidak berpindah.

Mengabadikan armada saat macet

Tiba-tiba terdengar perintah dari ujung depan untuk bergerak. Kami pun bergegas kembali ke kursi. Pengemudi langsung memutar kemudinya ke kiri. Kembali ke barisan. Namun tak mau kalah, Sinar Jaya Jetbus3 juga mencoba nyeruduk masuk. Sempat terjadi aksi guyon sedikit antar pengemudi, hingga akhirnya Sinar dipersilahkan jalan duluan.

Setelah kendaraan kami bergerak maju, baru tahu ternyata penyebab macet tersebut karena ada pengecoran jalan. Area proyek lumayan panjang juga. Jalanan hanya dibuka sebagian untuk jalur kendaraan, sedangkan sebagian lain ditutup karena pengecoran. Imbasnya, mau tidak mau kendaraan dari kedua arah harus bergantian lewat. Karena hanya satu jalur saja yang digunakan.

Selepas kemacetan tadi, aksi konvoi kembali terjadi. Kali ini lebih santai dari saat sebelum kemacetan. Tampak 3 unit Sinar Jaya didepan kami kali ini. Mencoba bermain halus dengan permainan sein yang ciamik cukup membuat kami terpuaskan malam itu.

Tak terasa tujuan kami semakin dekat. Dan sekitar pukul 3 dinihari kami turun di depan pintu masuk stasiun Purwokerto. Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada kru dan pengemudi. Terimakasih atas perjalanan mengesankannya bersama Yakuza.

Kami segera bergegas kedalam stasiun. Lalu menunggu pagi untuk kembali ke Ibukota.

Habis Busmania, terbitlah Sepurmania.


Jakarta – Purwokerto

  • Pahala Kencana
  • HT007 (Yakuza)
  • B 7909 IZ
  • VIP Class
  • Seat 2-2 + Toilet
  • Jakarta – Wonosobo
  • Tarif : Rp 110.000 (Normal)
  • Start : 18.10 (Terminal Kp. Rambutan)
  • Servis makan : 23.00 (RM. Aroma)
  • Finish : 3.15 (Purwokerto)
  • Mercedes-Benz OH 1626 Built Up Suspension
  • Jetbus Karoseri Adiputro

Purwokerto – Jakarta

  • KA Serayu
  • Ekonomi 5
  • Seat 24C – 24D
  • Start : 6.30 (Stasiun Purwokerto)
  • Finish : 17.20 (Stasiun Jatinegara)

Trip Antarmoda ke Kota Bahari

[Bus Trip] Cerita Perjalanan Jakarta – Tegal PP

Dari event Jamnas BisMania kemarin. Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk menaiki PO Dewi Sri “Haneda” secara cuma-cuma. Ini merupakan hadiah doorprice yang diadakan di event kemarin. Lantas, hal ini tak ku sia-siakan untuk menaiki unit andalan milik Dewi Sri. Segera kucari-cari tanggal yang pas, ketemulah di tanggal 30 Maret. Bertepatan dengan libur Nyepi. Saya pun segera menghubungi om Kaswito untuk menanyakan perihal tata caranya. Sebenarnya ada satu orang lagi yang mendapatkan kesempatan ini, namun karena suatu hal akhirnya hanya saya yang jalan sendiri.

Jum’at, 30 Maret 2018

Karena janji bertemu di Jelambar jam 6:30, tentu hal ini mustahil harus saya kejar mengingat posisi saya yang berada di Depok. Entah jam berapa saya harus pergi untuk sampai kesana. Kalau menunggu subuh pun sepertinya mustahil, karena KRL dari Bogor angkatan pertama itu jam 5. Waktu tempuh Depok – Juanda saja satu jam, belum lagi harus beberapa kali transit Busway. Atas pertimbangan ini maka kuputuskan untuk naik dari KM 19 saja yang lebih strategis. Karena hanya naik bus dari Pasar Rebo, duduk manis, sampai. Dan lebih menghemat waktu.

Setelah kuputuskan naik darimana. Saya pun mengabari Om Wito, beliau pun menyanggupi. Lalu beliau memberikan kontak kru yang bersangkutan supaya mudah melacak posisi mereka.

Pukul 8.25 saya sudah tiba di KM 19. Melihat kondisi tol Japek yang sudah macet semenjak KM 13, rasanya bus akan sedikit telat. Baiklah, kusempatkan ke kamar kecil dan membeli botol minum sambil menunggu bus datang.

Pukul 8.40 Yang dinanti pun tiba. Bus berkelir putih mulai muncul di kejauhan. Nampak memiliki wujud yang beda sendiri dari rekan setimnya. Berbodi Laksana rakitan anyar Laksana SR2. Masih cukup gress kulihat. Saya pun segera naik begitu bus datang. Langsung disambut oleh mas Slamet selaku kru dan langsung memberi selembaran tiket. Kondisi penumpang cukup ramai saat itu, walau masih menyisakan satu dua bangku kosong. Saya langsung menuju bangku deret 6 paling belakang yang kulihat kosong dekat pintu. Ah, posisi paling favorit menurutku selain kursi paling depan.

Bus masih berjalan pelan menembus kemacetan. Meliak-liuk mencari celah kosong didepannya. Aksi sang driver belum terlihat disini. Barulah selepas kemacetan panjang itu, sang driver mulai berani menginjak gasnya dalam-dalam. Saya yang duduk di paling belakang merasakan betul goyangan kewok kanan-kiri.

Saat di Cikampek, bus menurunkan dan menaikan beberapa penumpang dari kolong jalan. Karena bus tidak keluar tol Cikampek, para penumpang pun menunggu di kolong jalan yang agak miring itu. Sepertinya tempat ini sudah menjadi halte bayangan bagi para penumpang.

Selepas kemacetan di tol Japek, lalu lintas sangat lancar sepanjang perjalanan. Hanya menemui 2 titik kemacetan saja di KM 106 imbas adanya perbaikan jalan.

Dalam kabin saya coba merenung, memikirkan bagaimana nanti perjalanan pulang. Sebenarnya saya sudah memesan tiket kereta arah balik. Menggunakan KA Tegal Bahari yang berangkat Pukul 17:00 dari stasiun Tegal. Tapi, pikiranku masih terbayang peristiwa ketika tertinggal kereta di Solo. Ku takutkan hal ini kembali terjadi.

Pukul 12:20, bus diarahkan keluar pintu tol Kanci, menuju RM Aroma. Hanya istirahat saja sekitar 30 menit tanpa servis makan. Karena bus-bus jarak tanggung seperti ini tidak menyediakan servis makan memang.

Setelah setengah jam, bus kembali di berangkatkan. Kali ini menyusuri jalanan Pantura Cirebon – Brebes. Kemacetan lebih sering terjadi disini apalagi ketika melewati pasar maupun persimpangan. Saya pun semakin gusar. Sang driver seperti mendengar doaku. Kali ini mas Slamet yang ambil alih kemudi, dan mulai berani seset kanan – kiri.

Banyak penumpang mulai turun sepanjang jalur Brebes. Lalu lintas pun masih ramai. Beberapa kali masih tersendat kemacetan.

Dan tibalah juga di tujuan akhirku di terminal Tegal. Pukul 15:30 waktu itu. Ternyata suasana di terminal dengan luas sekitar 8ha ini tak berbeda ketika siang maupun malam.

Setelah berpamitan dan berterimakasih kepada kru Haneda. Saya langsung bergegas menuju stasiun Tegal yang hanya berjarak 3,5 km. Dengan menggunakan jasa ojek motor, waktu tempuh kulalui hanya sekitar 15 menit.

Sesampainya di stasiun Tegal. Ternyata kondisi sangat ramai. Mungkin karena letaknya yang tidak jauh dari alun-alun.

Saya langsung bergegas mencetak tiket yang sudah kupesan online sebelumnya. Cukup beruntung mendapat harga kelas eksekutif termurah. Harga Rp 130.000 beda Rp 5.000 dengan ekonomi dibawahnya yang memiliki harga Rp 125.000.

Pukul 17.00 tepat kereta diberangkatkan. Saya duduk di kursi 2A dekat bordes belakang. Masih banyak kursi kosong waktu itu. Di dalam gerbong pun hanya ada 5 penumpang. Selepas stasiun Tegal, kukira kereta akan langsung menuju Jakarta. Ternyata masih mampir di setiap stasiun. Terakhir stasiun Cirebon. Cukup lumayan kulihat penumpang yang naik di masing-masing stasiun. Namun, kondisi gerbongku tak berubah, hanya terisi 1-2 orang saja. Padahal saat itu long weekend, dan di situs juga sudah fullseat. Justru dengan kondisi seperti ini, saya bisa lebih menikmati perjalanan dan bissa mengeksplor setiap sudut kereta tanpa menggangu yang lain.

Perjalanan Tegal – Jakarta kutempuh dengan waktu sekitar 4 setengah jam. Selama itu, tak ada yang menarik. Berbeda ceritanya mungkin bila naik bus. Akan banyak bahan untuk ku ceritakan. Tapi ya mungkin begitulah seninya naik kereta bagi sebagian orang yang menginginkan kenyamanan, kepraktisan, dan kecepatan perjalanan. Tentu semua punya kelebihan kekurangan, tergantung kita yang memilihnya.

Dan Akhirnya, pukul 21:20. Sampailah saya di stasiun Jatinegara. Saya bergegas turun. Sementara kereta melanjutkan perjalanannya ke tujuan akhir stasiun Gambir. Dengan begitu, selesailah perjalanan Jakarta – Tegal PP yang kulalui selama 14,5 jam hari ini.


Jakarta – Tegal

  • PO Dewi Sri
  • “Haneda”
  • Eksekutif
  • Seat 40 (2–2) non Toilet
  • Start : 8:25 (KM 19 Japek)
  • Break : 12:20 (RM. Aroma, Cirebon)
  • Finish : 15:40 (Terminal Tegal)
  • Mercedes-Benz OH 1526
  • Legacy SR2 Karoseri Laksana

Tegal – Jakarta

  • KA Tegal Bahari
  • Eksekutif 4-2A
  • Price : Rp 130.000
  • Start : 17:00 (Stasiun Tegal)
  • Finish : 21:23 (Stasiun Jatinegara)

Terbuai Ayunan Sang Gajah

[Bus Trip] Cerita perjalanan bersama PO Safari Dharma Raya Super Eksekutif Magelang – Jakarta.

Minggu, 6 Mei 2018

Penantian kami terbayarkan setelah satu unit gress bergambar gajah memasuki pelataran terminal Tidar. Yass, kesempatan menggagahi salah satu unit spesial milik PO asal Temanggung ini akhirnya kesampaian. Berbaju rakitan Morodadi Prima yang terkenal akan kekokohannya, unit ini masih terbilang baru. Berchassis mercy OH 1626, unit ini merupakan pengganti unit Super Eksekutif lama yang sudah butuh perawatan.

Ini dia unit Super Eksekutif bus OBL

Kursi lebar dengan konfigurasi 2-1

Kami bergegas naik dan duduk di bangku kami karena bus segera berangkat. Kesan bersih dan rapih tampak terasa begitu kami naik ke dalam. Kursi lebar berkonfigurasi 2-1 buatan Aldilla itu pun seakan menggoda kami untuk segera mendudukinya. Dek kursi juga dibuat lebih tinggi dari lantai lorong. Membuatnya menjadi hampir sejajar dengan kaca samping.

Pukul 16:45. Bus diberangkatkan dari terminal Tidar. Hanya menaikan 5 penumpang saja termasuk kami berdua. Tentu menyisakan kursi kosong, karena bus masih akan melewati beberapa agen termasuk pool Temanggung.

Melewati jalanan Magelang

Ayunan suspensi dan kursi yang empuk ternyata mampu menyihir kami ke alam mimpi. Baru beberapa menit berangkat, aku sudah tertidur. Dan bangun-bangun sudah hampir masuk pool Temanggung.

Menaikan penumpang di pool pusat Temanggung

Di pool ini, sudah banyak penumpang yang menunggu. Hampir semua OBL dari arah Jogja menuju Jakarta pasti singgah di pool utama ini. Setelah menaikan beberapa penumpang dan snack, bus diberangkatkan kembali.

Isi snack bus OBL

Perjalanan malam itu kurasa sangat syahdu, melintasi jalur tengah Temanggung – Parakan yang berkelok menambah sensasi tersendiri. Andai saja perjalanan dilakukan di siang hari pasti akan lebih seru dengan melihat pemandangan sekitar. Namun malam itupun juga memiliki kesan sendiri. Tapi lagi-lagi daya magis bus ini memang terlalu kuat. Tak lama kemudian aku kembali tertidur. Entah berapa lama, namun saat tersadar sudah tidak melewati jalur seperti tadi. Dan tak lama bus berbelok ke kiri memasuki pelataran yang disana sudah berjajar beberapa bus lain. RM. Sendang Wungu, sudah masuk servis makan rupanya.

Saat berhenti untuk servis makan

Disini bus dibuat berjejer bersama beberapa bus lain, seperti Sindoro Satria Mas. Namun, tempat servis makan tentu dibuat sendiri-sendiri sesuai PO. Yang kusuka adalah, penumpang dibuat bebas mengambil porsi sebanyak apapun yang dia mau, tapi tidak dengan lauknya. Bihun, sayur kuah, sepotong ayam goreng, ditambah sebuah jeruk menjadi menu kami malam itu, mungkin sama seperti hari-hari sebelumnya.

Setelah berhenti agak lama selama hampir 40 menit, kami berangkat kembali. Jalur Batang – Pekalongan agak ramai di malam senin itu, beberapa titik kemacetan juga kami temui meski tidak parah. Mungkin banyak yang menuju Jakarta untuk besok beraktivitas, seperti kami ini yang mengejar mesin absen di pagi hari. Untung saja bus tidak keong amat, dan berani seset kanan kiri. Kami juga sempat bertemu dengan rombongan bus Muriaan di jalur yang sama. Tapi sayang tidak bertemu HR23 yang kami naiki kemarin malam.

Terkena kemacetan di Pekalongan

Demi hari senin yang segar, kami manfaatkan waktu selama di bus untuk banyak istirahat. Tak banyak momen juga yang kami temui. Dan tau-tau kami sudah berada di tol Japek, baru saja melintas pintu keluar Bekasi Timur. Pukul 5:10 waktu itu. Beruntung tidak sampai ‘selamat siang Jakarta’.

Bus sempat menurunkan penumpang di terminal Pulogebang, lalu masuk tol lagi menuju tujuan akhir di pool Kebayoran. Untungnya jalanan Jakarta belum terlalu macet, kami pun bisa turun di pool tepat sebelum pukul 6 pagi.

Fasilitas shuttle gratis

Satu lagi pelayanan yang diberikan oleh PO Safari Dharma Raya adalah shuttle gratis menuju rumah masing-masing di seputaran Jabodetabek. Hal ini pun ku manfaatkan untuk menuju kantorku di Citeureup. Tentu kalau menggunakan angkutan umum akan telat sampai kantor. Belum lagi harus berhadapan dengan orang-orang berangkat kerja. Adanya shuttle ini bagiku sangat membantu sekali. Selain hemat waktu juga hemat biaya. Selain itu keramahan driver juga patut diacungi jempol, mereka dengan senang hati akan mengantarkan kita sampai ke tempat tujuan, bahkan depan rumah sekalipun. Dan yang terpenting, urusan absen tetap aman.


PO Safari Dharma Raya (OBL)

  • Super Eksekutif
  • AA 1664 AE
  • Seat 4b-4c
  • 20 Seats (2–1) + Toilet & Front Smoking Room
  • Tiket : Rp. 275.000
  • Start : 16:45 (Terminal Tidar Magelang)
  • Rest : 21:03 (RM. Sendang Wungu, Gringsing)
  • Finish : 5:50 (Pool Kebayoran)
  • Mercedes-Benz OH 1626 Air Suspension
  • Karoseri Morodadi Prima

Trip Bersensasi bersama HR23 “Sensation”

[Bus Trip] Jakarta – Kudus

Sabtu, 5 Mei 2018

Rasa penasaranku akhirnya terbayar pada hari itu. Singgasana depan dari kelas tertinggi PO ini menjadi milikku untuk beberapa jam kedepan. Jujur, ini kali pertama aku naik armada bus malam PO Haryanto. Walau sebelumnya pernah naik yang Patas Kudus – Yogyakarta, tapi tentu sensasinya akan berbeda dengan armada bus malam yang akan banyak mempertontonkan aksinya dijalanan.

Bertolak sekitar pukul 5 sore dari terminal terpadu Pulogebang. Dengan kondisi penumpang yang sudah rata bangku. Dari sini, bus masih akan berhenti di agen Karawang Barat hanya untuk menaikkan paket saja.

Penampakan tiket PO Haryanto

Seat depan Super Eksekutif (source; fb)

Dinahkodai oleh mas Agus Barongan yang bertindak sebagai driver pinggir. Baru masuk pintu tol Pulogebang saja sudah disuguhi aksi goyang kanan-kiri. Bus tampak halus melahap setiap celah kosong yang ada di depannya. Skill mas Agus yang biasanya hanya bisa kulihat melalui video rekaman sekarang bisa langsung kurasakan.

Sayang, imbas proyek tol Japek lantai 2 menghentikan aksi ini. Padatnya kendaraan mengular semenjak lingkar tol Cikunir. Aksi sundul-sundulan pun terjadi. Beberapa kendaraan memaksa masuk ke celah kosong didepannya. Kami nikmati saja dari dalam kabin, sambil ngobrol membahas apapun yang terlihat di depan mata.

Kemacetan baru terurai di KM 36. Melihat jalan lurus di depannya, mas Agus langsung memacu kendaraannya. Aksi sasat-seset episode 2 pun terjadi. Bagaimana bus tampak halus melalui kendaraan di depannya. Ayunan empuk suspensi built up RN285 membuat kami sedikit bergoyang di dalam kabin.

Terlihat beberapa armada muriaan maupun selatan menjadi teman kami malam itu. Agra BM 109, Garuda Mas, Haryanto HR 144, Budiman 348 Jetbus3 , Murni E53. Sesekali dari mereka mencoba mendahului, namun tetap saja bisa kami dahului.

Pukul 21:20. Kami diarahkan keluar pintu tol Kanci, pertanda sebentar lagi akan memasuki RM. Menara Kudus Cirebon untuk servis makan. Beriringan bersama HR 39 yang sedari KM 143 bermain kejar-kejaran.

Di RM Menara Kudus ini memang dikhususkan untuk servis makan PO Haryanto. Sehingga kalau kesini di jam servis makan, akan ramai sekali kelap-kelip lampu hias bus Haryanto. Di RM ini yang menjadi andalan adalah nasi gorengnya, sayangnya ketika kami datang sudah habis dan hanya tersisa soto dan nasi rames saja. Ketika sedang menyantap makanan, tiba-tiba pengeras suara menyuruh kami dan para penumpang HR23 untuk segera kembali kedalam bus. Jujur, inilah waktu servis makan tersingkat selama kami menaiki bus malam, hanya kurang dari 20 menit. Padahal setelah makan kami niat berburu foto armada PO Haryanto yang ada saat itu. Namun urung kami lakukan.

Menu servis makan PO Haryanto

Armada HR23 “Sensation”

Selepas rumah makan. Kemudi diambil alih oleh mas Ali. Bus tidak lagi diarahkan masuk ke tol, melainkan menyusuri jalanan Utara pantai Jawa. Melewati Brebes lalu Pekalongan.

Selama melewati jalan ini, kami iring-iringan bersama Raya non AC. Aksi kejar-kejaran yang cukup sengit terjadi sepanjang alun-alun Pekalongan sampai memasuki Kendal. Teringat postingan di salah satu linimasa bahwa non AC ini memang cukup bisa disebut pelari. Walau berbekal mesin lawas 1521 kuler, permainan apiknya cukup membuat kami kesulitan mengejar.

Hingga akhirnya, sang non AC mengurangi lajunya di lajur kanan. Memberi kami kesempatan untuk lewat. Diberinya sapaan klakson oleh mas Ali, namun tak terbalas. Bus kami melenggang bebas meninggalkan Raya non AC dibelakang. Tak ada lawan lagi.

Dan pukul 3:03. Akhirnya kami sampai di seberang terminal Jati Kudus. Kami turun disini. Tak lupa ucapan terimakasih kepada mas Ali, mas Agus dan kernet mas Roni. Cukup puas sudah dimanjakan aksi luar biasa selama perjalanan. Akhirnya terpenuhi juga target mencicipi kursi panas Sentsation ini. Semoga lain waktu bisa menjajal unit kresannya, Java’s King.


PO Hariyanto

  • Super Eksekutif
  • HR 023 (Sensation)
  • B 7125 VGA
  • Seat 1B
  • 6 Seats Super Eksekutif (2–1) + 22 Seats Eksekutif (2–2)
  • Start : 17:08 (Terminal Pulogebang)
  • Break : 21:32 (RM. Menara Kudus, Cirebon)
  • Finish : 3:03 (Terminal Kudus)
  • Hino RN285 Air Suspension
  • JetbusHDD Karoseri Adiputro

Jambore Nasional BisMania Community 2018

Lampung, 10 Maret 2018

Acara akbar Jambore Nasional BisMania Community merupakan acara rutin tahunan yang diadakan oleh BisMania sebagai ajang berkumpul bersilaturahmi bersama berbagai dulur dan kawan penggemar bus dari berbagai korwil dan daerah. Acara yang sudah kesembilan kalinya diadakan ini memang selalu menarik perhatian para penggemar bus. Banyak rangkaian acara yang seru dan asik, mulai dari konvoi, parade bus, pengenalan bus-bus keren, koleksi miniatur, dan tentunya hiburan malam berupa orkes dangdut.

Dalam setiap tahunnya acara Jamnas juga diadakan sebagai bentuk perayaan ulang tahun BisMania Community. Dan di 23 Maret tahun ini BisMania Community sudah menginjak usianya yang ke-10 tahun. Usia yang dimana bisa dikatakan tidak muda lagi. Dan BisMania selaku wadah para penggemar transportasi umum khususnya bus. Tak henti-hentinya menggalakkan gerakan kesadaran naik angkutan umum dengan jargon “Ayo Naik Bus”.

Ditahun ini pertama kalinya acara Jamnas diadakan diluar pulau Jawa. Korda Sumatera selaku tuan rumah, mengambil tempat di Pantai Sari Ringgung sebagai tempat venue acara.

Seperti ditahun-tahun sebelumnya. Aku berkesempatan hadir bersama rombongan Korda Jakarta Raya. PO Primadona, Adi Buzz, dan PO Hariyanto adalah beberapa PO yang berpartisipasi mengantarkan kami ke tempat acara.

Parkiran UKI Cawang, menjadi tempat kami berkumpul sebelum berangkat. Disini, para peserta dari berbagai korwil dibawah naungan korda Jakarta juga ada kawan dari korwil lain didata sebelum masuk ke busnya masing-masing. Pembagian kaos dan pemasangan banner juga dilakukan disini.

Pukul 22:35. Rombongan kami bertolak menuju RM. Jokowi Merak sebagai tempat meeting point.

PO Hariyanto berkode MD02 masih berjalan santai di jalanan tol dalam kota meski 2 temannya sudah didepan. Dalam perjalanan selepas UKI Cawang kebetulan yang bertugas dibalik kemudi adalah mandor Hendro yang nampaknya penasaran dengan mesin OF917 menggantikan sementara mandor Pollo, driver sebenarnya.

Mercedes-Benz OF917 “Kecil namun bernyali”

Pak Mandor dibalik kemudi

Pukul 00:20, rombongan kami singgah sebentar untuk istirahat di rest area KM 68 Serang. Sambil sesekali mencari kabar rombongan lain.

Saat istirahat di KM 68

Setelah hampir satu jam, rombongan kami kembali berangkat menuju RM. Dharma Raya Merak untuk istirahat sarapan pagi.

Sesampainya di rumah makan, panitia kami membagikan servis sarapan pagi. Sambil istirahat, beberapa dari kami gunakan waktu untuk ngopi dan sarapan.

Setelah dari RM. Dharma Raya. Rombongan kami segera menuju meeting point Jamnas untuk berkumpul bersama rombongan korwil dan korda lain. Tempat meeting point ini berada di RM. Jokowi, letaknya tidak begitu jauh dari tempat istirahat kami sebelumnya.

Berkumpul bersama sedulur lain

Dari RM. Jokowi ini semua rombongan bus peserta Jamnas nantinya akan dikoordinir untuk menuju Pelabuhan Bakauheni secara beriringan. Begitu pula saat masuk kapal dan menuju lokasi Jamnas.

Foto bersama BMC Korda Jakarta Raya

Penyeberangan kami lalui selama 2 jam menggunakan kapal. Fasilitas orkes dangdut menjadi hiburan utama kami diatas kapal pagi itu. Sangat menghibur. Banyak dari kami yang ikut berjoget bersama para biduan. Ramai sekali. Seperti kapal ini hanya diisi oleh rombongan kami saja.

Aku dan beberapa kawanku lebih memilih berada di dek atas kapal yang terbuka. Menikmati semilir angin laut.

Perjalanan selama 3 jam diatas kapal terasa sangat cepat. Tau-tau kami sudah harus kembali ke bus, karena kapal akan segera bersandar.

Dan akhirnya. Sampai juga aku ditanah Sumatera. Pertama kalinya diriku menginjakan kaki disini.

Rombongan bus kami langsung membuat barisan untuk iring-iringan. Dipimpin langsung oleh patwal dan para panitia Jamnas. Bus kami berjajar membuat barisan yang panjang sekali. Ada sekitar 20an bus waktu itu. Inilah momen yang paling seru menurutku.

Konvoi menuju lokasi Jamnas

Bus yang kunaiki memang yang terkecil diantara puluhan bus peserta Jamnas lainnya. Tapi jangan salah. Walau kecil begini, sering membuat rusak barisan Jamnas. Aksi seset kanan-kiri, membuat rombongan lain harus mengalah.

Menjelang dzuhur. Rombongan kami menepi di masjid Kalianda. Untuk makan siang dan memberi jeda bagi yang ingin mandi dan ke air. Disini, rombongan dari Lampung, Riau juga ikut bergabung. Disini pula kami sempat berfoto bersama para polisi yang mengawal acara kami, sebagai bentuk dukungan akan keselamatan berlalu lintas dijalan raya.

Setelah hampir satu jam. Rombongan kami kembali berangkat menuju pantai Sari Ringgung, tempat acara berlangsung.

Demi cepat sampai lokasi acara. Rombongan kami tidak melewati kota Lampung. Tetapi mengambil lintas barat via Tarahan – Telukbetung demi menyingkat waktu perjalanan.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya rombongan kami sampai di pantai Sari Ringgung. Tempat acara sudah ramai oleh berbagai stand, panggung, dan rombongan jamnas lain yang sudah lebih dulu sampai. Kedatangan kami langsung disambut kemeriahan dari tuan rumah.

Beberapa dari kami turun sementara bus-bus diparkir menghadap pantai.

Lokasi fotogenik pantai Sari Ringgung

Panggung acara Jamnas

Pantai berpasir putih dengan laut dangkal berwarna biru bening. Indah sekali. Namun, permukaan pantainya cukup banyak batu berkarang yang cukup bikin kaki kesakitan.

View lokasi Jamnas

Ada banyak stand jajanan maupun merchandise yang berdiri.

Menjelang sore, para peserta rombongan melakukan sesi foto bersama. Ada juga model berpakaian khas Lampung yang sengaja dihadirkan.

Model Jamnas 2018

Kegembiraan para peserta rombongan cukup terasa. Bagaimana rasanya bertemu dengan sedulur satu hobi yang terpisah dengan jarak. Momen perkumpulan seperti ini menjadi saat yang tak bisa dilewati begitu saja. Ajang tahunan ini bagai wadah bagi siapapun untuk silaturahmi antar anggota.

Namun, ketika maghrib menjelang. Cuaca tiba-tiba berubah menjadi hujan deras. Angin kencang disertai petir menggelegar membuyarkan acara. Seluruh rangkaian acara langsung berantakan. Stand-stand berkibaran. Panggung utama pun diturunkan.

Pukul 19:30. Akhirnya diputuskan perayaan simbolis ulang tahun BMC dirayakan di bawah tenda sederhana dengan penerangan seadanya. Doa dan harapan bagi kebaikan komunitas ini tentunya selalu dipanjatkan. Rombongan pun diarahkan kembali ke pelabuhan Bakauheni setelahnya.

Tepat pukul 20:30 rombongan kami bergerak meninggalkan kawasan pantai Sari Ringgung. Beriringan seperti saat pertama datang kesini.

Kami, dan rombongan lain akhirnya saling berpisah di pantai Sari Ringgung. Menuju tujuannya masing-masing. Semoga setelah ini kami bisa kembali berjumpa.

BMC Korda Jakarta Raya – Korwil Guci – Korwil Bekasi

Memang benar kata pepatah, tak perlu sedarah untuk menganggap orang lain saudara.

Salam sejatinipun seduluran.


Trip Report Budiman Yogya – Tasik

[Bus Trip] Yogya – Tasik

Sabtu, 17 Februari 2018

Setelah berembuk dan diskusi alot. Kami akhirnya memutuskan menggunakan jasa PO Budiman untuk mengantar kami ke Tasik.

Tadinya, plan kami dari Jogja ini adalah ingin naik Efisiensi sampai Buntu, lalu disambung Sugeng Rahayu (SR) sampai Tasik atau Bandung. Namun, faktor tidak ingin repot dan menghindari ketidak jelasan armada, kami memilih cari aman.

Lagipula, Budiman IL239 sudah menggoda kami untuk segera naik ke dalam singgasananya. Mencicipi cooler di jalur selatan seperti ini pasti memberikan sensasi tersendiri.

Budiman menuju Tasik yang sudah siap di jalur

Pukul 17:30 tepat, bus kami diberangkatkan. Menjadi angkatan terakhir Budiman yang diberangkatkan dari terminal Giwangan ini. Ada sekitar 2/3 penumpang yang naik dari total kapasitas bangku.

Diberangkatkan dari terminal Giwangan

Jalan ring road timur cukup lancar sore itu. Memang, ada beberapa lampu merah yang agak banyak disini. Sampai akhirnya, bus kami berhenti di agen Budiman Imogiri. Menaikan sekitar 5 penumpang dan beberapa karung paket. Aku turun, sekedar mengabadikan armada.

Bersama Budiman IL239

Setelah 20 menitan berhenti, bus kembali diberangkatkan.

Senja mulai datang, bersama malam yang menjelang. Lampu-lampu kota dinyalakan. Warga lokal bersembunyi dibalik pintu.

Alunan kriyet suspensi dan bunyi rem udara tampak indah bersahutan. Berkolaborasi membentuk irama khas. Bus tampak fasih melahap berbagai liukan di depan dengan lembut.

Hingga pada akhirnya sekitar pukul 20:20 malam. Bus diberhentikan di agen kontrolan daerah Purworejo. Kondektur turun, mempersilahkan para penumpangnya istirahat dan ke toilet. Agen kontrolan ini menyatu dengan warung, jadi para penumpang bisa sekalian membeli panganan sekadar untuk mengganjal perut. Walaupun nanti juga akan berhenti lagi untuk servis makan.

Saat berhenti kontrolan di agen Purworejo

Sekitar 15 menit berhenti. Bus kembali diberangkatkan.

Jalur sepanjang Purworejo ini tampak sepi. Keramaian terlihat hanya di pusat-pusat kota. Kami juga tidak menemukan sesama bus lain kecuali rombongan pariwisata.

Sang driver masih setia dibalik kemudinya. Memacu kendaraannya dengan gaya mengemudi yang tak berubah sejak awal berangkat. Tetap nyaman dan sukses menina bobokan penumpang. Aku rasa kebanyakan driver Budiman memiliki ke-khas-an tersendiri setiap mengemudi. Inilah mungkin kenapa bus ini dijuluki Rajanya jalur selatan.

Sekitar pukul 22:00. Kami akhirnya berhenti di rumah makan Taman Sari Rasa didaerah Sampang Cilacap untuk servis makan. Begitu melihat namanya, aku langsung teringat dengan dua tempat servis makan bus-bus malam di Pantura yaitu RM. Taman Sari Cipali dan RM. Sari Rasa Kendal. Mungkin nama rumah makan ini terinspirasi dari dua nama tempat makan tersebut ya. Mungkin saja.

Saat servis makan di RM Taman Sari Rasa

RM. Taman Sari Rasa ini cukup luas. Terdapat dua lapangan parkir yang cukup luas di depan jalan dan didalam area rumah makan, yang dipisahkan oleh bangunan ruang makan. Dibagian belakang ternyata terdapat area kolam renang. Rumah makan ini biasa menjadi tempat bagi bus-bus Budiman tujuan Wonosobo, Yogya, Solo, untuk servis makan.

Menunya cukup standar servis makan bus malam. Sepiring nasi diisi sayur, daging/telur, kerupuk dan teh tawar. Dan rasanya cukup enak menurutku.

30 menitan berhenti. Bus kami kembali berangkat. Karena faktor kenyang dan nyamannya ayunan chassis cooler. Sehabis rumah makan aku sukses tertidur. Dan yang ku ingat, bangun-bangun sudah masuk pool Tasikmalaya. Segera bergegas aku turun, sambil memperhatikan barang bawaan takut tertinggal. Saat kulihat jam, ah baru jam 3 ternyata. Kami pun akhirnya memilih beristirahat di pool Tasik ini sambil menunggu bus angkatan pertama menuju Jakarta paginya.


PO Budiman

  • Bisnis AC
  • 49 Seats (2-2)
  • Non Toilet
  • Start : 17:30 (Terminal Giwangan)
  • Control : 20:35 (Agen Purworejo)
  • Break : 22:05 (RM Taman Sari Rasa)
  • Finish : 2:30 (Pool Tasik)
  • Mercedes-Benz OH 1521 Intercooler
  • JetbusHD Karoseri Adiputro

Mencicipi bus tingkat Harapan Jaya, si kuda bongsor dengan segudang fasilitas.

[Bus Trip] Jakarta – Maospati

Di penghujung September 2017 kemarin. PO Harapan Jaya membuat gebrakan di belantika perbusan nasional dengan meluncurkan armada terbarunya yaitu 2 unit Double Decker (bus tingkat). Kabar awalnya memang kedua bus ini diperuntukkan untuk kelas reguler / AKAP.

Dan sekitar awal Desember, bus ini secara resmi melayani penumpang dengan rute Madiun – Poris PP. Bus yang ditopang oleh chassis mumpuni besutan Scania K410 ini, memiliki 3 kelas dalam satu armada. Di lantai bawah, ada kelas Eksekutif plus yang berjumlah 8 seat, dan kelas Sleeper berjumlah 2 buah. Di lantai atas sendiri ada kelas Super Luxury plus dengan konfigurasi seat 2-1 yang berjumlah 22 seat.

Harapan Jaya Double Decker

Selain kelas tersebut, banyak fasilitas lain yang tersedia, diantaranya free telpon (khusus ke nomor Indosat), fasilitas free streaming, kursi pijat, dan dispenser.

Konfigurasi seat 2-1

Coffe dan teh gratis

Daftar fasilitas Harapan Jaya Double Decker

Sleeper seat Class

Dispenser

Tentunya dengan fasilitas dan kelas yang mewah tersebut, banyak yang tertarik untuk menaikinya, termasuk aku.

Dan pada 16 Februari kemarin, akhirnya bisa berkesempatan menaiki si kuda tingkat ini. Sengaja memesan jauh-jauh hari demi mengamankan single hootseat lantai atas. Dengan mahar Rp 375.000 kita sudah bisa menaiki bus ini dengan segala fasilitasnya di kelas Super Luxury.

Double Decker Dengan 3 Kelas Berbeda

Dalam perjalanan kali ini, aku tidak melakukannya sendirian. Ada 2 kawanku yang juga berangkat naik bus Harapan Jaya ini tapi mereka naik dari Bekasi Timur dengan kelas berbeda. Dan kami berjanji akan bertemu di pool Maospati nantinya.

Jumat, 16 Februari 2018

Hari itu, selepas shalat Jumat. Aku menuju agen Poris untuk menebus tiketku. Tidak lama, pukul 13:20 bus diberangkatkan dari terminal Poris dengan jumlah penumpang kurang dari 10 orang. Tentunya masih akan bertambah lagi karena bus ini masih akan berhenti di agen-agen yang dilaluinya.

Sepanjang jalan, banyak orang yang memandang heran dan aneh pada bus ini. Mungkin masih baru-barunya sehingga banyak yang baru tau bus tingkat ini. Malah ada yang sempat curi-curi foto.

Pukul 14:45. Bus kami memasuki agen Grogol. Karena berhenti cukup lama disini, aku sempatkan turun dan membeli beberapa minuman ringan untuk menyegarkan badan, mengingat kondisiku sedang agak tidak enak badan saat itu.

Setelah 20 menitan berhenti, bus kembali diberangkatkan. Melalui tol dalam kota, bus tampak melenggang santai. Jalanan relatif lancar siang itu, hanya saja begitu melewati KM 14 lalu lintas mulai padat. Imbas proyek Cikampek lantai dua memang membuat siapapun yang lewat harus lebih bersabar.

Area 234 Cikarang menjadi agen terakhir yang disinggahi oleh bus ini. Rupanya hari ini penumpang rata bangku. Syukurlah, hari-hari libur memang selalu jadi momen yang tepat untuk mengais penumpang. Tak seperti hari biasa yang kadang satu penumpang pun sudah bersyukur.

Kukabarkan kawanku bahwa lalu lintas sore itu agak kusut. Rupanya mereka baru saja take off dari Bekasi Timur.

Kemacetan baru terurai di KM 142. Dari sini, bus kembali bisa melenggang bebas. Dikemudikan oleh Pak Dhe Gufron, bus melaju cepat namun tetap nyaman saat meng-overtake berbagai kendaraan didepannya. Terbukti memang, jam terbang serta pengalaman driver senior ini tak diragukan lagi.

Ketika sedang asik melaju diatas aspal Cipali, bus diarahkan ke kiri keluar pintu tol Kanci. Rupanya, bus menuju RM. Aroma Cirebon untuk servis makan.

Berbaris Bersama Harapan Jaya Lainnya

Ayam goreng, sayur bihun, tumis tempe dan sup jadi menu makan malamku saat itu. Oh ya, karena tidak doyan ayam, sang pelayan ternyata menawariku telur bulat, kenapa tidak. Sungguh pelayan yang pengertian.

Seperti biasa, 30 menit menjadi waktu yang diberikan kepada para penumpang untuk memanfaatkan waktu servis makan ini. Entah itu untuk ibadah maupun sekedar ke kamar mandi.

Pukul 21:50, bus bertolak dari RM. Aroma. Bukannya melewati jalur Pantura Cirebon, bus malah digiring kembali masuk tol Kanci. Dan pukul , barulah bus keluar tol Brebes Timur untuk kemudian kembali berdansa di tanah Pantura. Kali ini roda kemudi dipegang oleh mas Suryo, driver tengah.

Ada beberapa bus Soloan maupun Wonogirian yang searah dengan kami malam itu. Sebut saja macam Raya, Rosalia, Gunung Harta, dan teman sendiri sesama Harapan Jaya.

Jujur, selama perjalanan aku lebih banyak menikmati fasilitas yang ada di bus ini, dibanding mengamati jalan. Dan hal itu cukup membuatku tak ingin beranjak dari kursi sendiri, walau sebenarnya ingin sekali berkeliling ke setiap sudut bus ini.

Sabtu, 17 Februari 2018

Menjelang subuh, sekitar pukul 4:38 pagi. Hawa ruangan yang dingin membangunkan tidurku. Sinar fajar masih malu-malu mengintip di ufuk timur. Sudah masuk Salatiga rupanya.

Kukabarkan kawanku bahwa sebentar lagi akan masuk Tirtonadi, Solo. “Oke siap, masih di Tembalang nih” balasnya dari ujung sana.

Entah bangku keberapa dibelakangku, penumpang nya nampak turun ketika bus memasuki pelataran terminal Tirtonadi. Penumpang pertama yang turun dari bus ini. Ingin rasanya mencicipi kursi pijat dibelakang, tapi ada penghuni tetap yang tak kunjung beranjak dari sana. Niatku kuurungkan.

Hari makin terang, selepas Karanganyar. Hawa pagi hiruk pikuk masyarakat desa nampak syahdu dipandang. Membuat rindu.

Satu persatu penumpang mulai turun. Menyisakan kursi kosong yang masih berantakan. Aku turun ke bawah, mencoba rasanya duduk di kelas Eksekutif plus. Tak apa meski turun kelas, nyamannya masih sama.

Tak lama, perhentian berikutnya tiba. RM. Duta Ngawi, tempat servis makan pagi. Pukul 6:48 waktu itu. Efek kemacetan semalam, membuat beberapa bus Harapan Jaya lain juga kesiangan masuk sini.

Telat Masuk RM Duta 2

Salah satu enaknya naik Harapan Jaya dari barat, terutama kelas VIP keatas. Bisa dapat makan 2x. Meski tidak adanya Snack namun fasilitas dari bus sendiri sudah cukup bagiku. Tidak demikian bila kita melakukan perjalanan dari arah timur, makan pagi justru ditiadakan dan diganti snack kotak, ya cukuplah untuk mengganjal perut.

Di RM. Duta ini sistemnya kita bisa memilih menu yang disediakan. Bukan lagi perasmanan seperti biasa. Dan yang paling dijagokan banyak orang ketika kesini adalah rawonnya.

Sekitar pukul 7:25, bus kembali diberangkatkan. Beberapa penumpang mulai turun. Menyisakan 2 penumpang di dek atas, aku salah satunya.

“Sampeyan turun pool ya mas?”

“Iya mas”

“Cuma main doang kan?, Ikut muter dulu ya ke Magetan”

“Oh iya mas gapapa, santai ko”

Begitulah ajakan mas Agus selaku kru kepadaku. Kenapa tidak? toh bisa lebih lama di bus ini.

Drop terakhir di terminal Magetan

Pukul 8:13 di terminal Magetan. Menjadi tempat perhentian terakhir bagi para penumpang untuk turun. Bus pun langsung putar kepala kembali ke pool Maospati. Menyisakan aku, satu-satunya penumpang yang belum turun. Dengan kondisi bus yang kosong, menjadi kesempatanku untuk menjelajah setiap sudutnya.

Dan akhirnya, pukul 9:05. Aku tiba di pool Maospati, tempat perhentian terakhirku. Langsung bertemu kedua temanku yang sudah menunggu.

Terimakasih Harapan Jaya, sang kuda yang sampai saat ini belum pernah membuatku patah hati.


Harapan Jaya

  • Jakarta – Madiun
  • Bus 37 “AG 7312 US”
  • Super Luxury Class
  • Single Seat 1 A
  • 22 Seat (2-1) with Smoking room
  • IDR 375k
  • Start : 13:20 (Poris)
  • Break 1 : 21:19 (RM Aroma Cirebon)
  • Break 2 : 6:48 (RM Duta Ngawi)
  • Finish : 9:05 (Pool Maospati)
  • Scania K410iB
  • JetbusSDD (Double Decker) Karoseri Adiputro

Melesat bersama GMS Commando

[Bus Trip] Solo – Kartosuro – Jakarta

Minggu, 31 Desember 2017

Pagi itu di penginapan, kami berunding untuk memutuskan armada apa yang akan kami naiki untuk pulang ke Jakarta. Sebelumnya kami berniat menuju ke Ngawi (terminal Kertonegoro) selepas dari Solo ini. Namun karena trouble yang menimpaku semalam rencana itupun batal. Biar cari aman dan bisa beristirahat lebih lama karena aku kurang tidur semalam, kami memilih kembali ke Jakarta dari terminal Tirtonadi saja. Karena belum mendapatkan tiket balik, kami langsung mencoba menuju agen bus terminal Tirtonadi berharap masih mendapat kursi untuk pulang.

Hasilnya, kami tidak mendapat satu tiketpun untuk pulang. Musim libur panjang seperti ini memang sulit mendapat tiket dadakan, tapi ini sudah komitmen kami sejak awal berangkat untuk memilih Go Show daripada harus booking. Biar lebih terasa tantangannya.

Setelah hasil di terminal Tirtonadi nihil, tujuan kami berganti menuju terminal Kartosuro. Terminal yang masih didalam wilayah karesidenan Solo dan tidak begitu jauh dari Tirtonadi. Pilihan armada yang masuk ke terminal ini lebih banyak berharap ada tiket yang kami dapat disini. Pukul 11:30 kami bersiap-siap mengemasi barang dan check out.

Menuju terminal Tirtonadi.

Untuk menuju ke terminal Kartosuro kami naik patas Royal Safari arah Semarang dari Tirtonadi. Lalu turun di pertigaan pasar Kartosuro dan dilanjut TransSolo dari sana. Cukup sejam saja waktu tempuh Tirtonadi – Kartosuro.

Menuju terminal Kartosuro menggunakan patas Safari.

Sesampainya di terminal Kartosuro, kami langsung menuju agen mba Desi. Agen ini tentu sudah tidak asing bagi para mania. Setelah bernegosiasi, akhirnya kami dapat 4 tiket untuk pulang ke Jakarta menggunakan bus GMS (Gajah Mulia Sejahtera) dengan kelas eksekutif. Satu teman kami sebelumnya sudah memesan tiket Putera Mulya duluan, mumet katanya cari tiket lagi jadi yang ada saja dinaiki, sayang pilihanya membuat ia kembali berjodoh dengan RK. Sedangkan satunya memilih untuk stay di Solo dan entah naik apa untuk pulang ke Jakarta.

Harga tiket GMS dari Kartosuro untuk kelas eksekutif ini Rp 245.000, beruntungnya berkat bantuan teman kami yang merupakan orang dalam kami dioper ke kelas Super Eksekutif tanpa nambah biaya, rejeki memang.

Sembari menunggu kedatangan bus, kami sempatkan hunting dan mencicipi sate khas Kartosuro. Di terminal ini memang banyak sekali tukang sate berjualan.

Armada yang kami naiki.

Pukul 15:30 armada kami pun datang. Berbody Scorpion King dengan chassis OH1526 berjuluk “Commando”. Kami langsung naik begitu bus datang, dan tidak lama kemudian bus diberangkatkan. Menempati kursi paling belakang dekat toilet bukan masalah sepertinya, jarak kaki yang luas masih sangat nyaman buat kami, maklum hanya 26 seat.

Seat belakang club.

Lepas Kartosuro, armada kami berhenti di sebuah SPBU untuk ganti alternator. Cukup lama, hampir sejam berhenti disini.

Setelah urusan alternator selesai, bus kembali diberangkatkan. Mengambil penumpang di agen Boyolali dan Salatiga, ternyata kami bertemu dengan Harapan Jaya DD (Double Decker). Armada yang hits saat itu.

Aku sempat tertidur selepas Salatiga, dan bangun-bangun sudah di Kendal. Aksi driver yang mosak-masiklah yang membuatku terbangun. Aksi surung DD Putra Mulya jadi tontonan yang sayang untuk dilewatkan. Armada muriaan seperti Hariyanto pun ikut ambil bagian. Sang driver DD Putera Mulya rupanya tau ada rombongan kami dibelakang, setelah sebelumnya di Kartosuro kami memang bertemu. Sayang aksi ini harus terhenti ketika bus kami masuk RM. Sendang Wungu untuk servis makan. Bersama beberapa armada GMS lain dan Pahala Kencana.

“piye ?, banter ora ?” sang driver langsung melemparkan percakapan ketika melihat kami turun. Wah, ulah teman kami orang GMS itu pasti. Sang driver menyuruh kami untuk duduk di kursi tengah saja, karena kosong tidak ada penumpangnya.

Menu service makan Sendang Wungu.

Pukul 20:15 bus kembali diberangkatkan dari rumah makan. Kali ini gantian driver tengah yang bertugas dibalik kemudi. Pembawaan yang tidak sebanter tadi, membuat kami meilih tidur saja. Tak banyak yang kuceritakan setelah itu, yang kuingat saat itu pukul 2:10 kami mampir ke pool GMS di Cikarang untuk berganti armada/transit. Ternyata disini kami bertemu teman kami orang GMS itu, kami pun mengobrol sebentar sembari menunggu armada selanjutnya. Karena tujuan kami Kp. Rambutan, kami ternyata diikutkan ke bus semula yang rute terakhirnya Ciawi.

Setelah pamitan, kami naik kembali ke dalam bus dan pukul 2:30 bus diberangkatkan. Pukul 3:00, ketiga teman kami turun ketika bus sampai di Kp. Rambutan, sedangkan aku memilih tetap ikut sampai Citeureup karena kendaraanku ada disana. Dan akhirnya, pukul 3:20 sampai di pintu tol Citeureup, aku pun turun dan tak lupa berterima kasih kepada driver dan kru yang bertugas selama perjalanan.

====================================

Solo – Kartosuro

  • (Term. Tirtonadi – Ps. Kartosuro)
  • Safari Lux
  • Patas AC (2-2)
  • Tarif : Rp. 10.000
  • Discovery Karoseri Laksana
  • Hino AK Ranger
  • (Ps. Kartosuro – Term. Kartosuro)
  • Trans Solo
  • AC (2-2)
  • Tarif : Rp. 7.500
  • Titan Karoseri Trisakti
  • Hino RK8

Kartosuro – Jakarta

  • GMS (Gajah Mulia Sejahtera)
  • AD “Commando”
  • Super Executive Class
  • 24 Seats (2-2) with leegrest
  • Toilet + Front Smooking Room
  • Start : 15:44 (Term. Kartosuro)
  • Trouble : 16:10 (SPBU ~)
  • Service : 19:40 (RM. Sendang Wungu)
  • Transit : 2:10 (Pool Cikarang)
  • Finish : 3:20 (Citeureup)
  • Tarif : Rp. 280.000
  • ScorpionKing Karoseri Tentrem
  • Mercedes-Benz OH 1525 Suspension

Tour D’League Soloensis

[Bus Trip] Bogor – Semarang – Solo

Sabtu, 30 Desember 2017

Libur panjang akhir tahun biasa dimanfaatkan sebagian orang untuk berlibur ataupun berkumpul bersama keluarga. Tapi bagiku ini merupakan momen yang tepat untuk melakukan ritual touring. Bersamaan dengan itu juga, godaan dari kawanku membuat tidak bisa untuk menolak ajakannya. Tapi rasanya kurang menantang jika hanya melakukan touring seperti biasa. Oke, sepertinya liga lebih menantang. Kami ajak beberapa orang teman kami yang mau, total ada 6 orang waktu itu yg ikut.

Sistem permainan liga ini adalah kami berangkat menuju satu tujuan yang sama dengan menggunakan bus berbeda yang memiliki jarak waktu berangkat antar bus tidak begitu jauh, bus apa yang akan dinaiki didapat dari hasil kocokan. Kami sepakat berangkat pada tanggal 30 desember dengan tujuan yang sama yaitu terminal Tirtonadi Solo. Dengan jumlah peserta 6 orang, kami mengumpulkan beberapa bus yang menuju Solo dengan keberangkatan siang hari. Didapatlah 8 PO yaitu :
– Haryanto (HR)
– Gunung Harta (GH)
– Rosalia Indah (Rosin)
– Sindoro Satriamas (SSM)
– AgraMas (Agra)
– Harapan Jaya (Harjay)
– Agam Tungga Jaya (ATJ)
– Putera Mulya (Pumas). Hasil dari kocokan ini membuat HR dan SSM tidak mendapat pemilih, sedangkan aku kembali berjodoh dengan si hijau dari Bali, yaitu Gunung Harta.

Sebulan menjelang hari H. Beberapa dari kami sudah mulai melancarkan transaksi dengan para konter agen, berharap bisa dapat kursi terdepan. Aku justru tau diri, memilih kursi terdepan armada GH bukan pilihan yang bagus. Apalagi jika naik armada Blitaran yang notabene berbalut chassis premium dan sudah tersedia AVOD di setiap kursi, maka kursi baris kedua sampai belakang adalah pilihan terbaik.

Seminggu sebelum hari H. Masing-masing dari kami sudah mendapat armada incaran. Agra DD 2542 BM 89, ATJ RK Evolution, Rosin Supertop 102 Scania K360, Pumas DD05 Scania K410, Harjay Super Luxury, dan aku sendiri GH 007 SHD Scania K360 yang merupakan armada Blitar dengan nomor bangku 3D.

Pada hari H. Dengan menggunakan ojek aku berangkat dari kantorku di Citeureup menuju agen di flyover Cibinong. Setibanya di agen, aku langsung melunasi tiket yang baru ku DP kemarin. Ditiket tertera jam keberangkatan pukul 12:30 tapi bus belum datang, maka aku sempatkan membeli makan siang untuk bekal di jalan. Pukul 12:50 datang juga bus yang kunaiki. GH SHD berchassis Scania K360 merupakan ex GH 85 yang kini berganti nomor menjadi GHTS 007.

Driver pinggir yang bertugas kali ini belakangan kutahu bernama mas Kadek Dharma. Dari Cibinong ini hanya menaikan 5 penumpang saja termasuk aku, dengan format penumpang baris kanan. Bus kemudian menyusuri jalur Jl. Raya Bogor, berhenti pada beberapa agen resmi seperti Simpangan, Pall, dan Cijago. Selepas agen Cijago bus diarahkan masuk toll Cisalak lalu keluar untuk menjemput penumpang di terminal Kp. Rambutan.

Memasuki terminal Kp. Rambutan.

Pukul 15:20 setelah penumpang di terminal Kp. Rambutan terangkut semua, bus kembali diberangkatkan. Memutar di jalan baru Ps.Rebo lalu masuk tol melalui pintu tol Bambu Apus. Aku lebih banyak fokus mendengarkan musik lewat AVOD yang tersedia di bus ini. Benar-benar hiburan yang cocok menemani sepanjang perjalanan.

Tersedianya AVOD menjadi hiburan tambahan selama perjalanan.

Dengan antusiasme tinggi kami saling berkabar di WA, melaporkan posisinya masing-masing. ATJ berangkat pertama tapi mampir banyak agen jadi kesalip Harjay, sementara ROSIN transit dulu unit nya berubah kode, eh Harjay kelamaan nunggu penumpang di agen kesalip lagi sama ROSIN. Sedangkan AGRA dan PUMAS ribut berdua aja, maklum dapet angkatan jam yang sama. Posisi satu sampai empat lumayan jauh sela nya.

Sambil ngeledek dan laporan via WA, pasukan jones tampak antusias padahal biasanya masuk bis langsung molor. Pukul 16:50 armadaku masuk Taman Sari pertanda service makan. Sementara Harjay, Rosin, dan ATJ hujan-hujanan di cipali. Harjay masih memimpin di depan sampai istirahat makan di Aroma, Cirebon. ROSIN istirahat makan di Markoni, Subang. Dan ATJ istirahat makan di Brawijaya. Dua dede gemes melapor baru berangkat dari barat.

Service makan di Taman Sari.

Pukul 18.00, unit kembali melangkah sembari laporan posisi, Harjay melewati Klampok dan ternyata ROSIN sudah keluar Brebes Timur, ATJ masih tertahan di Brawijaya. ROSIN memimpin di depan hingga Sari Rasa, Harjay masuk Sari Rasa hanya kontrol 5 menit dan meninggalkan ROSIN yang tertahan, lalu ATJ masuk menemani ROSIN disana. Harjay ngacir hingga Kaliwungu, ROSIN keluar Sari Rasa meninggalkan ATJ yang masih bertahan. Sedangkan armadaku baru keluar Brebes Timur pukul 19:00.

Keluar Brebes Timur

AGRA dan PUMAS sengit laporan kondisi mereka berdua, sambil memantau 4 armada di depan. Harjay terpantau masuk Tol Semarang – Salatiga, ROSIN sepertinya tak mau kalah dengan laporan hanya berjarak 15 menit dari posisi Harjay, ATJ masih terlihat nyaman di belakang ROSIN. Keluar Tol Salatiga, Harjay masuk Terminal Tingkir, sepertinya akan menjadi yang pertama menginjakan kaki di terminal Tirtonadi. Ketika Harjay memasuki kawasan Ampel Boyolali, posisi masih tidak berubah dan ROSIN tampak di buntuti oleh ATJ, kemudian hal itupun terjadi, ROSIN masuk Tingkir sedangkan ATJ menyalip ROSIN yang sudah bertahan di posisi 2 cukup lama dan turun ke posisi 3.

Sementara 3 armada di depan sudah mendekati finish. Aku masih tertahan di Semarang, tepatnya depan terminal Mangkang. Hal yang tidak diinginkan sebelumnya terjadi. Armadaku tidak mau maju, padahal mesin masih normal menyala. Setelah ditilik lebih lanjut ternyata ada masalah pada gear box (roda gigi). Huahua, menurut pengakuan kru seminggu yang lalu baru saja service padahal di UT Malang.

Terouble di Semarang.

Aku pasrah saja menunggu perbaikan, barharap bantuan segera datang dan bisa finish di Tirtonadi sesegera mungkin. Sambil mengamati laporan WA, ketiga armada didepan ternyata sudah finish, sambil meledek dari atas kasur empuk. Rupanya sudah bersantai di hotel Tirtonadi Permai.

Semakin pagi armadaku belum juga sembuh, sementara Agra dan PUMAS melambaikan tangan dan meninggalkanku. Posisi buncit sepertinya berpihak kepadakau. Padahal sejak awal perjalanan optimis masuk jajaran 3 besar. Demi menghibur para penumpang yang terlantar, kru mentraktir kami semua di angkringan dalam terminal Mangkang.

Istirahat sejenak di angkringan.

Dengan demikian, Harjay tanpa diduga meraih posisi ke 1 tiba di Tirtonadi, dengan perbedaan 10 menit ATJ meraih posisi ke 2, di ikuti ROSIN di posisi ke 3. Hal yang cukup mengejutkan karena prediksi awal, ATJ akan memimpin di depan dan meraih posisi pertama. AGRA dan PUMAS masing-masing menmpati posisi ke 4 dan 5.

Masih menunggu perbaikan.

Ba’da Subuh, kabar baik datang. Para penumpang tujuan Solo dioper ke Patas Shantika. Mungkin karena jaraknya yang masih bisa dijangkau. Penumpang pun tidak dipungut biaya, semua dibayari kru selama menunjukan tiket penumpang GH. Sedangkan penumpang yang masih di GH harus rela menunggu armada bantuan dari Blitar untuk menjemput mereka.

Di oper Patas menuju Solo.

Setelah menempuh 2 jam perjalanan, sampai juga aku di terminal Tirtonadi dan langsung menuju hotel mereka dan melanjutkan tidur. Sambil mengatur strategi armada apa yang akan kami naiki untuk kembali ke Jakarta.

Akhirnya finish juga.

====================================

Bogor – Semarang

  • PO Gunung Harta
  • Bogor – Solo – Blitar
  • GHTS-007
  • Executive Class
  • 32 Seats (2-2) with AVOD
  • Toilet + Smooking Room
  • Start : 12:50 (Cibinong)
  • Service : 17:00 (RM Taman Sari)
  • Break : 23:00 (SPBU Kendal)
  • Trouble : 23:50 (Term. Mangkang)
  • Tarif : Rp 280.000 (Free meal + snack)
  • JetbusSHD Karoseri Adiputro
  • Scania K360iB

Semarang – Solo

  • PO. Shantika
  • Patas AC
  • Seats 2-2
  • Start : 5:35 (Term. Mangkang)
  • Finish : 8:05 (Term. Tirtonadi)
  • Nucleus3 Karoseri Laksana
  • Hino RK